Sabtu, 02 Juni 2018

Sidat Dan Prospeknya Di Indonesia

SIDAT DAN PROSPEKNYA DI INDONESIA

PENDAHULUAN
Ikan sidat atau “moa”, ada juga yang menamakan “pelus” untuk ukuran yang besar, merupakan salah satu jenis ikan yang populer, baik di Eropa, Amerika, maupun Asia. Sidat tinggal di perairan tawar hingga 6-20 tahun, dan begitu mau memijah kembali ke laut; dalam perjalanan kembali ke laut itu mereka tidak makan.
Ikan ini pun mati setelah menunaikan tugasnya menurunkan generasinya (memijah).  Di Jepang ikan ini sangat populer dengan sebutan “unagi” dan umumnya disajikan dalam bentuk panggang (grilled eel fillet). “Unadon” adalah salah satu makanan termahal di dunia yang terbuat dari sidat). 
Ikan ini mempunyai beberapa keistimewaan antara lain :
1.    Mempunyai kandungan zat gizi yang tinggi terutama vitamin A
2.    Rasanya sangat lezat
3.    Berkalori tinggi (303.100 kcal/gram) dan
4.    Merupakan sumber energi yang besar (di negara-negara tertentu diyakini sebagai sumber energi yang sangat diperlukan pada musim-musim dingin). 
Banyaknya keunggulan dari ikan sidat sebagai sumber gizi membuat ikan ini sangat diminati di Jepang, Eropa, Amerika, Korea dan Taiwan. Jenis masakan sidat yang paling poluler di Jepang adalah “unadon”. Unadon berasal dari kata unagi no kabayaki (ikan sidat panggang atau smoked eel) dan donburi (yaitu nasi dan berbagai menu yang diasjikan dalam mangkok besar). Boleh dicoba – dan kita akan menikmati setiap gigitan menu ini.
Kalau di Indonesia kemana kita pergi akan ketemu sate, maka bila di Jepang kita akan ketemu sidat panggang yang sanagat harum menusuk hidung dan membangkitkan selera kita.   Pasar sidat meliputi pasar domestik dan internasional, namun suplainya masih sangat terbatas, sehingga harga ikan ini cukup tinggi terutama untuk ukuran benih (elver maupun fingerling). Selama ini tujuan ekspor utama adalah Jepang, tetapi juga merupakan penghasil sidat dunia. Permintaan sidat negara itu mencapai 130.000 ton per tahun, sementara produksinya baru 21.800 ton atau baru 16,8%. Jumlah produksi tersebut sebagian besar dari hasil budidaya yaitu 21.000 ton (96,3%).
                        Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya di Jepang maupun negara-negara lain adalah semakin menurunnya suplai benih. Beberapa sebab menurunnya suplai benih antara lain adalah karena penangkapan glass eel yang tak terkendali, dan semakin rendahnya jumlah sidat dewasa yang mampu kembali ke laut untuk memijah.  Penangkapan yang tak terkendali di hampir semua negara berlangsung sudah sejak lama, dimana glass eel biasa ditangkap untuk makanan yang lezat. Kegiatan ini kemudian dilarang di Eropa, dan di Indonsesia berhenti setelah mereka mengetahui bahwa harga glass eel ini sangat mahal.  Semakin rendahnya ikan dewasa yang mampu kembali ke laut disebabkan oleh semakin intensifnya penangkapan glass eel, banyaknya penghalang yang menghadang glass eel / elver naik ke hulu (antara lain bangunan-bangunan pengatur irigasi), dan belum berhasilnya produksi benih dari budidaya.  
Berbeda dengan di Indonesia, sebagian daerah potensial sidat seperti Sumatera, Sulawesi, dll. belum dimanfaatkan secara optimal, kecuali di Selatan Pulau Jawa. Demikian pula budidaya ikan ini belum sepenuhnya diusahakan secara maksimal.  Usaha budidaya sidat secara super intensif yang dulu pernah dilakukan menjadikan harga pokoknya cukup tinggi, sedang harga ekspor kadang turun bergantung musim panen di negara importir.  
Dengan semakin menurunnya suplai benih, semakin mahal harga sidat baik benih maupun ukuran konsumsi. Harga sidat ukuran konsumsi secara bertahap terus meningkat; di pasaran lokal dari harga per kilogram Rp.50.000 beberapa tahun lalu kini meningkat hingga Rp.80.000. Jepang bahkan memberikan harga yang jauh lebih tinggi khususnya untuk sidat budidaya yang dikemas hingga kualitas produk memenuhi persyaratan mereka.  Untuk harga glass eel khususnya merangkak cepat dari per kg Rp.5.000 pada tahun delapan puluhan, akhir-akhir ini menjadi Rp.400.000-500.000. Tingginya harga glass eel di luar negeri bahkan menyebabkan ekspor elver sidat secara diam-diam dan ini merupakan suatu hal yang sangat tidak bijaksana. Pengembangan budidaya dengan demikian merupakan peluang baik bagi masyarakat, yang perlu didukung oleh pemerintah. 
Teknologi madya yang telah ditemukan pada tahun-tahun tujuh puluhan oleh pengusaha swasta dan kemudian akhirakhir ini  dimulai oleh Balai Layanan Usaha Produksi Budidaya Karawang (dulu PT. Pandu TIR) salah satu UPT Ditjen Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan) di Karawang, membuka wawasan baru menggeliatnya minat usaha sidat di Indonesia.  
A. MENGENAL SIDAT
1.1 Klasifikasi menurut Djajadireja (1952), mengklasifikasikan sidat dalam tata nama sebagai berikut :
Filum  : Chordata
Sub Filum : Euchordata
Kelas  : Osteichthyes
Subkelas : Actinoptrygii
Infrakelas : Teleostei
Superordo : Elomorpha
Ordo  : Anguiliformes
Famili  : Anguilidae
Genus  : Anguilla
Species : Anguilla spp. 
1..2  Morfologi dan Anatomi
Selintas sidat mirip dengan belut. Tubuhnya bulat dan panjang, warnanya juga sama yaitu kuning, abu-abu, cokelat, dan terkadang hitam. Namun bila diperhatikan, ikan ini berbeda dengan belut, yaitu adanya sirip dada (pectoral fin) di belakang kepalanya (meski ada beberapa jenis tidak memiliki sirip ini); sirip punggung (dorsal fin) dan sirip duburnya (anal fin) langsung menyatu hingga sisrip ekor (caudal fin) membentuk suatu pita lembut. Sidat memiliki bentuk tubuh bulat memanjang. Memiliki kepala, perut, dan ekor. Tubuhnya memanjang dengan perbandingan  panjang dan tinggi 20 : 1.
Bentuk dan sirip (kiri), dan mulut (kanan). antara Kepala sidat berbentuk segitiga, memiliki mata, hidung, mulut, dan tutup insang. Mata sidat tidak tahan terhadap sinar matahari karena sidat termasuk binatang malam (nocturnal). Oleh sebab itu, tempat pemeliharaan sidat, terutama pada tahap pendederan, harus diberi peneduh berwarna hitam. Mulut sidat berfungsi untuk mengambil makanan. Mulut sidat  membelah hampir di sepanjang bagian kepala. Hidung sidat sangat kecil, berfungsi untuk alat penciuman. Tutup insang berada di bagian bawah kepala atau di depan sirip dada. Sebagian besar spesies ikan ini nokturnal (aktif di malam hari), hingga kita jarang melihatnya di alam; hanya kadang kita melihatnaya di lubang-lubang atau di tempat khusus yang kadang dikeramatkan orang. 
Sebagian species hidup di perairan lebih dalan di paparan benua dan diderah dengan kedalaman hingga 4.000 m. Hanya yang termasuk dalam famili Aguilidae yang secara teratur mendiami perairan tawar namun juga kembali ke laut untuk memijah. Di Indonesia sendiri ada tujuh jenis dari total 18 jenis di dunia.  Dari tujuh jenis itu, dapat digolongkan menjadi dua yaitu yang bersirip dorsal pendek dan yang bersirip dorsal panjang.  Yang bersirip dorsal pendek adalah Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor  Pacifica.  Sedang yang bersirip dorsal panjang adalah Anguilla borneoensis , Anguillamarmorata ,    Anguilla celebesensis , Anguilla megastoma dan Anguilla interioris . 
Prospek Budidaya Sidat di Indonesia
Di Indonesia prospek budidaya sidat masih luas, hal ini karena sumberdaya alam Indonesia sangat mendukung, yaitu :
1.    Indonesia beriklim tropis, hujan dan kemarau  sangat baik bagi kehidupan sidat.
2.    Indonesia memiliki sumber benih yang sangat melimpah.
3.    Teknologi budidaya sidat sudah mulai dikuasai dan relafit mudah.
4.    Pembudidaya sidat masih sangat sedikit, sehingga usaha sidat ini masih terbuka lebar.  
Usaha komoditas sidat yang ada di Indonesia selama ini ada tiga segmen, yaitu penangkapan, pendederan, dan pembesaran, disamping usaha perdagangan terutama ekspor.  

