Kamis, 17 November 2016

Pemeliharaan Pakan Alami Dunaliella

Cara Budidaya Dunaliella Sebagai Pakan Alami Ikan adalah memperbanyak mikroalga atau dunaliella guna untuk mendapatkan secara masal untuk menjadi sumber pakan alami budidaya ikanDunaliella merupakan mikroalga uniselular dengan dua flagela dan termasuk kedalam alga hijau (Chlorophyta, Chloropyceae). Dunaliella memiliki morfologi tubuh seperti Chlamydomonas dengan dua perbedaan utama yang terdapat pada dinding sel Dunaliella. Dunaliella memiliki dua flagella yang sama panjang dan tunggal, bentuk kloroplas seperti cangkir. Bentuk sel yang bervariasi, menjadi oval, bulat, silindris, ellips. Sel dalam setiap spesies tertentu dapat berubah bentuk dengan perubahan kondisi, akan menjadi bulat jika kondisi tidak mendukung. Ukuran sel juga bervariasi dengan kondisi pertumbuhan dan intensitas cahaya yang mempengaruhi. Sel – sel akan membelah dengna memanjang menjadi bagian – bagian lain dengan memanjang pada kondisi motil. Dlam kondisi tertentu, sel Dunaliella dapat berkembang ke tahap palmelladan tertanam di dalam lapisan tebal lendir, atau membentuk aplanospore dengan dinding tebal dan kasar.  (Alam Ikan 1)
Dunaliella merupakan jenis fitoplankton laut yang hidupnya di pesisir pantai dan air danau yang memiliki salinitas garam yang tinggi atau bersifat halofilik. Dunaliella juga memiliki pH toleransi dari pH 1-11 (Alam Ikan 2). Dunaliella juga merupakan salah satu organisme eukariotik yang paling ramah lingkungan dan dapat mengatasi berbagai salinitas air laut dengna kisaran 3% NaCl sampai kejenuhannya 31% NaCl, dan temperatur kisarannya dari 0°C-38°C (Alam Ikan 1)
Dunaliella salina yang berwarna merah- oranye disebabkan oleh kandungan beta karotenoid dan campuran karotenoidnya yang tinggi. Dunaliella dalam pemanfaatannya dapat sebagai bahan makanan pada manusia, seperti menstimulasi sistem imunitas, detoksifikasi alami, anti kanker, antioksidan, dan penambah energi dan vitalitas (Alam Ikan 3)
Parameter Dunaliella
Dunaliella: salinitas optimum 18-22 % NaCl, untuk produksi carotenoid > 27% NaCl, dan masih bertahan pada 31% NaCl; suhu optimal 20-40 derajat C, pH optimal 9 dan bertahan pada pH 11.
Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong


Pakan Buatan
Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.
  • Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.
  • Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.
  • Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.
  • Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.
  • Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.
  • Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dkeringkan, kemudian diremas-remas.
Manfaat Pakan Alami
  • Sebagai bahan pakan ikan, udang, atau hasil perikanan lainnya, baik dalam bentuk bibit maupun dewasa.
  • Phytoplankton juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami pada budidaya zooplankton.
  • Ulat Hongkong dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan hias, yang dapat mencermelangkan kulitnya.
  • Pakan buatan dapat melengkapi keberadaan pakan alami, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.
  • Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
Persiapan Tempat Dunaliella
Dunaliella Dalam wadah 1liter
1. Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.
2. Wadah diisi air medium dengan kadar garam 28 permil yang telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20 ppm 3. Na2S2O3, atau disinari lampu ultraviolet.
3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Natrium nitrat – NaNO3 = 84 mg/l
  • Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l
  • Besi klorida – FeCl3 = 2,9 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
  • Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
  • Biotin = 1 mikrogram/l
  • Vitamin B12 = 1mikrogram/l
  • Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
  • Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
  • Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
  • Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
  • Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
Dunaliella Dalam wadah 1 galon (3 liter):
- Dapat menggunakan botol “carboys” atau stoples.
- Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter.
- Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Urea-46 = 100 mg/l
  • Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l
  • Agrimin = 1 mg/l
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
  • EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l
  • Vitamin B1 = 0,005 mg/l
  • Vitamin B12 = 0,005 mg/l
Dunaliella Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
1. Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan untuk 1 ton menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass.
2. Persiapan lain sama.
3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
  • Urea-46 = 100 mg/liter
  • Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter
  • Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 5 mg/liter atau Kalium dihidrofosfat-K2H2PO4 = 5 mg/liter
  • Agrimin = 1 mg/liter
  • Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter
4. Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea 60-100 mg/liter dan TSP 20-50 mg/liter.

