Rabu, 10 Mei 2017

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN LELE DUMBO

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT PADA IKAN LELE DUMBO


 
Lele dumbo merupakan jenis ikan tidak besisik sehingga lendir merupakan salahsatu pelindung dari gangguan lingkungan. Akibatnya  bila terluka dengan sangat mudah terjadi pengeluaran lendir yang berlebihan dari tubuhnya. Lendir ini dapat dijadikan media hidup bakteri, dan dengan menempelnya bakteri pada lendir, maka dengan segera kuman penyakit masuk hingga kedalam tubuh lele dumbo. Terjadinya luka inilah yang menjadikan ketahanan tubuh lele dumbo menurun dan menyebabkan sakit.  Namun kebanyakan patogen yang terlibat biasanya bersifat fakultatif yaitu organisme yang hanya menimbulkan penyakit dalam kondisi tertentu saja. Organisme semacam ini secara normal memang hidup dan berada pada berbagai jenis perairan, dan hanya menyebabkan terjadinya penyakit bila daya tahan tubuh lele dumbo menurun atau kelimpahan mahluk tersebut kelewat tinggi. Daya tahan tubuh lele dumbo  biasanya berkurang bila ada dalam kondisi stress yang diakibatkan berbagai faktor terutama lingkungan yang meliputi faktor fisik, kimiawi maupun biologis. Dengan demikian terjadinya wabah sebetulnya merupakan akibat interaksi yang tidak seimbang antara ikan sebagai subyek patogen, patogen itu sendiri serta kondisi lingkungan. Sebenarnya, semua jenis ikan mempunyai kekebalan terhadap penyakit selama ikan tersebut hidup dalam kondisi lingkungan yang baik dan tidak ada faktor yang memperlemah badannya. Penyakit ikan dapat berkembang akibat bermacam macam faktor antara lain trauma pengangkutan, kekurangan pakan, perubahan sifat fisika dan kimia air serta epidemi dari suatu penyakit. Untuk mencegah dan mengobati suatu penyakit maka perlu diketahui hal- hal yang berkaitan dengan timbulnya penyakit, cara cara dan dosispengobatan yang tepat agar diperoleh hasil yang baik.

UPAYA PENCEGAHAN
         Tindakan pencegahan terutama ditujukan untuk mencegah masuknya wabah penyakit kedalam tempat budidaya ikan,  atau mencegah meluasnya wilayah yang terkena serangan penyakit dalam upaya mengurangi kerugian produksi akibat timbulnya wabah penyakit.
Beberapa tindakan upaya pencegahan antara lain melalui sanitasi kolam, alat-alat, ikan yang akan dipelihara serta lingkungan tempat budidaya.

a.  Sanitasi kolam
     Sanitasi kolam dilaksanakan melalui pengeringan, pemjemuran dan pengapuran dengan kapur tohor atau kapur pertanian sebanyak 50-100 gram/m yang ditebar secara merata dipermukaan tanah dasar kolam dan sekeliling pematang kolam. Setelah dikapur biarkan dalam keadaan kering selama 3-5 hari, baru kemudian kolam dipupuk dan diairi. Bahan lain yang bisa digunakan untuk sanitasi kolam diantaranya kalium permanganat (PK) yang ditebarkan pada kolam yang telah diairi sebanyak 10-20 gram/mair dan dibiarkan selama 2 jam, baru kemudian dimasukan air baru dan ditebari ikan setelah kondisi air normal kembali.

b.  Sanitasi perlengkapan dan peralatan.
Perlengkapan dan peralatan kerja sebaiknya selalu dalam keadaaan suci hama, dengan cara merendamnya dalam larutan PK atau larutan kaporit selam 30-60 menit. Pengunjung dari luarpun sebaiknya tidak sembarangan memegang dan atau mencelupkan bagian tubuh kedalam media air pemeliharaan sebelum disuci hamakan.

c.  Sanitasi Ikan tebaran
Lele dumbo yang akan ditebarkan sebaiknya selalu diperiksa dahulu. Bila menunjukan gejala kelainan atau sakit maka lele tersebut harus dikarantinakan terlebih dahulu untuk diobati. Namun lele dumbo yang akan ditebar dan dianggap sehat pun, sebelum ditebar sebaiknya direndam dahulu dalam larutan PK dengan dosisi 20 gr/m3 air, atau dalam larutan methylin blue 20 ppm, atau dengan formalin 1cc/10 liter air, masing – masing selama 10 -15 menit. Bila sanitasi ikan tebaran akan menggunakan obat-obatan alami dapat dilakukan dengan cara merendam lele dumbo yang akan di tebar dalam ektrak cair sambiloto dengan dosis 25 ppm, atau dalam ektrak cair rimpang kunyit dengan dosis 15 ppm atau dapat juga menggunkan ektrak cair daun dewa dengan dosis 25 ppm, perendaman masing masing selama 30 -60 menit. 

d. Menjaga lingkungan tempat budidaya
     Upaya perlindungan gangguan dari penyakit lele dumbo adalah dengan menjaga kondisi lingkungan atau kondisi ekologis perairan dengan cara setiap kolam /bak pemeliharaan lele dumbo diusahakan mendapat air yang baru dan masih segar, telah melalui sistem filtrasi dan diusahakan agar bahan- bahan organik seperti sampah yag memungkinkan masuk kedalam kolam sedapat mungkin dihindari.

UPAYA PENGOBATAN
Gejala –gejala klinis
         Manifestasi klinis dari proses penyakit, baik yang infektif maupun non infektif dalam suatu populasi sering menunjukan tanda-tanda/petunjuk pertama terhadap suatu masalah penyakit walaupun ikan jarang atau hampir tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda yang menciri (Pathogonomonic) oleh karena itu diagnosa yang tepat berdasarkan gejala klinis membutuhkan pengalaman dan keterampilan mengobservasi berbagai perubahan klinis. Beberapa perubahan atau tanda-tanda klinis yang perlu diamati antara lain tingkah laku, sikap, keseimbanga warna reflex, pergerakan, pernapasan, kerusakan / luka-luka pada kulit luar dll.
a.    Tingkah laku
         Lele dumbo yang sakit biasanya memperlhatkan tingkah laku menyimpang, misalnya sering menggosok-gosokan badannya pada benda- benda yang ada didalam kolam seperti batu, tanaman air atau kepinggiran kolam/ pematang. Pada kasus lain, ikan lele kehilangan keseimbangan tubuh sehingga gerakannya seprti tidak terkontrol, dan pada ahirnya ikan lele diam didasar kolam dengan sirip dada terbuka atau sekali-kali muncul kepermukaan air seperti menggantung. Ada pula lele sakit yang membuka kedua tutup insangnya lebih lebar dari biasanya, prekuensi pernafasannya meningkat dan tampak terengah-engah. Selain itu ada yang menunjukan gejal mogok makan akibat  kehilangan nafsu makan.

b.   Kelainan warna tubuh
         Jika tubuh lele dumbo mulai terlihat pucat maka harus dicurigai karena kemungkinan sudah mulai ditempeli parasit tertentu. Namun perubahan warna tubuh bisa juga disebabkan stress akibat terjadinya intesitas cahaya gelap keterang. Jika hal ini terjadi biasanya warna lele dumbo kembali normal  dalam waktu yang tidak terlalu lama. Perubahan warna juga sering terjadi jika lele dumbo dalam keadaan takut atau sesaat setelah atau sebelum memijah. Dengan demikian berdasarkan kejadian tersebut, maka perubahan warna pada lele dumbo dapat dianggap sebagai gejala dari suatu penyakit bila tidak ada penyebab lain seperti takut, stress atau setelah dan sebelum memijah. Perubahan warna yang disebabkan oleh penyakit biasanya belangsung lama atau bersifat permanen.