DAFTAR PUSTAKA
Sasongko, A., Joko Purwanto, Siti Mu’minah, Usni Arie.  2007. SIDAT.  Panduan Agribisnis, Penangkapan, Pendederan, dan Pembesaran. 
Boyd, C.E.  1982.  WATER QUALITY MANAGEMENT FOR POND CULTURE.  Elsevier Scientific Publishing Company. Amsterdam – Oxford - NY. 318 hal.
Wheaton, F.W.  1977.  AQUACULTURAL ENGINEERING.  A Wiley and Interscience Publications, John Wiley & Sons. NY – Chichester – Brisbane – Toronto.  108 hal.
Haeru, Tb. R.  2007.  HAMA DAN PENYAKIT IKAN; Pengenalan Penyakit Infeksi dan Non Infeksi, Teknik Pengambilan Sample, Teknik Pencegahan dan Pengobatan.  Modul Pelatihan Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan, Kegiatan Pendampingan pad Kelompok Pembudidaya Tangerang. Jakarta 2007.
www.freshmarine.com. 18/11/2011. Treating Fish wiith Swollen Abdomen.

www.wikipedia.com. Whitty, J.  2011. The Great Eel Question.
EspaňolFranҫais. 19/11/2911. Cultured Aquatic Species Information Programme.  FAO Fiheries and Aquaculture. 
Pondoc General.  20/11/2011.  FIN ROT.  How to Recognize, Treat and Prevent in Your Koi or Goldfish Pond.