5. Wadah dan peralatan lainnya dicuci, kemudian diisi medium dengan kadar garam 18-22 permil. Selanjutnya diberi pupuk cair 1 ml/liter, kemudian diaerasi dan dibiarkan sebentar.
Pemeliharaan Pakan Alami Dunaliella 
  • Dalam pemeliharaan harus diperhatikan penempatan wadah agar cukup mendapat cahaya, sehingga fotosintesa dapat berjalan lancar.
  • Setelah pupuk tercampur merata, bibit dimasukkan sebanyak 1/3 bagian. Wadah ditutup kapas atau stirofoam yang telah diberi slang untuk mencegah kontaminasi.
  • Empat hari setelah masa pemeliharaan, dapat dipanen dan dikultur pada wadah yang lebih besar.
Jenis-jenis makanan
Jenis-jenis makanan alami yang dimakan ikan sangat beragam, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Beberapa jenis pakan alami yang dibudidayakan adalah : (a) Chlorella(b) Tetraselmis(c) Dunaliella; (d) Diatomae(e) Spirulina(f) Brachionus(g) Artemia; (h) Infusoria; (i) Kutu Air; (j) Jentik-jentik Nyamuk; (k) Cacing Tubifex/Cacing Rambut; dan (l) Ulat Hongkong
Sumber : www.alamikan.com