c.    Produksi Lendir
         Lele dumbo yang sakit seringkali memproduksi lendir yang berlebihan. Hal ini cukup terlihat jelas karena lele dumbo berwarna gelap. Produksi lendir yang berlebihan biasanya disebabkan oleh parasit yang menyerang bagian kulit. Banyaknya lendir tersebut tergantung pada intensitas serangan penyakit.


d.   Kelainan bentuk organ tubuh.
13
 
         Serangan tertentu dapat juga menimbulkan kelainan pada organ –organ tubuh tertentu, misalnya terdapat bintik –bintik putih atau merah pada bagian sirip, sisik atau bagian tubuh lainnya. Kelainan bentuk juga dapat terjadi bila serangan sangat hebat dan terjadi infeksi yang parah sehingga mengakibatkan tonjolan – tonjolan   semacam tumor pada insang, mata dan bagian kepala.  

Cara dan teknik mengobati ikan sakit
Tindakan penanggulangan penyakit ikan melalui pengobatan diupayakan agar lele dumbo sembuh tanpa membahayakan keselamatannya karena keracunan obat. Untuk itu perlu diketahui gejala – gejala umum yang timbul kemudian dilakukan diagnosis  untuk menemukan faktor penyebabnya. Setelah itu barulah ditentukan cara pengobatannya. Setelah secara pasti faktor penyebabnya diketahui kemudian ditentukan pula jenis obat yang akan digunakan serta dosisnya yang tepat sehingga tercapai efesiensi penggunaan obat dan efektifitas pemberantasannya. Beberapa teknik pengobatan yang dianjurkan dan biasa diterapkan dalam mengobati ikan terinfeksi suatu penyakit antara lain
a. Pencelupan
         Pencelupan adalah cara pengobatan menggunakan obat obatan alami atau bahan kimia  pada konsentrasi tinggi ( ratus atau ribuan ppm) dan waktu pengobatan sangat pendek. ( 30 detik ) Pengobatan dengan cara pencelupan biasanya menggunakan larutan obat dengan konsentrasi tinggi ( daya racun tinggi ). Bila kondisi ikan sudah terlalu lemah sedang daya racun obat sangat tinggi. Maka ikan bisa mati.Untuk pengobatan cara ini,  lele dumbo yang terinfeksi ditangkap menggunakan serok kemudian lele bersama serokannya dicelupkan kedalam larutan obat yang telah disiapkan selama 30 - 60 detik.  Lele dumbo yang telah diobati dipindahkan ketempat penampungan sambil diberi airasi dan air mengalir.
b.  Perendaman
Pengobatan ini adalah dengan cara memandikan ikan – ikan yang sakit dalam suatu larutan obat tertentu dengan konsentrasi tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam waktu antara 15 -60 menit. Teknis pengobatan dengan cara peandian yaitu ikan – ikan yang terinfeksi di kumpulkan dan secara langsung dimasukan/dilepaskan kedalam larutan obat yang telah disediakan setelah mencapai batas waktu yang telah ditentukan ikan ditangkap kemudian dipindah ketempat penampungan sementara dengan aliran air bersih.
c. Perendaman
         Pengobatan melalui perendaman biasanya menggunakan larutan obat tertentu pada konsentrasi relatif rendah, waktu yang digunakan untuk perendaman cukup panjang yaitu sampai 24 jam. Pengobatan dengan teknik perendaman ini dilakukan 3-5 kali berturut-turut selama 3-5 hari. Setiap kali selesai mengobati, ikan dipindahkan ketempat yang berisi air bersih sambil diberi pakan.
d.  Usapan / Olesan.
         Pengobatan ini biasanya hanya dilakukan pada lele dumbo yang luka. Lele dumbo yang luka diolesi obat tepat pada bagian yang luka, selanjutnya dipindahkan ketempat berair mengalir agar sisa obat yang beracun bagi ikan cepat tercuci.
e.  Pemberian pakan.
         Pengobatan ini terutama ditujukan bagi lele dumbo yang terinfeksi bakteri pada organ tubuh bagian dalam. Obat yang akan digunakan dicampur kedalam pakan ikan sesuai dosis yang dianjurkan. Pakan yang telah dicampuri obat diberikan kepada lele dumbo yang akan diobati sebanyak 2-3% biomas, diberikan 3 kali perhari.

JENIS-JENIS OBAT
A. OBAT ALAMI/TRADISIONAL
1.    Kunyit  (Curcuma longa Linn)
*      Nama daerah: Kunyir, Koneng, Kunyit, Alawahu, Nikwai Pagidon.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis : Bau khas aromatik, rasa agak pahit, sedikit pedas, tidak beracun. Berkhasiat sebagai anti radang ( anti inflamasi) dan anti bakteri.
*      Kandungan kimia : Rimpang mengandung minyak atsiri 3-5 %, turmeron, zingberene, sesquiterpen, alkohol pati , tanin dan damar.
*      Cara pemakaian : Perendaman dan oles.

2.    Lengkuas (Alpinia galanga L willd)
*      Nama daerah : Langkueh, halawas, lengkuas, lawas, laja, langkuwasa.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis: Rasanya pedas dan hangat. Berkhasiat untuk, menetralkan racun, Meningatkan napsu makan( stomakik) dan sebagai obat jamur kulit.
*      Kandungan kimia: Rimpang mengandung minyak atsiri 1% metilsinamat, kamfer, galangin dan eugenol. Sedangkan buah mengandung, methyl ether, kaemferide, galangin dan dimethoxyflavone.
*      Cara pemakaian : melalui perendaman dan dioles.

3.    Daun Dewa ( Gynura pseudochina DC.)
*      Nama daerah : Beluntas cina, Daun dewa.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis Daunnya dapat dikonsumsi dengan cara dilalap atau dijus. Berkhasiat sebagai anti radang, Penghilang nyeri (analgesik), obat luka bakar, luka bekas gigitan hewan berbisa, anti kanker dan peradangan pada jaringan tubuh.
*      Kandungan kimia: Batang, daun dan umbinya mengandung minyakatsiri, saponin , teranoid, tanin dan tekalora.
*      Cara pemakaian : melalui perendaman dan dioles.