Jumat, 18 Mei 2018

Vaksin Ikan untuk Kesehatan Ikan

Vaksinasi Ikan Untuk Kesehatan Ikan



Penggunaan obat dan antibiotika efektif dalam pengobatan penyakit prasitik dan bakterial. Namun, penggunaan antibiotika saat ini menimbulkan masalah, antara lain resistensi bakteri, residu antibiotika pada ikan untuk keamanan pangan, dan residu antibiotika di perairan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Tak heran jika beberapa produk perikanan di Indonesia ditolak di pasar Uni Eropa karena adanya residu antibiotik.
Cara paling murah dan efisien dalam pengendalian penyakit adalah dengan pencegahan. Mencegah timbulnya penyakit dapat dengan pengelolaan lingkungan, penggunaan pakan yang bermutu, serta tepat jumlah dan tepat pemberiannya. Salah satu cara pencegahan yang sekarang sudah mulai diaplikasikan adalah dengan vaksinasi. Tujuannya adalah untuk memperoleh ketahanan terhadap suatu infeksi tertentu sehinga diperoleh sintasan hidup yang tinggi akibat proteksi imunologik.
Seperti yang pernah disampaikan Alm. Prof. Kamiso H. N, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM. Menurutnya, Indonesia sedang melakukan revolusi di bidang perikanan budidaya, antara lain pemuliaan, vaksinasi, pengembangan pakan murah, dan berbagai teknik budidaya. Namun, apapun yang dilakukan, ada masalah yang relatif penting dan tidak dapat ditinggalkan, yaitu pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan.
Kamiso menyebutkan, dengan semakin cepat gerakan ekstensifikasi dan intensifikasi, risiko timbulnya penyakit ikan semakin besar. Apalagi penyakit ikan saat ini menjadi salah satu persyaratan sangat penting dalam pemasaran produk perikanan, terutama ekspor. Untuk itu, perlu teknologi pengelolaan kesehatan ikan yang menjamin daya tahan dan kenyamanan ikan serta keamanan pangan bagi konsumen.
Vaksinasi termasuk salah satu yang memenuhi persyaratan untuk hal tersebut. Alasannya, ujar Kamiso, antara lain karena tidak menimbulkan residu dalam daging ikan serta tidak menyebabkan resistensi patogen sasaran yang dikendalikan atau bukan sasaran. Selain meningkatkan daya tahan ikan, vaksin juga dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan memperbaiki konversi pakan (FCR). Vaksin dapat diberikan untuk semua ukuran ikan, baik benih, pembesaran, calon induk, dan induk. Tidak kalah pentingnya, vaksin dapat menggantikan antibiotik.
Vaksinasi adalah proses menginduksi imunitas adaptif yang bersifat spesifik, yaitu terbentuknya antibodi sebelum ikan terserang patogen sehingga berfungsi sebagai pencegahan. Berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam vaksinasi.
  1. Ikan yang divaksin adalah ikan sehat dan tidak mengandung patogen yang akan dicegah. Akan lebih baik jika benih ikan Specific Pathogen Free (SPF).
  2. Umur cukup agar organ tubuh yang memproduksi antibodi lengkap dan siap.
  3. Setiap ukuran, baik benih, konsumsi, calon induk, serta induk memerluka dosis dan metode vaksinasi berbeda.
  4. Suhu air sangat berpengaruh terhadap kecepatan proses produksi antibodi dan tingkat perlindungan ikan yang divaksin. Jika suhu air penampungan sebelum dan setelah vaksinasi rendah, proses produksi antibodi lambat dan tingkat perlindungannya lebih rendah dibandingkan ketika berada pada suhu optimal.
  5. Setiap metode vaksinasi mempunyai kelebihan dan kelemahan, baik ditinjau dari kepraktisan dan efektivitas.
  6. Dosis vaksin optimal perlu ditentukan untuk setiap jenis, umur ikan, dan metode vaksinasi.
  7. Jenis patogen mempengaruhi jenis dan bentuk vaksin, monovalen, polivalen atau koktail, cair atau freeze dryer, serta umur kadaluwarsa.
  8. Jenis ikan meliputi ikan laut atau ikan air tawar. Ikan laut minum sehingga metode rendaman cukup efektif. Ikan air tawar tidak minum oleh sebab itu metode rendaman relatif kurang efektif dibandingkan ikan laut. Adapun 3 cara aplikasi vaksin pada ikan melalui perendaman, pakan, dan suntikan.
  9. Meskipun sudah divaksin, cara budidaya ikan sehat, terutama sistem atau pola budidaya sehat perlu diterapkan. Kesehatan ikan saja belum cukup sehingga diperlukan kesehatan lingkungan, terutama kualitas air yang baik dan biosekuriti.
  10. Buster dan vaksinasi ulang perlu dilakukan untuk meningkatkan dan memperpanjang daya tahan. Vaksinasi ulang diperlukan apabila waktu pemeliharaan ikan lebih dari tiga bulan.
  11. Perlu diperhatikan petunjuk penggunaan, penyimpanan, dan waktu kadaluwarsa pada label dan leaflet. Monitoring kualitas air dan kesehatan ikan perlu dilakukan secara periodik.
  12. Evaluasi efektivitas vaksinasi, antara lain titer antibodi, pertahanan seluler, laju sintasan (SR), pertumbuhan ikan yang meliputi berat dan panjang, produksi, FCR, dan analisis ekonomi.
Metode pemberian vaksinasi pada ikan secara umum meliputi beberapa cara, yaitu oral bersama pakan, rendam, dan injeksi IP
Yuniar Mulyani, SP., M.Si., Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran membenarkan. Menurutnya, metode penyuntikan memang paling efektif dibandingkan dengan metode lainnya, tetapi ukuran ikan harus agak besar. Sementara itu, metode perendaman (immersion) dilakukan dengan jumlah vaksin yang cukup banyak, tetapi dapat diaplikasikan pada ikan dengan berbagai ukuran. Sementara metode melalui pakan bisa menghindarkan ikan dari stres karena perlakuan vaksin. Vaksin disemprotkan pada pakan, dikering-anginkan, lalu baru bisa diberikan pada ikan.
Salah satu penghambat dalam budidaya perikanan adalah penyakit yang menyrang ikan. Cara penangan ikan yang sakit (atau pengendalian penyakit) bias dengan pencegahan maupun pengobatan.
                Obat dan antibiotika efektif dalam pengobatan penyakit prasitik dan bacterial, tetapi antibiotika menimbulkan masalah, antara lain resistensi bakteri, residu antibiotika di ikan (untuk keamanan pangan) dan residu antibiotika di perairan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itulah beberapa produk oerikanan di Indonesia di tolak di apsar Uni Eropa karena  terdapat residu antibiotik.
Cara yang paling murah dan efisien dlam pengendalian penyakit adlah dengan pencegahan. Mencegah timbulnya penyakit dapat dengan pengelolahna lingkungan, penggunaaan makan yang mutu, tepat jumlah dan tepat pemberiannya. Salah satu cara pencegahan yang sekarang sudah mulai diaplikasian adalah dengan cara menimbulkan kekebalan tubuh dengan vaksinasi. Tujuannya adalah untuk memperoleh ketahanan terhadap suatu infeksi tertentu, shinga diperoleh sintasan hidup yang tinggi akibat proteksi imunologik tersebut.secara umum manfaat vaksinsai antara lain dalam hal : peningkatan daya tahan ikan. Pencegahan efek samping kemoterapeutika, proteksi terhadap serangan infeksitertentu, keamanana lingkunganbudidaya dari pencemaran bahan kematerapeutik dan keamanan konsumen dari residu antibiotik.
  • Prinsip dasar vaksinasi adlaah memasukkan vaksin/antigen kedalam tubuh ikan sehingga antigen tersebut merangsang sistem  imun tubuh untuk memproduksi antibodi (kekebalan spesifik). Dengan hanya 1 atau dua kali pemberian vaksin biasanya daya tahan/kekebalan tubuh ikan akan bertahan sampai akhir masa pemeliharaan.  Ada beberapa syarat yang sebaiknya diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi terhadap ikan, yaitu :
  • Ikan sebaiknya berumur 3 minggu, karena pada umur kurang dari tiga minggu, orgna-organ yan berperan dalam sistem pembentukan antibodi belum sempurna.
  • Jangan memvaksin ikan yang lagi sakit/stres. Tunggu hingga ikan dalam keadaan optimal.
  • Suhu air diatas 26 °C. Karena suhu air diatas 28 °C menyebabkan respon antibodi akan lebih cepat terbentuk.
  • Air yang digunakan harus bebas dari unsur polutan. Karena polutan dapat menghambat pembentukan antibodi.
Adapun Teknik aplikasi vaksin pda ikan ada beberapa cara yaitu :
  1. Aplikasi vaksin melalui perendaman.
  2. Aplikasi vaksin melalui pakan.
  3. Aplikasi vaksin melalui suntikan.