Kamis, 03 November 2016

Mari Rebut Pasar Belut

Mari Rebut Pasar Belut
PENDAHULUAN
SIAPA sangka keripik belut disukai orang mancanegara? Namun itulah kenyataan yang diungkapkan Sutarto, pengusaha keripik belut warga Sanggrahan, Kalurahan Joho, Sukoharjo. Sesuai dengan kesepakatan pembeli asal Australia, setiap bulan dirinya harus mengirimkan 1 kontainer keripik. Jika 1 kontainer berisi keripik 1 ton, setiap hari dia harus memproduksi 226 kg. Padahal, saat ini usahanya hanya mampu memproduksi 100 kg. ”Ini memang tantangan berat bagi kami. Tetapi bagaimanapun bertekad memenuhi pesanan itu,” ujar lelaki berusia 35 tahun itu.
Cerita di atas adalah salah satu contoh di mana belut untuk keperluan industri kecil di Indonesia masih sangat kekurangan bahan baku belut. Bahkan untuk keperluan eksporpun masih jauh kekurangan. Bayangkan salah satu pemasok belut di Jakarta Selatan hanya mampu memenuhi 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari. 
Sejak 1998, Ir R. M. Son Son Sundoro alumnus Teknik dan Manajemen Industri di Institut Teknologi Indonesia, rutin menyetor 3 ton/hari ke eksportir. Itu dipenuhi dari 30 kolam berukuran 5 m x 5 m di Majalengka, Ciwidey, Rancaekek, dan 200 kolam plasma binaan di Jawa Barat. Terhitung mulai Juli 2006, total pasokan meningkat drastis menjadi 50 ton per hari. Itu diperoleh setelah pria 39 tahun itu membuka kerjasama dengan para peternak di dalam dan luar Pulau Jawa. Sebut saja pada awal 2006 ia membuka kolam pembesaran seluas 168 m2 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di tempat lain, penggemar travelling itu juga membuka 110 kolam jaring apung masing-masing seluas 21 m2 di waduk Cirata, Kabupaten Bandung. Total jenderal 1 juta bibit belut ditebar bertahap di jaring apung agar panen berlangsung kontinu setiap minggu. Dengan volume sebesar itu, ayah 3 putri itu memperkirakan keuntungan sebesar US$2.500 atau Rp 20.500.000 per hari.
Di Majalengka, Jawa Barat, Muhammad Ara Giwangkara juga menuai laba dari pembesaran belut. Sarjana filsafat dari IAIN Sunan Gunungjati, Bandung, itu akhir Desember 2005 membeli 400 kg bibit dari seorang plasma di Bandung seharga Rp11,5 juta. Bibit-bibit itu kemudian dipelihara di 10 kolam bersekat asbes berukuran 5 m x 5 m. Berselang 4 bulan, belut berukuran konsumsi, 35-40 cm, sudah bisa dipanen.
Dengan persentase kematian dari burayak hingga siap panen 4%, Ara bisa menjual sekitar 3.000 kg belut. Karena bermitra, ia mendapat harga jual Rp12.500/ kg. Setelah dikurangi ongkos perawatan dan operasional sebesar Rp 9 juta dan pembelian bibit baru sebesar Rp 11,5 juta, tabungan Ara bertambah Rp 17 juta. Bagi Ara hasil itu sungguh luar biasa, sebab dengan pendapatan Rp 4 juta – Rp 5 juta per bulan, ia sudah bisa melebihi gaji pegawai negeri golongan IV.(*)
PASAR EKSPOR
Peluang pasar ekspor masih sangat terbuka dan terus meningkat terutama untuk tujuan Jepang. Sebuah artikel menarik tentang kesukaan orang Jepang menyantap masakan Belut dapat kita lihat berikut ini :
Santap Belut untuk Lawan Hawa Panas
TOKYO – Jepang sekarang sedang dicengkeram gelombang panas panjang tidak biasa, yang membuat temperatur udara terus naik setiap hari sepanjang bulan ini. Di tengah suasana menyiksa seperti itu, bangsa Jepang mulai melirikbelut untuk mendapatkan sedikit kenyamanan.
Memakan belut sayur atau rebus selama musim panas, terutama pada masa ”Doyo Ushi no Hi”, sejak lama dipandang sebagai cara efektif untuk melawan hawa panas.
”Doyo Ushi no Hi” adalah hari yang ditetapkan berdasarkan kalender kuno matahari, yang secara tradisional dianggap hari-hari paling menyengat selama musim panas.
Rabu lalu, yakni Hari Belut pada tahun ini, para koki terampil di restoran-restoran khusus sudah bangun pagi-pagi sekali untuk merebus belut. Beberapa di antara mereka memasak sampai 1.000 ekor!
Dihidangkan di atas mangkuk nasi dan disiram kuah saus, belut mengandung protein dalam kadar tinggi. Maka, menyantap belut adalah salah satu cara untuk meningkatkan energi yang terkuras. Maklum, nafsu makan menjadi hilang gara-gara udara panas.
Harus Antre