4.    Mahkota dewa (phaleria macrocarpa)
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologis : Jika dikonsumsi manusia dalam keadaan segar bisa menyebabkan keracunan. Berkhasiat untuk mengobati kanker, anti oksidan, bersifat analgesik, antipiretik, dan anti radang.
*      Kandungan kimia: Daging buah dan cangkang biji mahkota dewa mengandung alkaloid, flavonoid, senyawa politenol dan tanin.
*      Cara pemakaian : melalui perendaman dan dioles.
*     
19
 
Berhasiat sebagai penambah napsu makan, menetralisir racun ( anti toksik), menghilangkan gumpalan darah dan mengobati cacing ( Vermifuge ).
*      Kandungan Kimia : Batang dan daun mengandung : Minyak atsiri, tanin, lemak, phytosterol dan calcium oxalate.
*      Cara pemakaian :  melalui perendaman atau dioles

6.      Jarak Ulung ( Jatropha gossipifolia L )
*      Nama daerah  : Jarak kosta merah, Jarak cina, jarak ulung.
*      Sifat kimiawi dan efek farmakologi : Getahnya bersabun, biji mengandung minyak. Bagian yang bisa dipakai adalah daun dan biji. Berkhasiat untuk meningkatkan napsu makan, mengobati pembengkakan dan penyakit kulit.
*      Kandungan kimia. : Akar mengandung  alkaloid. Daun dan batang mengandung  tanin, calcium oxalate, dan sulfur.
*      Cara pemakaian : Perendaman dan oles
17
 
 


Cara membuat obat alami/tradisional.
a.      Ekstrak.
         Ekstrak adalah obat alami dalam bentuk kering, kental atau cair yang dibuat dengan cara mengambil sari simplisia (bahan obat ) menurut cara yang cocok tanpa pengaruh cahaya matahari langsung. Wadah untuk menyari, merendam atau merebus simplisia bisa berupa panci stainlees atau toples kaca dan pengaduk dari kayu. Sedangkan simplisia yang digunakan berupa daun, buah, batang maupun rempang yang masih segar atau simplisia yang telah dikeringkan dan telah diawetkan sebelumnya.
         Salah satu cara ekstraksi yang biasa dilakukan adalah dengan cara memasak air sampai mendidih, kemudian simplisia direbus selama sekitar 30 menit. Selanjutnya bahan rebusan tersebut disaring dengan kain atau kawat kasa. Setelah itu air rebusan di panaskan lagi sampai mengental, dan didinginkan.
            Ekstrak ini merupakan bahan dasar untuk pembuatan obat dalam bentuk serbuk atau dalam bentuk salep/krim atau dapat juga digunakan langsung untuk pengobatan dengan cara perendaman, pemandian maupun pengusapan/oles dengan cara mencampur dengan air bersih sesuai dosis yang dianjurkan.
b.      Obat serbuk     
         Obat serbuk dibuat dengan cara mencampur ekstrak kental dengan saccarum lactis ( gula susu), sedikit demi sedikit sampai terbentuk adonan yang dapat dibentuk lempengan. Selanjutnya lempengan tersebut di jemur sampai kering lalu digiling dan hasil gilingannya disaring dengan kawat kasa sehingga didapatkan serbuk halus yang berukuran seragam.
         Obat serbuk ini dapat digunakan untuk pengobatan dengan cara perendaman, pemandian, pengolesan dan pengobatan melalui pakan.

c.       Obat oles ( krim/ Lulur )
         Obat oles biasanya berupa salep yang merupakan campuran minyak tumbuhan dengan bahan-bahan yang telah berbentuk ekstrak. Minyak tumbuhan yang digunakan untuk mencampur adalah minyak kelapa atau minyak zaitun dicampur bahan pengemulsi(emulgator) seperti gom arab, acacia dan tragacanth. Pembuatannya dilakukan dengan cara mencampur, minyak, ektrak kental dan emulgator dengan perbandingan 2 : 4 : 1 diaduk dengan cepat hingga menjadi bentuk krim emulsi. Pembuatan obat oles ini tidak boleh dipanaskan karena dapat memisahkan minyak dan air yang telah bercampur. Krim atau lulur ini dapat digunakan untuk pengobatan luka atau borok yang terinfeksi bakteri atau parasit. Dengan cara dioleskan tepat pada bagian yang luka.
d.      Ramuan
          Ramuan adalah campuran berbagai macam bahan obat-obatan segar atau yang telah diawetkan untuk mengobati penyakit tertentu, sehingga perbandingan jumlah bahannya disesuaikan dengan kebutuhan kandungan bahan kimia dalam bahan yang akan digunakan. Cara pembuatanya, semua bahan dirajang kecil-kecil kemudian direbus hingga air rebusan tersisa separuhnya. Air rebusan tersebut selanjutnya digunakan untuk pengobatan.

OBAT KIMIA
         Obat-obatan kimia yang lazim digunakan dalam pengobatan penyakit ikan banyak sekali jenisnya. Ada yang berbentuk serbuk ada pula yang berbentuk cairan. Semuanya merupakan bahan kimia. Berdasarkan sifatnya jenis-jenis obat obatan tersebut dapat dikelompkan menjadi  obat anti biotik, desinfektan , insektisida obat oles dan obat obat lain.
a.      Obat serbuk
         Umumnya obat antibiotik digunakan untuk penyakit bakterial yang diaflikasikan dengan cara perendaman, penyuntikan maupun pengobatan melalui pakan. Contoh obat antibiotik adalah Tetrasiklin. Kemisitin, oksitetracyclin hcl, streptomisin, sulfamerizin sulfanomid.
b.      Obat oles
         Obat oles yaitu obat- obatan yangdigunakan manusia terutama untuk mengobati luka luka. Obat ini berbentuk cairan, penggunaannya dalam pengobatan ikan harus diencerkan dahulu hinga sepuluh kali. Cara penggunaannya dioleskan dengan bantuan kapas tepat pada luka ditubuh ikan yang terinfeksi penyakit bakterial atau parasit lainnya yang bisa menyebabkan luka atau borok pada tubuh ikan. Contohnya adalah obat merah ( jodium tinktur, mercurochrome ) kecuali itu ada lagi bedak talk yang penggunaannya juga dioleskan, terutama untuk melepaskan jenis ektoparasites seperti argulus sp, yang menempel ketat pada tubuh ikan.

c.       Obat- obat lain
         Justru obat- obatan inilah yang paling sering dimanfaatkan dalam pengobatan lele dumbo, sebagian besar berbentuk serbuk, bersifat racun, dan harganya relatif mahal. Obat ini mudah diperoleh ditoko- toko kimia atau di afotik. Obat – obat dimaksud yang sudah dikenal luas adalah malchyt green, methyline blue, cooper sulfat, PK, rivanol, bromex, formalin, Hcl quinine, Chinine trifaplafin, garam amonia dan kalium bikromat.

JENIS  PENYAKIT LELE DUMBO
         Bila dilihat berdasarkan biotaksonominya, parasit penyebab penyakit pada lele dumbo, digolongkan dalam dua golongan yaitu zoo-parasites dan Phytoparasites.
Zoo parasites
         Parasit yang secara biotaksonomi tergolong dalam dunia hewan   ( animal kingdom) diantaranya sebagai berikut.
a.      Cyclochaeta ( Trichodina sp )
         Cyclochaeta atau lebih dikenal dengan Trichodina, berkembang biak dengan cara membelah diri dan selama hidupnya berada pada tubuh ikan. Bagian bawahnya terdapat mulut yang dilingkari suatu alat dari zat kitin berjumlah 20 – 30 buah, berfungsi sebagai alat untuk menempel pada tubuh atau insang, sekaligus sebagai alat pengisap. Parasit ini sering menempel pada lele yang telah terjangkit parasit lain. Bagian badan yang diserang  menjadi
pucat, terkadang disertai dengan pendarahan. Bagian tubuh yang terinfeksi banyak mengeluarkan lendir
*              Siklus hidup
         Berdasrkan siklus hidupnya ,cyclochaeta termasuk parasit onligat yaitu selama hidupnya berfungsi penuh sebagai parasit dan tidak pernah melepaskan diri dari inangnya ( ikan ) sehingga parasit ini tidak bisa hidup tanpa ikan. Penularannya akan terjadi apabila ada kontak langsung antara ikan yang terjangkit dengan ikan sehat
*              Gejala infeksi
         Tubuh lele dumbo bagian luar yang terkena infeksi menjadi pucat, banyak mengeluarkan lendir, serta kemerah merahan karena terjadi pendarahan. Warna tubuh pucat dan tingkah laku tidak normal   ( ikan menjadi lemah terjadi penurunan berat tubuh, terjadi iritasi pada kulit )
*              Pencegahan       : Memelihara kondisi lingkungan, Kolam didesinfekstan sebelum penebaran ikan. Kalau memungkinkan, copepoda harus dihambat agar tidak masuk kekolam. Populasi lele dumbo dijaga serendah mungkin, makanan harus tersedia dalam jumlah dan mutu yang cukup