Jumat, 04 Mei 2018

AZOLLA “SUMBER PAKAN ALTERNATIF KAYA PROTEIN”

MENGENAL AZOLLA
Azolla sp. adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam, mempunyai permukaan daun yang lunak, mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N­­2) dari udara.
Pada kondisi optimal azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996).
Seiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Dengan adanya kegiatan budidaya ikan mina padi dengan azolla, selain menjadikannya sebagai pakan perikanan juga konstribusi dapat digunakan untuk peningkatan produksi padi.
Sebagai pakan, azolla sebaiknya diberikan kering terutama untuk ikan omnivora, tetapi pada contoh kasus yang lain, ikan herbivora (Gurame, Tawes, dll), ikan lebih menyukai bila azolla diberikan dalam kondisi segar, sebenarnya boleh saja tapi jangan terlalu sering memberikan yang basah.
Cara pengeringan Azolla cukup dalam ruangan sedikit terbuka, usahakan jangan dijemur karena bisa merusak nutrisinya, sejauh ini pemakaian azolla kering sudah terpakai sebagai campuran pellet dan pakan ternak(terbukti), namun praktik yang benar-benar teruji pemberian pada ikan lele.
Azolla juga mampu membuat air kolam menjadi berkualitas, kemampuannya menyerap kandungan berbahaya dalam kolam menjadi nilai lebih bagi azolla.
KEMAMPUAN AZOLLA SEBAGAI SUMBER PENYUMBANG NITROGEN
Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat yang disponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) menggunakan 15N menunjukkan bahwa azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70% – 90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah.
Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertumbuhan azolla adalah 0,355 – 0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa azolla maksimum tercapai setelah 14 – 28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat azolla tersebut ditumbuhkan.
Dalam keadaan ini dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.
BUDIDAYA AZOLLA
Budidaya azolla dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu menumbuhkan azolla dari bibit muda dan dari spora.
1. Dengan Bibit Tanaman Muda
–   Carilah azolla yang tumbuh di sawah dan perairan lainnya.
–   Siapkan kolam, petakan sawah atau bak plastik, kemudian genangi air setinggi 5 – 7 cm.
–   Tambahkan pestisida Corbufuran misalnya furadan dengan takaran 0,2 – 0,3gr/m2 dan pupuk SP 36 dengan takaran 6,5 gr/m2.
–   Taburkan bibit azolla dengan takaran 50 – 70 gr/m2.
–   Biarkan selama 2 minggu atau lebih dengan menjaga ketinggian air. Azolla akan tumbuh menutupi permukaan air, selanjutnya siap dipanen.
2. Dengan Spora
–   Siapkan bak plastik yang diisi tanah dengan ketinggian + 2 cm.
–   Genangi air hingga ketinggian 2 – 3 cm.
–   Taburkan spora azolla pada permukaan air dengan takaran 10 gr/m2.
–   Biarkan wadah agar terkena cahaya.
–   Spora selanjutnya akan berkecambah pada hari ke-10, dan setelah 1 bulan akan menutup permukaan area. Pada saat tersebut azolla masih kecil.
–  Pindahkan azolla pada bak yang lebih luas. Biarkan selama 2 minggu, maka akan diperoleh bibit azolla muda.
–   Selanjutnya dapat diperbanyak seperti halnya memperbanyak dengan menggunakan bibit tanaman muda.
FERMENTASI AZOLLA DENGAN DEDAK UNTUK PAKAN IKAN
Azolla sebagai sumber protein dapat digunakan sebagai sumber pakan alternatif untuk ikan. Sebelum azolla digunakan sebagai sumber pakan, sebaiknya terlebih dahulu dilakukan fermentasi dengan campuran bahan pakan yang lain misalnya dedak. Fermentasi dilakukan untuk mempermudah ikan dalam mencerna protein yang terdapat dalam azolla dan dedak karena ikan tergolong ke dalam hewan usus pendek.
Adapun langkah-langkah dalam fermentasi azolla adalah:
–   Timbanglah azolla segar dan dedak dengan perbandingan 70%:30%.
–   Campur dan aduk kedua bahan hingga homogen.
–   Masukan campuran ke dalam plastik atau karung yang kedap air, kemudian diikat rapat.
–   Kantong selanjutnya dipendam dalam tanah dan ditutup rapat (anaerob). Biarkan masa fermentasi selama 3 – 4 hari.
–   Bongkar pendaman campuran azolla dan dedak hasil fermentasi. Hasil fermentasi dapat langsung diberikan pada ikan sebagai sumber pakan.
MANFAAT TANAMAN AZOLLA
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya.  Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga  bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Pengganti Urea
Pemanfaatan azolla sangat memungkinkan untuk dijadikan pupuk. Hal itu dikarenakan jika dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos  (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 – 5 persen, Phosphor  (P) 0,5% –  0,9% dan Kalium (K)  2% – 4,5%. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca)  0,4% – 1%, Magnesium (Mg) 0,5%  – 0,6%, Ferum (Fe) 0,06%  – 0,26%  dan Mangan (Mn) 0,11% – 0,16%.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk  pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla  sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15  persen) atau sekitar 1  ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam,  maka  suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Hal itu dimungkinkan, karena  pada penebaran pertama 1/4 bagian  unsur yang dikandung  azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan   1/4  – 1/3  dosis pemupukan.
Untuk Media Tanam
Penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar,  bisa  juga dalam bentuk kering  dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos azdolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
Pakan Ternak
Selain untuk pupuk dan media tanam, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25%, lemak 7,5%, karbohidrat 6,5%, gula terlarut 3,5% dan serat kasar 13%.
Sumber: Karya Ilmiah Praktek Akhir “Pembinaan Kelompok Melalui Penyuluhan Partisipatif Pada Usaha Pembenihan Ikan Nila Merah di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Provinsi DI Yogyakarta 2010