Kini, orang harus antre panjang di muka restoran belut untuk menyantap sejenis ikan mirip ular itu. ”Dengan memakan belut, saya berharap mampu bertahan dari serangan panas,” kata seorang pria kepada televisi NHK. Sehari sebelumnya, temperatur meningkat mencapai 40,1 derajat Celsius di kota Sakuma, sekitar 150 kilometer sebelah barat daya Tokyo, ibu kota Jepang. Angka tersebut tercatat paling tinggi di seluruh Jepang, dan hanya serambut lebih rendah dibandingkan angka tertinggi pernah tercatat dalam sejarah negara itu, yakni 40,8 derajat Celsius pada 25 Juli 1933 di kota Yamagata, Jepang timur laut. Temperatur di Tokyo juga mencatat rekor. Pada Selasa lalu tercatat 38,1 derajat Celsius. Untung datang badai guntur sebentar, yang mendorong suhu turun di kota itu. Tetapi di kota-kota lain, panas tetap tinggi sehingga membuat orang lelah.
Tiga orang dilaporkan tewas tersengat panas di tempat terpisah di negeri itu, dan anggota tim baseball sebuah SMU dirawat di rumah sakit setelah pingsan saat latihan.
Sekitar 467 orang dilarikan ke RS karena terluka bakar oleh sengatan sinar matahari sejak 1 Juli lalu di kota Tokyo saja. Sayang, tidak ada angka korban secara nasional.
Berapa permintaan ekspor belut dari beberapa negara tujuan ? Dapat dilihat ditabel di bawah ini :
Negara Tujuan
Kebutuhan (ton/minggu)
Jepang
1.000
Hongkong
350
Cina
300
Malaysia
80
Taiwan
20
Korea
10
Singapura
5
Sumber: Drs Ruslan Roy, MM, Ir R. M. Son Son Sundoro, www.eelstheband.com, dan telah diolah dari berbagai sumber.
(*) dikutip dari sumber – sumber di trubus online, dll.
bonus untuk budidayanya
Budi Daya Pembesaran Belut
Kolam
Pembuatan kolam pembesaran belut diawali dengan perencanaan konstruksi kolam apakah berupa kolam bawah tanah ( kolam gali ) atau kolam di atas tanah ( kolam tembok ), lalu pemilihan lahan yang tepat untuk kolam. Kemudian dilanjutkan dengan penggalian tanah atau pembuatan bak diatas tanah. Kolam-kolam pembesaran belut dengan menggunakan kolam permanen ( tembok ) memiliki ukuran maksimal 500 cm X 500 cm kedalaman 120 cm.
Namun demikian anda juga bisa menggunakan kolam terpal dengan ukuran 400 cm X 200 cm dengan kedalaman 100 cm. Menggunakan kolam terpal memang lebih efisien dan mudah dipindahkan apabila ingin dipindahkan ke tempat lain.
MITRA BELUT menyediakan Kolam Terpal beserta medianya bila anda menjadi Plasma MITRA BELUT Media Pemeliharaan
Setelah anda menyiapkan kolam tersebut di atas, langkah selanjutnya adalah mengisi kolam dengan media pemeliharaan dengan urutan dan ukuran sebagai berikut:
1. Jerami setinggi 25 – 40 cm.
1.     Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg (kolam berukuran 500 cm X 500 cm atau perbandingannya).
3. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
2.    Pupuk Kandang setinggi 5 cm.
3.    Pupuk kompos setinggi 5 cm.
4.    Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
5.    Cincangan Batang Pisang setinggi 10 cm.
6.    Lumpur/tanah setinggi 15 cm.
7.    Air setinggi 5 cm. Media pemeliharaan ini didiamkan agar terjadi proses
permentasi selama kurang lebih dua minggu, atau paling lama 1 bulan sehingga siap untuk ditaburi bibit/benih belut yang akan dibudidayakan.Pelaksanaan Pemeliharaan
Pelaksanaan pembesaran dapat dimulai setelah kolam dan media pemeliharaan siap. Langkah berikutnya adalah memilih bibit belut yang baik agar hasilnya dapat masimal. Bibit belut ini harus dipilih yang sempurna atau normal dan singkirkan yang tidak normal. Belut yang berkualitas ini akan menghasilkan hasil yang baik, sehingga akan berkembang dengan baik pula.Belut berkualitas memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Anggota tubuh utuh dan mulus yaitu tidak ada luka gigitan atau goresan.
2. Gerakan lincah dan agresif.
3. Penampilan sehat yang dicirikan tubuh yang keras dan tidak lemas manakala
dipegang.
4. Tubuh berukuran kecil dan berwarna kuning kecoklatan.
5. Umur antara 2-4 bulan.Belut ini mudah berkembangbiak dialam terbuka dan tidak sulit dibudidayakan dikolam yang menyerupai habitatnya serta memberikan penghasilan yang cukup menjanjikan. Pemasaran belut budidaya  ini akan dijamin oleh MITRA BELUT.Secara alami belut memakan binatang lain yang lemah, karena itu mereka harus membuat lubang perangkap yang menyerupai terowongan yang berkelok agar mangsanya tidak mudah lepas. Belut ini dapat dipanen setelah tiga bulan penaburan untuk pasar lokal, namun pasar ekspor minimal enam bulan. Kolam setelah panen diperbaiki dan diganti media pemeliharaannya agar zat renik yang diperlukan pemeliharaan berikutnya dapat tersedia cukup.