b.      Bintik Putih (white spot)
         Parasit ini sering dijumpai pada lele dumbo dan terlihat seperti bintik- bintik putih sehingga disebut penyakit bintik putih ( White spot). Parasit tersebut menyerang lele dumbo secara berkelompok membentuk koloni yang bersarang pada lapisan lendir kulit, sirip hingga lapisan insang.
         Parasit yang dapat menyebabkan pendarahan ini termasuk protozoa yang sangat ganas, sesuai namanya ichtioptirius berarti penghancur ikan, yang mampu berkembang biak dalam waktu yang sangat singkat.
*              Siklus hidup
         Didaerah tropis siklus hidup nya lebih pendek dari pada didaerah sub tropis ( sedang) . Metabolismenya sangat cepat pada suhu yang hangat sehingga perkembang biakannya pun pesat sekali. Penyakit
Bintik putih agak sulit diberantas karena pada tahap parasiter hidup terbungkus selaput sel lendir ikan. Larutan obat tidak akan meresap mengenai parasit tanpa merusak selaput lendir ikan. Namun demikian cara memutuskan siklus hidupnya, parsit ini dapat diberantas secara efektif.
         Siklus hidup Ichtyoptihirius multifilis dibagi menjadi empat fase yaitu :
1.      Fase parasiter , ketika hidup pada ikan
1.             Fase pra kista : Setelah dewasa dan melepaskan diri dari tubuh ikan, tetapia belum membentuk kista
2.             Fase kista : Selama terjadi proses membelah diri, terbungkus dinding lendir  melekat padaa suatu benndda didalamair.
3.              Fase paskakista : Berupa benih- benih parasit yang baru keluar dari kista.
         Pada fase parasiter parasit ini melekat padad tubuh ikan selama lebih kurang 8 hari, setelah itu melepaskan diri dan hidup bersifat planktonis ( melayang-layang) didalam air untuk beberapa saat lamanya. ( fase prakista). Saat itulah kesempatan paling tepat untuk mengobati lele yang sakit sekaligus membunuh parasit. Kesempatan kedua terjadi pada saat parasit baru keluar dari kista dan masih berupa benih parasit ( fase paskakista)
*              Gejala Infeksi
         Bagian tubuh lele dumbo yang menjadi sasarannya adalah sel- sel pigmen, sel- sel darah, dan sel- sel lendir. Bila yang diserang bagian kepala, terutama permukaan insang, lele dumbo biasanya megap- megap seperti sesak nafas, lama kelamaan mati. Serangan yang ringan pada selaput lendir mengakibatkan lele gatal- gatal, jika serangan
menghebat tak jarang terjadi pendarahan. Sering juga terjadi lele dumbo yang diserang penyakit bintik putih banyak mengeluarkan lendir, tubuhnya pucat, serta pertumbuhannya lambat.Terjadi iritasi, lele menggosok gosokan tubuhnya ketepi kolam. Pada lele dumbo yang terinfeksi lebih lanjut, akan terlihat meloncat loncat kepermukaan air dan megap megap untuk mengambil udara, nafsu makan berkurang, terjadi perubahan warna, geraka nmenjadi lamban dan tidak responsip terhadap rangsangan.

Penyakit bakteri
a.      Aeromonas ( Bercak merah)
         Bakteri Aeromonas termasuk patogen terhadap ikan. Dari genus aeromonas terdapat 3 spesies yaituAeromonas punctata, Aeromonas Hydrophilla  dan Aeromonas liquifaciens.
29
 
         Terlepas dari adanya perbedaan dalam hal klasifikasi, yang jelas bakteri terdapat di dalam tanah maupun didalam alat pencernaan ikan. Habitatnya adalah air tawar terutama yang mengandung kadar bahan organik tinggi. Khusus bakteri Aeromonas hydrophilla biasanya merupakan
penyerang kedua setelah terinfeksi parasit lain ataujika ikan menderita stress.
*              Gejala Infeksi
         Ikan  lele yang terserang bakteri Aeromonas warna tubuhnya berubah menjadi gelap, kulitnya kesat karena kehilangan banyak lendir diikuti pendarahan dan luka/borok. Selain itu ikan berenang sangat lemah , napasnya megap- megap,sering timbul atau menggantung  dipermukaan air. Bila menyerang organ dalam biasanya ginjal dan limpanya bengkak atau terkadang terjadi pendarahan
Faktor penunjang : Kualitas air buruk, terutama bila bahan organik tinggi karena perubahan musim. Temperatur air berfluktuasi tinggi antara siang dan malam serta kadar oksigen sangat rendah.
*              Pencegahan      
 -       Sanitasi air dan wadah/kolam.
-           Desinfeksi peralatan
-           Karantina ikan yang baru

Phyto-parasites
         Phyto- parasites adalah parasit yang secara biotaksonomi tergolong dalam dunia tanaman ( plant kingdom ). Dari golongan phyto parasites terdapat dua genus jamur ( fungi) yang paling dikenal didunia perikanan yaitu jamur achliya dan saprolegnia.
         Kedu parasit ini memiliki bentuk yang hampir sama yaitu menyerupai benang- benang halus. Jamur achliya dan saprolegnia cukup berbahaya bagi benih dan telur ikan. Ikan dewasa yang badannya mengalami luka fisik juga akan mudah menjadi mangsa parasit ini.

*              Siklus hidup
         Meskipun siklus jamur ini belum diketahui secara pasti, tetapi wabah achliya dan saprolegnia umumnya terjadi pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan organik terutama bila sedang terjadi proses pembusukan. Dalam keadaan suhu relatif rendah, serangannya juga bisa menghebat. Ikan yang tubuhnya lemah atau menderita luka akibat  terkena serangan parasit lain akan cepat dijangkiti jamur ini sebagai infeksi kedua.
*              Gejala infeksi
         Ciri khas akibat serangan jamur pada badan lele dumbo terdapat benang – benang halus berwarna putih seperti kapas. Kalau tidak segera ditangani lama kelamaan lele dumbo menjadi kurus dan akhirnya mati karena jamur mampu menerobos kulit bagian dalam terus masuk keotot daging bahkan sampai ketulang. Sasaran penyakit jamur bukan saja benih atau ikan dewasa tetapi telur pun sangat mudah terinfeksi. Penyerangan terjadi terutama pada lele yang sebelumnya sudah terjangkit parasit lain atau mengalami luka fisik sehingga penyerangan jamur ini merupakan infeksi kedua. Mewabahnya penyakit ini sering terjadi pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan-bahan organik dan sedang terjadi pembusukan. Serangannya sangat menghebat bila terjadi penurunan suhu air.