Jumat, 13 April 2018

PENANGANAN DAN PENGOLAHAN TERIPANG

PENANGANAN DAN PENGOLAHAN TERIPANG
A. Peralatan yang diperlukan
·      Wadah penampungan. Penampungan teripang yang baru ditangkap dapat dilakukan dengan menggunakan perahu atau juga tong plastik maupunwadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi sekaligus dapat langsung digunakan untuk wadah selama transportasi.
·     Wadah pencucian. Wadah pencucian dapat berupa drum yang terbuat dari aluminium, plastik ataupun fibreglass dan tidak dianjurkan menggunakan wadah yang terbuat dari bahan yang mudah berkarat, seperti seng.
·      Pisau pembelah. Pisau pembelah harus tidak terbuat dari bahan yang mudah berkarat (sebaiknya stainless steel), kuat dan tajam dengan bagian ujung yang runcing.
·    Wadah perebusan. Wadah perebusan harus terbuat dari aluminium atau stainless steel dengan ukuran yang disesuaikan kapasitas pengolahan.
·    Alat pengasapan. Alat pengasapan dapat berupa alat pengasap terbuka, drum pengasap, lemari pengasapan ataupun rumah pengasapan. Alat pengasapan terbuka tidak dianjurkan mengingat alat ini sulit dalam pengontrolan suhu, dapat terkontaminasi kotoran dari luar dan pemakaian asap tidak efisien (banyak terbuang).
·      Alat pengeringan. Pengeringan dapat menggunakan sinar matahari diatas para-para dengan ketinggian=l meter, atau menggunakan alat pengering mekanis (mechanical dryer)
B.Teknik Penanganan dan Pengolahan
Untuk mendapatkan mutu teripang kering yang baik, maka cara pemilihan dan penanganan bahan baku, cara penanganan awal, cara pengolahan dan cara penggudangan harus benar-benar diperhatikan. Kesalahan yang mungkin tidak disengaja ataupun yang tidak diketahui dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar.
Pada umumnya teripang kering yang dihasilkan nelayan pengolah tradisional masih belum baik mutunya, sehingga seringkali masih harus diperbaiki mutunya oleh para pengumpul atau eksortir. Perbaikan mutu tersebut biasanya berupa pembersihan dari kotoran yang menempel pada teripang dan dilakukan pengeringan tambahan, karena teripang tersebut masih belum cukup kering atau menjadi basah kembali selama dalam penggudangan karena sifatnya yang higroskopis.
a)   Pemilihan dan penanganan bahan baku
Bahan baku teripang sebaiknya berupateripang hidup yang ditangkap dari perairan yang tidaktercemar. Mengingat teripang biasanya hidup di dasar perairan, sehingga kemung kinan tercemar logam berat seperti mercuri ( Hg ), timbal (Pb), Cadmium ( Cd ) dll, selalu ads apabila perairan disekitarnya telah tercemar.
Dalam penangkapan/pemanenan teripang bisanya dilakukan dengan cara menyelam dan menangkapnya langsung dengan tangan. Sebagian nelayan melakukan penangkapan dengan menggunakan tombak atau trisula, sehingga cara penangkapan ini dapat melukai teripang dan mengakibatkan teripang mat! dan cepat mengalami pembusukan. Selain itu, adanya luka akan membuat penampakan pada produk akhir tidak baik, yang umumnya tidak disukai pembeli.
Teripang yang akan diolah diusahakan dipertahankan dalam kondisi hidup, apabila kondisi hidup teripang sulit dipertahankan sampai ke unit pengolahan, misalnya karena jauhnya lokasi penangkapan atau karena faktor lain, maka sebaiknya segera dilakukan pembuangan isi perut, segera dicuci bersih dan diberi garam 3 – 10% dari berat teripang. Untuk mempertahankan teripang tetap hidup,dapat dilakukan dengan memasukkan teripang kedalam wadah penampungan yang berisi air laut bersih.
b)   Pembuangan isi perut (eviscerasi).
Pembuangan isi perut dapat dilakukan pada teripang mentah atau setelah perebusan. Cara yang kedua lebih mudah dilakukan, karena teksturnya lebih kenyal, akan tetapi dianjurkan untuk melakukan cara yang pertama, yaitu pembuangan perut isi perut sebelum perebusan, walaupun memerlukanteknikdsn ketrampilan agar belahan/ irisan dapat rapi.
Pengeluaran isi perut dilakukan dengan cara pembelahan melalui irisan pada bagian perutnya memanjang denganpanjangsecukupnya. Pisau yang digunakan harus tajam dan tipis.
Isi perut dikeluarkan dan segera dicuci bersih pada bagian dinding perut sampai bebas dari darah dan sisa isi perut. Air yang digunakan dapat berupa air tawar atau air laut yang bersih dan kalau memungkinkan digunakan air mengalir atau menggunakan air dalam bak yang sering diganti.
Beberapa nelayan pengolah membuang isi perut teripang dengan cara melubangi pada bagian ujung teripang dengan alat pelubang dari bambu atau kayu dan kemudian isi perut dikeluarkan dengan cara menekan (memeras) tubuh teripang. Cara seperti ini kurang baik, karena isi perut tidak dapat dikeluarkan seluruhnya dan sisa isi perut akan mempercepat proses pembusukan. Disamping itu akibat penekanan (pemerasan) akan merusak tekstur dan penampakan produk akhir.
c)   Perebusan
Perebusan teripang bertujuan untuk membuat tekstur teripang menjadi kenyal, memberikan sedikit rasa asin yang sekaligus dapat berfungsi untuk membunuh dan mencegah tumbuhnya mikro organisme pembusuk. Perebusan dilakukan dalam air mendidih dengan konsentrasi garam ±15% selama 20 – 30 menit tergantung dari besar dan jumlah teripang sampai semua teripang menjadi kenyal teksturnya. Setelah perebusan selesai dilakukan penirisan sampai tidak ada lagi air yang menetes dan selanjutnya diteruskan dengan pengasapan.
d)   Pengasapan
Pengasapan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi (menurunkan) kadar air, disamping itu pengasapan juga berfungsi memberikan rasa dan bau (flavour) yang spesifik yang umumnya dikehendaki oleh konsumen. Pengasapan dapat dilakukan dengan alai pengasapan (lemari pengasap) selama 10 – 20 jam dengan ketebalan asap sedang dan suhu 60 – 80° (pengasapan panas).