Selasa, 06 September 2016

KONTAMINASI DAN DAMPAKNYA BAGI PRODUK BUDIDAYA PERIKANAN


KONTAMINASI DAN DAMPAKNYA BAGI PRODUK BUDIDAYA PERIKANAN
            Isu lain yang dibahas mengenai kontaminasi produk perikanan oleh bahan kimiawi dan bahan antibiotik yang berbahaya. Disini diuraikan bagaimana produk perikanan budidaya bisa tercemar oleh kontaminasi bahan kimiawi dan bahan antibiotik, dan bagaimanan dampaknya bagi produk perikanan budidaya tersebut.
CONTAMINANTS

Dioxins
Di tahun 1999, kontaminasi dioxin dari Produk Makanan Belgia lewat kontaminasi makanan mengakibatkan EU yang mengesahkan pembatasan sementara pada perdagangan susu dan produk susu, daging sapi, daging babi, unggas, telor dan turunan telor, dan makanan dari sapi. Mereka juga memulai penyelidikan ilmiah untuk mengembangkan suatu kebijakan EU atas dioxins di  makanan dan pakan. Dioxins adalah campuran berbau harum polychlorinated terbentuk sebagai hasil sampingan dari proses kimia alami dan bisa dibuat manusia melalui proses kimiawi. Ada 210 campuran dioxin yang berbeda, hanya sekitar 17 menjadi perhatian dan sebagian dari ini dikenal segala penyebab kanker. Dioxins tidak dapat dalam air, sangat tidak bisa terurai  dan diserap manusia dan jaringan lemak binatang, dengan begitu terkumpul dalam rantai makanan.
Kontaminasi Dioxin dapat bervariasi tergantung pada asal bahan makanan. Daging, Telor, Susu, ikan dari kolam dan produk makanan lain kemungkinan terkontaminasi dioxin karena pencemaran lingkungan lokal tinggi , atau sangat tingginya dioxin di dalam tepung ikan dan minyak ikan. Ikan liar dari area tercemar kemungkinan tinggi akan terkontaminasi. Tepung ikan dan Minyak ikan Eropa yang bersumber dari penangkapan liar, sebagai contoh, mempunyai dioxin sekitar 8 kali lebih tinggi dibanding tepung ikan dan minyak ikan  dari Cili Atau Negara Peru ( SCAN , 2000).
Sebagai hasil pendapat yang dinyatakan oleh the Scientific Committee on Animal Nutrition ( SCAN), peraturannya diterima oleh EU  mulai diberlakukan tahun 2002. Ini dibuat  menurut ketentuan hukum mengikat batas isi dioxin yang terukur dengan kelebihan makanan yang  membatasi untuk dikeluarkan dari rantai makanan. Batas maksimum ditetapkan untuk tepung ikan, minyak ikan, pakan ikan dan campuran pakan adalah:
  • Minyak ikan: 6 NG TEQ/KG gemuk
  • Ikan, binatang laut yang lain laut, hasil sampingan dan produk mereka terkecuali minyak ikan: 1.25 NG TEQ/KG produk
  • Campuran pakan, terkecuali makanan untuk binatang yang berbulu dan pakan ikan ( dari Januari 1, 2002 ke Desember 31, 2005): 0.75 ng TEQ/ kg produk
  • Pakan ikan ( Dari Januari 1, 2002 ke Desember 31, 2005) 2.25 NG TEQ/KG produk ( CEC, 2001)
TEQ berarti menyatakan tingkatan racun  dioxins atau dioxin seperti  PCBS. Karena masing-masing mempunyai suatu tingkat keracunan berbeda, konsep ttg faktor ekwivalensi beracun- TEFS- telah diperkenalkan. Artinya bahwa hasil yang analitis dari semua campuran diubah menjadi satu ringkasan menghasilkan, ' Toxic Equivalent Concentration ' atau TEQ. Dioxins telah pula menjadi suatu penilaian di AS, dan FDA telah melakukan sampling berbagai macam bahan pakan dengan maksud untuk menetapkan suatu aturan dasar  sebelum membuat dasar keputusan yang berisiko pasa berbagai macam bahan yang menagandung dioxin
            Dampak . pengaruh tingkat pengukuran dioxin pada eksportir Asia dan eksporter lainnya belum tercatat. Bagaimanapun juga , EU mempunyai niat meninjau ulang standard mereka di tahun 2006 dengan maksud untuk mengurangi tingkatan maksimum yang diizinkan. Ini mendorong kearah pengurangan lebih lanjut  di dalam ketersediaan bahan baku, khususnya tepung ikan dan minyak, yang memenuhi spesifikasi dan memberi kenaikan di dalam biaya pakan.