PENGOBATAN/PENGENDALIAN PENYAKIT

NO
JENIS PENYAKIT
PENGOBATAN/PEMBERANTASN
ALAMI
KIMIA
1
Tricodina/
cyclochaeta
1. Perendaman dalam  20 gr serbuk sambiloto dalam 100 liter air bersih selama 12 jam. Sebanyak 3 kali berturut – turut selama 3 hari. 
1. Dimandikan dalam larutan garam dapur (NaCl) 2.5 % atau 2.5 gr Na CL dalam 100 ml Air bersih sebanyak 3 kali berturut – turut selama 3 hari


2. Perendaman dalam ramuan, buah mahkota dewa 20 gram, Rempang kunyit 30 gram dan daun miana 25 gram. Semua bahan direbus dalam 1 liter air sampai tersisa 500 cc. Air rebusan dicampur 100 liter air bersih untuk peren daman selama 24 jam. Pengobatan dilakkan 3 kali berturut-turut.
2. Perendaman dengan formalin konsentrasi 25 mg/l atau 2,5 gr formalin dalam 100 liter air bersih. Perendaman dilakukan selama 10 menit ditempat yang teduh. Pengobatan diulangi 2 -3 kali dalam jangka waktu 2-3 hari.
2
Bintik Putih  (white spot)
1Perendaman dengan serbuk kunyit 50 gram dalam air 100 liter, dengan suhu air 28-30oC selama 24 jam. Pengobatan dilakukan 3 kali berturut-turut. 
1.Perendaman dalam larutan metil biru 0.gr dalam 100 ml air bersih Masukan ikan yang sakit dan biarkan selama 24 jam



2. Perendaman dalam ramuan segar daun dewa 30 gram, daun sambiloto 25 gram, buah mahkota dewa 30 gram dan daun jarak ulung 25 gram. Semua bahan direjang kecil-kecil, direbus dalam air 1 liter sampai tersisa 500 cc. Air rebusan dicampur 100 liter air bersih dengan suhu 28-30oC. Untuk perendaman selama 24 jam. Pengobtan dilaku kan 3 kali berturut-turut.
2. Perendaman dalam larutan chinine tripaflavin dan vinanol, dosis nya 10 ppm ( 10 mg/l air ) selama tiga hari berturut turut. menit.


3
Aeromonas (Bercak merah)
1. Perendaman dalam ekstrak cair lengkuas 25 ppm selama 24 jam. Perendaman dilakukan berulang-ulang sampai ikan sembuh.
1. Perendaman dalam nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24 jam.



2. Perendaman dalam irisan buah mahkota dewa segar sebanyak 40 gram dalam air 100 liter selama 24. jam. Pengobatan dilakukan berulang-ulang.
2.Perendaman dalam PK 10 – 20 ppm selama 30-60 menit atau 3-5 ppm selama 12-24 jam



3. Ramuan serbuk daun dewa 15 gram, serbuk daun sambiloto 20 gr dan serbuk daun jalak ulung  15 gram dicampur dalam setiap  kilogram makanan. Diberikan selama 1-2 minggu sebanyak 3% biomas/hari.
3.Perendaman dengan oxytetra cyclin 5 ppm selama 24 jam, imequyl 5 ppm selama 24 jam, bytril 5-8 ml/m3 selama waktu tak terbatas.
4
Phyto-parasites/ jamur
Telur yang akan ditetaskan direndam terlebih dahulu dalam ekstrak cair sambiloto sebanyak 25 gram, atau ekstrak cair daun miana sebanyak 25 gram dalam air 100 liter selama 60 menit.
Telur yang akan ditetaskan sebaiknya direndam dahulu dlm larutan malachite green 0.15 ppm selama 30 -60 menit. Larutan tersebut dapat dibuat dari 150 mg malachyte green dicampur kedalam 1000 l air bersih


2. Untuk lele berukuran besar dapat diobati dengan olesan obat oles/krim daun dewa, atau krim sambiloto. Sebelum dioles, terlebih dahulu jamur dicabut atau dipotong dari tubuh ikan.
3.Olesan bisa dilakukan pada ikan berukuran besar dengan obat merah 2 % yang diencerkan 10 kali ( 1 bagian obat dicampur dengan 9 bagian air )

DAFTAR PUSTAKA
Darti S.L , Penyakit ikan hias, Penebar swadaya, Jakarta
Prihartono Eko, Juansyah R, dan Usni Arie, Mengatasi Permasalahan   Budidaya Lele dumbo. Penebar swadaya, cet 3, Jakarta   2001.
Susanto, H. Ikan Lele. Kanisius Yogyakarta
Sudewo, Bambang. Tanaman Obat Populer, Agro Media Pustaka, Jakarta. 2004.

Syambas M. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Lele Dumbo Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Diposkan olehMunawaroh,S.P.

Selasa, 09 Mei 2017

PERAN PENYULUH PERIKANAN DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN UMKM PERIKANAN

PERAN PENYULUH PERIKANAN DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN UMKM PERIKANAN

PENYULUHAN PERIKANAN adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (PermenPAN Nomor: PER/19/M.PAN/10/2008).
Tujuan Penyelenggaraan Penyuluhan Perikanan adalah Pemberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha dalam peningkatan kemampuan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, penumbuhan motivasi, pengembangan potensi, pemberian peluang, peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta pendampingan dan fasilitasi dalam pengembangan bisnis perikanan.
Naiknya harga berbagai macam kebutuhan pokok seiring dengan dampak krisis global yang terjadi sejak akhir tahun 2008, dapat berdampak pada naiknya jumlah masyarakat miskin di Indonesia. Hal tersebut dapat secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelaku utama dan pelaku usaha perikanan.
Pendapatan dan produktifitas usaha sebagian besar pelaku utama perikanan (nelayan, pembudidaya ikan, dan pengolah ikan beserta keluarga intinya) masih rendah, sehingga perlu adanya fasilitasi untuk penumbuhkembangan bisnis perikanan dalam mendukung usaha atas kemampuan sendiri (kemandirian progresif).
Pelaku utama dan pelaku usaha perikanan memerlukan bimbingan dan pembinaan secara berkelanjutan, salah satu bentuk kegiatannya adalah melalui penyuluhan perikanan.
Upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan antara lain dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri, diantaranya adalah dengan pemberian akses yang luas terhadap sumber-sumber pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang pada dasarnya merupakan bagian dari masyarakat miskin yang mempunyai kemauan dan kemampuan produktif. Perlu kita sadari bahwa kontribusi UMKM dalam PDB semakin besar, namun hambatan yang dihadapinya besar pula, diantaranya kesulitan mengakses sumber-sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan formal. Keterbatasan akses sumber-sumber pembiayaan yang dihadapi UMKM khususnya pelaku usaha mikro dan kecil, terutama dari lembaga-lembaga keuangan formal seperti perbankan, menyebabkan mereka bergantung pada sumber-sumber informal. Bentuk dari sumber-sumber ini beraneka ragam mulai dari pelepas uang (rentenir) hingga berkembang dalam bentuk unit-unit simpan pinjam, koperasi dan bentuk-bentuk yang lain (Wirjo, 2005).
Apabila dilihat dari berbagai peraturan pemerintah UMKM dapat dicirikan sebagai berikut:
1. Usaha Mikro
Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003, yaitu usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) per tahun. Usaha mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
2. Usaha Kecil
Usaha Kecil sebagaimana dimaksud Undang-undang No.9 Tahun 1995 adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih paling banyak Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) per tahun serta dapat menerima kredit dari bank maksimal di atas Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
3. Usaha Menengah
Usaha Menengah sebagaimana dimaksud Inpres No.10 tahun 1998 adalah usaha bersifat produktif yang memenuhi kriteria kekayaan usaha bersih lebih besar dari Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak sebesar Rp.10.000.000.000,00, (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha serta dapat menerima kredit dari bank sebesar Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) s/d Rp.5.000.000.000,- (lima milyar rupiah).
Dilihat dari kepentingan perbankan, usaha mikro adalah suatu segmen pasar yang cukup potensial untuk dilayani dalam upaya meningkatkan fungsi intermediasi-nya karena usaha mikro mempunyai karakteristik positif dan unik yang tidak selalu dimiliki oleh usaha non mikro, antara lain :
a. Perputaran usaha (turn over) cukup tinggi, kemampuannya menyerap dana yang mahal dan dalam situasi krisis ekonomi kegiatan usaha masih tetap berjalan bahkan terus berkembang;
b. Tidak sensitive terhadap suku bunga;
c. Tetap berkembang walau dalam situasi krisis ekonomi dan moneter;
d. Pada umumnya berkarakter jujur, ulet, lugu dan dapat menerima bimbingan asal dilakukan dengan pendekatan yang tepat.
Namun demikian, disadari sepenuhnya bahwa masih banyak usaha mikro yang sulit memperoleh layanan kredit perbankan karena berbagai kendala baik pada sisi usaha mikro maupun pada sisi perbankan sendiri.
Untuk mendorong usaha mikro ini memang disadari bahwa modal bukan satu-satunya pemecahan, tetapi tetap saja bahwa ketersediaan permodalan yang secara mudah dapat dijangkau mereka sangat vital, karena pada dasarnya kelompok inilah yang selalu menjadi korban eksploitasi oleh pelepas uang. Salah satu sebabnya adalah ketiadaan pasar keuangan yang sehat bagi masyarakat lapisan bawah ini, sehingga setiap upaya untuk mendorong produktivitas oleh kelompok ini, nilai tambahnya terbang dan dinikmati para pelepas uang. Adanya pasar keuangan yang sehat tidak terlepas dari keberadaan Lembaga Keuangan yang hadir ditengah masyarakat.
Lingkaran setan yang melahirkan jebakan ketidak berdayaan inilah yang menjadikan alasan penting mengapa lembaga keuangan mikro yang menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro menempati tempat yang sangat strategis. Oleh karena itu kita perlu memahami secara baik berbagai aspek lembaga keuangan mikro dengan segmen-segmen pasar yang masih sangat beragam disamping juga masing-masing terkotak-kotak.