Biasanya para nelayan pengblah tradisional menggunakan alat pengasap terbaka, cara ini kurang baik disamping sulit dikontrol suhunya, teripang.¢ang diesap juga akan terkena kotoran dari luar serta pemakaian asapnya menjadi tidak efisien, karena banyak terbuang.
Sebagai bahan bakar dapat digunakan sabut kelapa, serbuk gergaji, kayu baker dan bahan lainnya dan sedapat mungkin dihindari pemakaian bahan/kayu yang bergetah. Menurut Dagoon (1990), mencoba menggunakan serbuk gergaji dan daun jambu biji segar yang ditaburkan diatas bare arang, sebagai bahan pengasap akan dapat menghasilkan teripang kering yang berkualitas tinggi.
Faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan dalam proses pengasapan, antara lain :
·         Ketebalan asap diusahakan konstan selama pengasapan dan seluruh permukaan teripang harus berkontak langsung dengan asap.
·         Suhu pengasapan dipertahankan 60 – 80° C dengan jalan mengatur bara api serta ventilasi yang ada pada lemari pengasap (bila menggunakan, lemari pengasap). Teripang diusahakanjangan sampai terbakar, karena akan merusak penampakan dan mengganggu keluarnya air dari tubuh teripang pada saat pengeringan.
·         Diusahakan agar tidak banyak debu/kotoran yang masuk ke dalam lemari pengasap.
·         Bahan bakar harus dibersihkan dan kotoran lain yang dapat mencemari teripang, seperti jamur dll.
e)   Pengeringan
Tahap akhir pada pengolahan teripang kering adalah proses pengeringan, atau proses penurunan kadar air. Proses ini harus dilakukan secara bertahap yadu perebusan, pengasapan dan pengeringan (penjemuran). Hal ini dilakukan agar air dapat keluar secara sempurna dan tidak hanya pada permukaan tubuh teripang saja, tetapi juga pada bagian daging ditengahnya.
Pengeringan teripang dapat dilakukan dengan penjemuran dibawah sinar matahari atau menggunakan alat pengering mekanis (mechanical dryer). Pada pengeringan dengan sinar matahari, teripang diletakkan diatas parapara dengan ketinggian ± 1 meter. Pengeringan dengan cara ini memakan waktu 2 – 3 hari tergantung cuaca dan ukuran teripang. Apabila dalam pengeringan menggunakan mechanical dryer agar suhu pengeringan disesuaikan dengan panes matahari (± 50°C).
Biasanya alat ini dipakai hanya pada waktu tertentu, misalnya musim hujan, atau karena terbatasnya ruangan penjemuran.Penjemuran/pengeringan dilakukan secara terus menerus sampai kadar air teripang dibawah 20%.
f)    Penggudangan
Teripang kering yang akan disimpan di dalam gudang, agar dikemas tedebih dahulu dalam karung plastik kemudian karung tersebut disusun diatas rak-rak dalam gudang dan selanjutnya tumpukan karung ditutup dengan terpal pada bagian atasnya.
Pada prinsipnya teripang kering harus disimpan pada suhu ruangan yang tidak terlalu tinggi dengan kelembaban (RH) rendah. Hal ini sangat perlu diperhatikan, karena teripang kering mengandung garam dan juga mengandung “collagen” yang sangat higroskopis, sehingga akan dapat menyerap uap air dari udara.
Tingginya penolakan yang cilakukan eksportir atau pengumpul terhadap hasil olahan nelayan pengolah tradisional, diduga disebabkan karena kesalahan selama dalam penggudangan. Untuk dapat mencapai kondisi gudang yang memenuhi syarat sebagai tempat penyimpanan teripang kering, make ada beberapa he] yang perlu ciperhatikan, antara lain :
·         Gudang harus terlindung dari sinar matahari dan tidak bocor bila hujan.
·         Gudang harus mempunyai ventilasi cukup untuk mengurangi peningkatan kelembaban (RH).
·         Gudang harus dapat tertutup rapat agar terhindar dari binatang perusak (rodent atau hewan piaraan).
·         Teripang harus dikemas secara baik-baik dan diletakkan diatas rak-rak, tidak diletakkan langsung diatas lantai.
Kandungan Nutrisi dan Mutu Teripang Kering
Teripang kering mempunyai kandungan nutrisi sebagai berikut : Kadar air (8,90%), protein (82,00%), lemak (1,70%), abu (8,60%), karbohidrat (4,80%), vitamin A (455 ug%), vitamin B(yaitu thiamine 0,04 mg%, riboflavin 0,07 mg%, niacin 0,4 mg%) dan total kalori (385 cal/100g), dll. (Annonymous, 1972). Kadar protein yang cukup besar memberikan nilai gizi yang cukup baik dan protein teripang mempunyai asam amino yang lengkap. Kandungan lemaknya mengandung asam lemak tidak jenuh yang sangat diperlukan bagi kesehatan jantung.
Standar mutu teripang kering (SPI-KAN/02/29/1987) sesuai Keputusan Menteri Pertanian RI No. 701/Kpts/TP.830/10/1987 tentang penetapan Standar mutu hasil pertanian, yang saat ini sudah diangkat menjadi Standar Nasional Indonesia oleh Dewan Standardisasi Nasional dan diberlakukan secara Nasional, merupakan Standar minimum dengan persyaratan sebagai berikut:
Untuk mendapatkan mutu teripang kering yang baik, maka beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan antara lain:
·       Pemilihan jenis teripang yang ekonomis penting serta tidak berasal dari daerah/perairan tercemar.
·       Bahan baku teripang diusahakan dalam kondisi hidup atau sesegar mungkin.
·       Cara pembelahan dan perebusan yang baik yang erat kaitannya dengan penampakan produk akhir.
·       Cara pengasapan dan pengeringan yang benar, sehingga dapat dilakukan pengeringan yang sempurna.
·       Cara pengemasan dan penggudangan yang benar, terutama dalam kaitannya dengan sifat teripang yang higroskopis (menyerap uap air).
Referensi:
http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/penanganan-dan-pengolahan-teripang/
Martoyo J,  Aji N dan Winanto T, 1994. Budidaya Teripang. Penebar swadaya, Jakarta
Diposkan oleh Munawaroh, S.P.