ANTIBIOTICS

Sisa antibiotic dalam udang telah menjadi masalah sejak tahun 1980an ketika tambak udang semi intensive dan intensive menjadi sumber utama ekspor produksi udang.  Sejak tahun 1991, Pemerintah Jepang mengancam melarang impor udang dari Indonesia dan Thailand disebabkan adanya residu antibiotic, para ekportir terdesak dan pemerintah melakukan inspeksi antibiotic sebelum udang diekspor ke Negara tujuan ekspor (Patmasiriwat et al., 1999).
Pembatasan pelarangan atas pembelian udang yang mengandung antibiotic- oleh eksportir dengan cepat  mendorong suatu pengurangan penggunaan zat antibiotic oleh pembudidaya karena mereka tidak akan bisa menjual udangnya.
Di tahun 2001 sisa antibiotic terdeteksi, terutama klorampenikol dan nitrofurans dalam udang yang berasal dari China, Vietnam dan Thailand, menjadikan isu residu kembali mengemuka. Kedua bahan tersebut dilarang digunakan dalam pakan  ikan di banyak Negara dan Uni Eropa (EU) menetapkan kebijakan nol persen untuk klorampenikol dan nitrofuran dalam bahan makanan sejak tahun 1994. Berkembang pula alat yang sensitifnya tinggi dimana mengurangi tingkat deteksi dengan mantap, secara efektif dengan mudah mendeteksi tingkat toleransi di EU dan meningkatkan frekuensi deteksi makanan impor dari Asia yang mana telah dimusnahkan oleh otoritas EU. Hal ini mengakibatkan perdagangan udang diantara Negara ini dengan EU berhenti dengan ekspor dari Thailand menurun hingga diatas 70%.
            Ini adalah salah satu masalah utama bebas dari penggunaan antibiotic oleh para pembudidaya  di negara-negara Asia dan kurangnya kontrol yang efektif dalam penggunaannya. Ada juga membatasi  sejumlah pembudidaya dengan pengalamannya mengenai penyakit binatang perairan, menjadi suatu batasan utama yang perlu ditujukan. Jika antibiotic dan terapi pengobatan lainnya digunakan efektif, mereka akan menerapkan dibawah pengawasan  ahli peternakan. Catatan tentang perlakuan dan lamanya perlakuan dan waktu penarikan kembali diperlukan untuk diteliti.Membangun kapasitas untuk  seperti suatu sistem prosedur dokter hewan dan kesehatan binatang perairan yang  diorganisir akan menjadi  mahal dan mungkin memerlukan banyak  waktu,  sesuatu yang pantas dipertimbangkan dari segi jumlah dan usaha.
Sialnya , ada sedikit zat antibiotic  yang telah secara resmi disetujui untuk penggunaan dalam pakan ikan dan sangat  sedikit tingkatan residu yang ditetapkan. Tentang zat antibiotik yang disetujui oleh  FDA AS, tidak ada disetujui untuk digunakan di udang di samping disetujui untuk pakan hewan yang lain. Pasar yang secara relatif kecil untuk  produk seperti itu , biaya mengambil suatu obat harus melalui proses persetujuan dan mempunyai kompetisi berat.  Semua penyalur secara serius dihalangi dari penjualan obat yang bebas untuk keamanan dan efektif dalam pengendalian penggunaan  chemotherapeutants untuk binatang air. Salah satu pendidikan untuk pembudidaya ikan adalah mencegah penyakit dan menghindari penggunaan antibiotic. Arahnya akan mungkin jika banyak pembudidaya ikan menghentikan penggunaan antibiotic dengan suatu kecenderungan yang bisa didukung oleh suatu sistem berdasar pada insentif  dan pembuktian bebas dari penggunaan antibiotik atau kehadiran residunya  di dalam daging. Ini adalah salah satu dari isu yang ditujukan oleh implementasi peraturan kode of conduct yang akan dibahas dalam pembahasan kemudian. Karena itu, penggunaan antibiotik untuk budidaya ikan haruslah dikontrol dengan sangat ketat oleh pemerintah dengan suatu peraturan yang mengingat karena ini nantinya akan berdampak yang tidak baik bagi kelangsungan budidaya ikan untuk kedepannya.