Gambar 1. Problem dan Solusi Pengembangan UMKM
Usaha mikro sering digambarkan sebagai kelompok yang kemampuan permodalan usahanya rendah. Rendahnya akses UMKM terhadap lembaga keuangan formal, sehingga sampai dengan akhir tahun 2007 hanya 12 % UMKM akses terhadap kredit bank karena :
a. Produk bank tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi UMKM;
b. Adanya anggapan berlebihan terhadap besarnya resiko kredit UMKM;
c. Biaya transaksi kredit UMKM relatif tinggi;
d. Persyaratan bank teknis kurang dipenuhi (agunan, proposal);
e. Terbatasnya akses UMKM terhadap pembiayaan equity;
f. Monitoring dan koleksi kredit UMKM tidak efisien;
g. Bantuan teknis belum efektif dan masih harus disediakan oleh bank sendiri sehingga biaya pelayanan UMKM mahal;
h. Bank pada umumnya belum terbiasa dengan pembiayaan kepada UMKM.
Secara singkat kredit perbankan diselenggarakan atas pertimbangan komersial membuat UKM sulit memenuhi persyaratan teknis perbankan, terutama soal agunan dan persyaratan administratif lainnya (http://one.indoskripsi.com/content/lembaga-keuangan-mikro,Posted January 15th, 2008 by fan_dunk).
Menurut Wirjo (2005), Lembaga keuangan mempunyai fungsi sebagai intermediasi dalam aktifitas suatu perekonomian. Jika fungsi ini berjalan baik, maka lembaga keuangan tersebut dapat menghasilkan nilai tambah. Aktifitas ekonomi disini tidak membedakan antara usaha yang dilaksanakan tersebut besar atau kecil, karena yang membedakan hanya besarnya nilai tambah berdasarkan skala usaha. Hal ini berarti bahwa usaha kecilpun jika memanfaatkan lembaga keuangan juga akan memberikan kenaikan nilai tambah, sehingga upaya meningkatkan pendapatan masyarakat salah satunya dapat dilakukan dengan cara yang produktif dengan memanfaatkan jasa intermediasi lembaga keuangan, termasuk usaha produktif yang dilakukan oleh masyarakat miskin.
Pengentasan kemiskinan dapat dilaksanakan melalui banyak sarana dan program baik yang bersifat langsung maupun tak langsung. Usaha ini dapat berupa transfer payment dari pemerintah misalnya, program pangan, kesehatan, pemukiman, pendidikan, keluarga berencana, maupun usaha yang bersifat produktif misalnya melalui pinjaman dalam bentuk micro credit.
Secara hipotesis, kaitan antara pemberdayaan kredit mikro dengan upaya pengentasan kemiskinan merupakan pintu masuk relatif mudah bagi orang yang akan menjadi pengusaha pemula. Jika pengusaha pemula ini tumbuh dan berkembang akan terentaskan karena menjadi pengusaha atau karena trickle down effect dari semakin banyaknya pengusaha mikro (Wirjo, 2005).

Akses kredit pada LKM maupun perbankan hanya dapat dilakukan oleh pelaku utama atau kelompok pelaku utama yang dapat memenuhi prinsip-prinsip perkreditan (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of social, economy and environment, and Constraint), sehingga diperlukan penambahan penambahan kompetensi/kemampuan pelaku utama sebagai anggota kelompok melalui kegiatan penyuluhan perikanan.

Senin, 08 Mei 2017

Mengapa Antibiotic dilarang untuk budidaya ikan?

Mengapa Antibiotic dilarang untuk budidaya ikan?




Budidaya peraiaran khususnya udang merupakan salah satu andalan ekspor dan dibudidayakan secara meluas oleh petambak di seluruh Indonesia. Tetapi kadangkala hasil dari udang Indonesia mendapat hambatan untuk bisa masuk ke pasar Amerika Serikat, Canada serta negara-negara Eropa. Hambatan ini, menurut mereka karena adanya bahan-bahan yang berbahaya yang digunakan dalam proses produksi serta adannya perusakan lingkungan untuk digunakan sebagai tambak budidaya udang. Dibawah ini merupakan tulisan mengenai bahayanya mengkonsumsi produk budidaya perikanan menurut salah satu lembaga swadaya masyarakat disana yang coba telah saya terjemahkan. Dengan mengetahui alur pikiran mereka, paling tidak bisa kita gunakan pengetahuan untuk menghindari penggunaan produk yang mereka tentang untuk proses produksi budidaya udang.