Jumat, 06 April 2018

PENGOLAHAN IKAN BANDENG TANPA DURI


PENGOLAHAN
IKAN BANDENG TANPA DURI
Ikan bandeng pada dasarnya dapat diolah menjadi berbagai ragam olahan dengan berbagai macam bumbu, baik berupa masakan daerah (nasional) maupun internasional yang diolah menggunakan teknologi seperti breaded, nugget, atau crispy. Tulisan  ini hanya akan menyajikan cara mengolah bandeng cabut duri. Melalui olahan dasar tersebut, para praktisi atau penggemar masakan berbahan bandeng dapat mengembangkannya menjadi berbagai macam masakan sesuai dengan cita rasa sendiri.
Bandeng Tanpa Duri
Ikan bandeng mempunyai rasa yang gurih namun mempunyai kelemahan yaitu adanya tulang dan duri yang cukup banyak di dalam tubuh ikan Bandeng sehingga berisiko tinggi bila dikonsumsi oleh manusia terutama anak-anak. Hal ini mengurangi minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan Bandeng. Jumlah duri yang terdapat pada ikan Bandeng adalah sebagai berikut; pada bagian punggung ada 42 pasang duri bercabang yang menempel di dalam daging dekat permukaan kulit luar, bagian tengah ada 12 pasang duri pendek, pada rongga perut ada 16 duri, bagian perut dekat ekor ada 12 pasang duri kecil.
 