Penggunaan antibiotic dalam budidaya udang dan bagaimana pengaruhnya untuk kesehatanmu
Perhatian utama untuk orang yang makan udang tambak terutama sekali yang mengkonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama adalah penggunaan antibiotic untuk mencegah dan menghilangkan bakteri,   kondisi ini umun terjadi di dalam tambak udang (lihat grafik 1, halaman 15) agen kimia ini digunakan di tambak dicampurkan ke air dan tambak untuk mengontrol virus, bakteri , jamur dan pathogen lainnya;Untuk merangsang pertumbuhan plankton (pupuk dan mineral); dan untuk Menumbuhkan larva udang di tambak. Bahan kimiawi ini termasuk ; therapautant  (antibiotik), Berbagai jenis pestisida untuk ganggang dan pestisida, disinfektan, deterjen dan bahan cair lainnya dan perlakuan kimiawi untuk tanah. Semuanya itu digunakan dalam jumlah yang sangat banyak oleh industri aqucultur dunia1.
 Dalam satu decade terakhir berbagai penyakit menghancurkan seluruh  industri udang di seluruh  Negara yang memproduksinya bahkan tanpa panen sama sekali. Salah satu perusak yang paling terkenal adalah White Spot Syndrome Virus (WSSV)  dimana penyakit ini telah menyebar secara luas,yang menyebabkan tingkat kematian sangat tinggi dibanyak spesies udang atau crustacean  lainnya2.Gejala penyakit ini ditandai dengan bercak putih di badan dan akan menghancurkan badan,  yang terjadi paling cepat 10 hari, ini membuat hasil panen tidak bisa dipasarkan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat banyak. Pemrosesan udang yang tidak sesuai aturan, penggunaan dan pembuangan udang impor yang terkena infeksi, atau penggunaan larva udang yang terkontaminasi telah menyebabkan tingkat penyebaran WSSV dari zona endemic ke alam dan panti pembenihan di seluruh dunia3. WSSV dapat terus hidup di pembekuan dan konsekuensinya akan dapat tetap hidup dalam alat pendingin di pasar.Hasil dari investigasi udang yang dijual di supermarket, yang dipublikasikan di Boston pada januari 2002 memberikan bukti-bukti pendahuluan bahwa dalam jumlah yang besar (4,7%) udang di pasaran membawa WSSV4. Ilmuwan menyimpulkan bahwa virus dapat menyebar kepada lingkungan alami lokal, yang bisa membuat suatu resiko substansiil. Walaupun masih, belum ada bukti bahwa ada suatu varian WSSV di manusia. Dampak potensial atas kesehatan masyarakat memerlukan penyelidikan lebih lanjut . Di dalam usaha untuk melindungi udang mereka dari efek WSSV dan pathogens lain, petambak udang di seluruh dunia berbalik kepada bahan kimia dan industri farmasi, walaupun itu hampir mustahil untuk mengendalikan WSSV selain dari dengan memanen seluruh udang yang terkena infeksi5 . Disana ada sedikit batasan pada pemakaian bahan kimia di dalam budidaya udang di negara-negara di mana udang dibudidayakan dan banyak zat antibiotic secara luas tersedia dari bahan kimia dan  para penyalur farmasi.
Amerika Serikat menetapkan peraturan secara keras dan tegas, membatasi penggunaan zat antibiotik di dalam budidaya udang dan membaginya menjadi 3 bagian obat-obatan : oxytetracycline,sulfamerazine, dan suatu kombinasi obat yang berisi sulfadimethozine dan ormetoprim. Inang zat antibiotic dengan luas digunakan dalam aquaculture untuk merangsang pertumbuhan dan untuk mengurangi timbulnya dan efek penyakit yang disebabkan oleh kepadatan yang tinggi , kondisi-kondisi di dalam tambak , tidak sama dengan kondisi-kondisi yang ditemukan dipeternakan ayam di mana zat antibiotk adalah juga biasa digunakan. Semakin banyak zat antibiotic digunakan, bagaimanapun juga, semakin cepat kekebalan bakteri berkembang, dan masalah ini sedang mencapai bagian krisis hari ini. Ketika . seperti tingkat ketahanan berkembang , pertumbuhan bakteri tidak lagi bisa dicegah dengan zat antibiotic dan dengan begitu zat antibiotic adalah tidak lagi mampu untuk perlakukan atau mengobati penyakit itu.
Terus meningkatnya bakteri  menjadi lebih bersifat kebal tidak hanya bagi satu zat antibiotic , tetapi banyak zat antibiotic, membuatnya lebih sukar untuk menyerang bakteri yang menyebabkan macam-macam penyakit di dalam manusia. FDA menyetujui  kekebalan zat antibiotic itu telah menjadi suatu peningkatan masalah. " mikroba yang menyebakan penyakit sudah menjadi bersifat kebal terhadap  obat  therapy adalah suatu peningkatan masalah kesehatan masyarakat. TBC , Kencing nanah, Malaria, dan infeksi  telinga anak-anak adalah beberapa penyakit dimana Chloramphenicol sudah menjadi susah digunakan untuk pengobatan sebagai obat antibiotic6. tidak hanya permasalahan peningkatan daya tahan terhadap zat antibiotic, tetapi bakteri yang sifatnya merugikan  bisa berpotensi memindahkan gen kekebalan bagi bakteri lain di dalam apa yang   dinamakan , " horizontal gene transfer." Bakteri ini dapat juga ditransfer antara dan diantara binatang dan manusia7 . Sebagai contoh, di Amerika Serikat, Gen yang bersifat kebal terhadap zat antibiotic tetracycline telah ditemukan didalam bakteri di lahan dan saluran air bawah permukaan ke arah muara dari dua fasilitas babi di Illionis yang menggunakan zat antibiotic sebagai pemacu pertumbuhan. Penemuan yang menunjukkan potensi untuk penyebaran organisma yang bersifat merugikan kembali ke rantai makanan binatang dan manusia8.
Zat antibiotic digolongkan menurut bagaimana mereka menyerang sel bakteri yang menjadi target  mereka. Di antara kelas zat antibiotic yang kuat yang telah secara luas digunakan dalam budidaya udang adalah untuk menghalangi sintese protein di dalam sel pathogens, seperti nitrofurans, phenicols, dan tetracyclines. Yang lain secara luas menggunakan kelas antibiotics, quinolones, mengganggu replikasi DNA dan memperbaiki sel bakteri. Tetracyclines, terutama oxytetracycline, dan quinolones, mencakup asam oxolinic dan flumequine, adalah di antara zat antibiotic yang paling umum digunakan di dalam tambak udang. Ketika kejadian terkena penyakit telah sangat parah, bagaimanapun juga , petambak udang berbalik menggunakan zat antibiotic yang lebih kuat,  phenicols dan nitrofurans.
FDA melarang chloramphenicol yang sifat antibioticnya sangat kuat dan  berpotensi beracun ( salah satu dari phenicols) di tahun 1989 oleh karena resiko pengembangan kekuatan antibiotic dalam melawan penyakit pada manusia 9 dan suatu hubungan dengan sesuatu yang jarang dan sering juga penyakit yang fatal, anemia aplastic. Chloramphenicol adalah sangat beracun bagi manusia, tetapi zat antibiotic digunakan untuk manusia hanya ketika situasi perawatan penyakit tidak ada obat lain yang effective10. Eropa, Jepang dan banyak lain negara-negara juga telah melarang  zat pembunuh antibiotic itu di dalam makanan, tetapi  masih mengijinkan untuk perawatan spesifik oleh dokter hewan. Nitrofurans juga berbahaya oleh karena potensi kandungan carcinogenic dan dilarang  untuk digunakan di makanan produksi binatang di EU dan US12.  Yang dilarang untuk mengkonsumsinya bagaimanapun juga , tidak berarti zat antibiotic yang berpotensi berbahaya dan kuat ini  digunakan di aquaculture negara-negara produsen. Walaupun pemerintah beberapa negara-negara di mana banyak terdapat tambak udang berbicara nyaring membatasi aplikasi langsungnya di dalam aquaculture, tetapi hal ini masih sering diterapkan secara tidak sah, atau secara tidak langsung yang diterapkan dengan  mencampurnya dengan makanan berbahan dasar tepung ikan yang diimport, yang meninggalkan residu kimia di dalam udang yang diekspor ke U.S. yang digunakan untuk konsumsi  manusia13.
Isu Zat antibiotic Udang pada tambak udang meledak di Eropa dan sesudah itu di Jepang, Canada, dan U.S. ketika, di  akhir-akhir 2001 dan ke dalam 2002, Pejabat makanan yang berwenang di UE mendeteksi tingkatan chloramphenicol yang tak dapat diterima dan nitrofurans di dalam udang yang diimport dari Negeri China, Vietnam, Indonesia, Thailand Dan India.14 Beberapa produsen udang dan eksportir berargumentasi bahwa pernyataan tanpa bukti itu tidaklah benar, bahwa produk yang dikirim  tidaklah diproduksi menggunakan obat  ini, atau bahwa sejumlah jejak yang ada dalam tingkat rendah itu lebih mungkin karena kontaminasi pencemaran lingkungan, dibandingkan  penggunaan obat  yang secara  gelap. Beberapa juga berargumentasi bahwa tingkatan sangat rendah tidak bersikap apapun  terhadap resiko ke konsumen, bertentangan dengan nol standard toleransi