Bandeng Tanpa Duri merupakan produk perikanan setengah jadi berupa bandeng mentah segar yang telah dibuang tulang dan durinya. Kelebihan dari Bandeng Tanpa Duri yaitu tidak mengurangi atau menghilangkan kandungan gizi yang terdapat pada Bandeng mentah, karena pengolahannya hanya menghilangkan duri yang ada pada Bandeng, daging ikan masih dalam kondisi segar. Bandeng Tanpa Duri selanjutnya dapat dimanfaatkan menjadi berbagai variasi makanan sesuai dengan selera. Beberapa produk olahan dari Bandeng Tanpa Duri ini antara lain Bandeng Pepes, Bandeng Asap, Bandeng Nugget, Bandeng crispy dan sebagainya. Hasil produksi Bandeng Tanpa Duri kemudian dijual kepada konsumen, dimana konsumen ini setengahnya adalah konsumen pengguna (end user) dan sisanya adalah pedagang yang menjual kembali produk ini dalam keadaan mentah (fresh frozen) atau menjualnya setelah diolah menjadi produk makanan olahan.
Bandeng Tanpa Duri ini memang belum dikenal banyak oleh masyarakat, banyak yang mengira Bandeng Tanpa Duri ini sama dengan Bandeng Presto yang memang lebih dulu telah dikenal oleh masyarakat, sehingga produksi Bandeng Tanpa Duri ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan Bandeng Presto. Alasan sedikitnya produksi Bandeng Tanpa Duri ini yaitu proses produksi yang relatif sulit bagi pemula (meskipun setelah mahir, proses ini menjadi sederhana) serta membutuhkan ketekunan serta ketelitian tinggi, khususnya pada saat mencabut duri ikan bandeng tersebut. Seseorang yang telah mahir membutuhkan waktu 2-3 menit untuk melakukan pencabutan tulang dan duri Bandeng. Tetapi bila belum mahir maka mengerjakannya bisa mencapai waktu 15-20 menit untuk setiap ekor bandeng. Tahap pengolahan ikan bandeng tanpa duri adalah sebagai berikut :
Penyiangan
Hal pertama yang harus dilakukan dalam proses penyiangan adalah mencuci semua bandeng yang akan diolah menggunakan air dan es. Tujuannya adalah untuk membersihkan ikan bandeng dari kotoran tanah dan lumpur. Selanjutnya, ikan bandeng disiangi dengan cara membersihkan kotoran dan isi perut ikan dengan cara membelah menjadi bentuk kupu-kupu. Diperlukan kehati-hatian dalam membersihkan isi perut bandeng untuk menghindari pecahnya empedu. Bila empedu pecah, akan membuat rasa ikan menjadi pahit. Ada beberapa pengolah bandeng yang membuang insang. Namun, sebagian lagi ada yang membiarkannya dengan anggapan bahwa insang bisa dijadikan sebagai penyangga bentuk agar penampakan produk terlihat lebih menarik.
Pada dasarnya, tahap-tahap penyiangan bandeng adalah sebagai berikut :
·       Ikan bandeng dibelah pada bagian punggung ( bentuk kupu-kupu ) dari mulai kepala sampai pada pangkal ekor, usahakan pengirisan tidak memotong tulang punggung.
·       Bersihkan bandeng dengan cara membuang isi perut, kotoran, insang
·       Ikan bandeng dicuci agar bandeng juga bersih dari sisa-sisa darah. Pembersihan sisa darah penting dilakukan karena sisa darah yang masih melekat bisa mempercepat terjadinya proses pembusukan baik secara kimia maupun secara biologi. Agar lebih bersih, dilanjutkan dengan perendaman ikan dalam larutan garam 3% .
Pencabutan Duri
Bagi pemula, pencabutan duri memang pekerjaan yang tergolong sulit untuk dilakukan. Namun, dengan terus berlatih, pekerjaan ini akhirnya akan terasa mudah. Pengetahuan mengenai jumlah duri tersebut dapat digunakan untuk memastikan apakah duri pada bagian itu sudah tercabut semua. Oleh karena itu, sebaiknya jumlah duri yang telah dicabut dihitung sehingga duri yang ketinggalan bisa segera diketahui. Alat yang biasa digunakan untuk mencabut duri adalah pinset yang runcing.
Pencabutan duri dapat dilakukan secara berurutan sesuai tahapan tersebut atau bisa dengan melakukan dari bagian yang dianggap paling mudah sampai ke bagian yang dirasa paling sulit. Perabaan sebaiknya dilakukan untuk memastikan duri telah tercabut semua. Apabila masih terasa ada duri, segera diambil. Sebaiknya hal ini dilakukan berulang-ulang hingga duri betul-betul tercabut semua.
Penggangkatan/ Pencabutan Tulang Belakang
Tulang belakang dipatahkan pada bagian ekor selanjutnya ditarik ke atas kebagian kepala, daging ikan ditekan agar tidak ikut tertarik keatas sampai ke bagian kepala .
·       Cabut duri bagian perut sebanyak 16 pasang dengan menggunakan pinset
·       Mencabut duri di daerah dada dekat kepala (jumlah duri 12 buah)
·       Cabut duri punggung (jumlah duri 42 buah ) diawali pada bagian depan dekat tutup insang .
·       mencabut duri di daerah dekat pangkal ekor (jumlah duri 12 buah)
·       Potong sirip punggung yang diawali dari pangkal punggung sirip punggung hingga sirip terlepas.
Perabaan sebaiknya dilakukan untuk memastikan duri telah tercabut semua. Apabila masih terasa ada duri, segera diambil setelah duri betul-betul tercabut semua ikan bandeng tanpa duri siap dikemas.
Tabel 1. Kriteria Mutu Bandeng Cabut Duri Berdasarkan Penilaian Organoleptik
No
Parameter
Keterangan
1
Rupa
Ikan utuh dan tidak patah, muIus, tidak luka atau lecet, tetapi bersih dari sisik, bersih, tidak terdapat benda asing, serta tidak ada endapan lemak atau kotoran lain.
2
Warna
Warna spesifik, cemerlang, serta tidak berjamur dan berlendir
3
Bau
Spesifik seperti ikan, tanpa bau tengik, masam, basi, atau busuk
4
Tekstur
Kompak, padat, tidak berair dan kesat, serta tidak banyak daging yang rusak.
Pengemasan
Setelah duri bandeng tercabuti semua, ikan bandeng yang semula dibelah seperti kupu­kupu ditutup kembali seperti sediakala. Selanjutnya bandeng dimasukkan ke dalam kemasan plastik yang sudah diberi label. Kemasan dari plastik merupakan kemasan yang cukup baik untuk bahan pangan yang mudah rusak. Label dicantumkan untuk lebih memberikan nilai jual yang lebih tinggi dan sebagai salah satu media promosi produk tersebut.
Penyimpanan
Untuk mengawetkan bandeng cabut duri yang telah dikemas, diperlukan tempat pendingin untuk meletakkan bandeng sebelum dipasarkan. Tempat pendingin bias berupa kotak pendingin (cool box) atau freezer. Begitu pula sewaktu memasarkannya, produk bandeng cabut duri sebaiknya diletakkan di tempat pendingin.