Diposkan oleh Munawaroh,S.P.

Kamis, 04 Mei 2017

Isu kontaminasi produk perikanan oleh bahan kimiawi dan bahan antibiotik yang berbahaya

Isu kontaminasi produk perikanan oleh bahan kimiawi dan bahan antibiotik yang berbahaya

III. ISU-ISU UTAMA DI DALAM INDUSTRI AQUACULTURE ASIA

     Isu lain yang dibahas mengenai kontaminasi produk perikanan oleh bahan kimiawi dan bahan antibiotik yang berbahaya. Disini diuraikan bagaimana produk perikanan budidaya bisa tercemar oleh kontaminasi bahan kimiawi dan bahan antibiotik, dan bagaimanan dampaknya bagi produk perikanan budidaya tersebut.
CONTAMINANTS

Dioxins

Di tahun 1999, kontaminasi dioxin dari Produk Makanan Belgia lewat kontaminasi makanan mengakibatkan EU yang mengesahkan pembatasan sementara pada perdagangan susu dan produk susu, daging sapi, daging babi, unggas, telor dan turunan telor, dan makanan dari sapi. Mereka juga memulai penyelidikan ilmiah untuk mengembangkan suatu kebijakan EU atas dioxins di  makanan dan pakan. Dioxins adalah campuran berbau harum polychlorinated terbentuk sebagai hasil sampingan dari proses kimia alami dan bisa dibuat manusia melalui proses kimiawi. Ada 210 campuran dioxin yang berbeda, hanya sekitar 17 menjadi perhatian dan sebagian dari ini dikenal segala penyebab kanker. Dioxins tidak dapat dalam air, sangat tidak bisa terurai  dan diserap manusia dan jaringan lemak binatang, dengan begitu terkumpul dalam rantai makanan.
Kontaminasi Dioxin dapat bervariasi tergantung pada asal bahan makanan. Daging, Telor, Susu, ikan dari kolam dan produk makanan lain kemungkinan terkontaminasi dioxin karena pencemaran lingkungan lokal tinggi , atau sangat tingginya dioxin di dalam tepung ikan dan minyak ikan. Ikan liar dari area tercemar kemungkinan tinggi akan terkontaminasi. Tepung ikan dan Minyak ikan Eropa yang bersumber dari penangkapan liar, sebagai contoh, mempunyai dioxin sekitar 8 kali lebih tinggi dibanding tepung ikan dan minyak ikan  dari Cili Atau Negara Peru ( SCAN , 2000).
Sebagai hasil pendapat yang dinyatakan oleh the Scientific Committee on Animal Nutrition ( SCAN), peraturannya diterima oleh EU  mulai diberlakukan tahun 2002. Ini dibuat  menurut ketentuan hukum mengikat batas isi dioxin yang terukur dengan kelebihan makanan yang  membatasi untuk dikeluarkan dari rantai makanan. Batas maksimum ditetapkan untuk tepung ikan, minyak ikan, pakan ikan dan campuran pakan adalah:
•    Minyak ikan: 6 NG TEQ/KG gemuk
•    Ikan, binatang laut yang lain laut, hasil sampingan dan produk mereka terkecuali minyak ikan: 1.25 NG TEQ/KG produk
•    Campuran pakan, terkecuali makanan untuk binatang yang berbulu dan pakan ikan ( dari Januari 1, 2002 ke Desember 31, 2005): 0.75 ng TEQ/ kg produk
•    Pakan ikan ( Dari Januari 1, 2002 ke Desember 31, 2005) 2.25 NG TEQ/KG produk ( CEC, 2001)
TEQ berarti menyatakan tingkatan racun  dioxins atau dioxin seperti  PCBS. Karena masing-masing mempunyai suatu tingkat keracunan berbeda, konsep ttg faktor ekwivalensi beracun- TEFS- telah diperkenalkan. Artinya bahwa hasil yang analitis dari semua campuran diubah menjadi satu ringkasan menghasilkan, ' Toxic Equivalent Concentration ' atau TEQ. Dioxins telah pula menjadi suatu penilaian di AS, dan FDA telah melakukan sampling berbagai macam bahan pakan dengan maksud untuk menetapkan suatu aturan dasar  sebelum membuat dasar keputusan yang berisiko pasa berbagai macam bahan yang menagandung dioxin
     Dampak . pengaruh tingkat pengukuran dioxin pada eksportir Asia dan eksporter lainnya belum tercatat. Bagaimanapun juga , EU mempunyai niat meninjau ulang standard mereka di tahun 2006 dengan maksud untuk mengurangi tingkatan maksimum yang diizinkan. Ini mendorong kearah pengurangan lebih lanjut  di dalam ketersediaan bahan baku, khususnya tepung ikan dan minyak, yang memenuhi spesifikasi dan memberi kenaikan di dalam biaya pakan.

Diposkan oleh Munawaroh, S.P.

Rabu, 03 Mei 2017

Peranan Probiotik Dalam Budidaya Perairan

Peranan Probiotik Dalam Budidaya Perairan

Peranan Probiotik Dalam Budidaya Perairan

Kabupaten Pati sebagai salah satu sentra produksi perikanan budidaya perairan di Jawa Tengah mempunyai potensi lahan yang cukup besar dengan luas tambak seluas + 10.604 Ha luas kolam air tawar dan luas pembenihan ikan. Serangan penyakit merupakan permasalahan utama yang terjadi dalam budidaya perairan,terutama budidaya udang windu, yang sampai sekarang belum bisa teratasi. Kondisi ini akibat menurunnya kondisi lingkungan yang diakibatkan penggunaan bahan kimia yang berlebihan serta pemakaian obat-obatan yang tidak terkontrol pada waktu terjadinya masa jaya budidaya udang windu pada tahun 1990 an sampai awal tahun 2000an. Pada akhirnya menyebabkan banyaknya penyakit yang menyerang udang, yang mengakibatkan matinya udang. Banyak cara yang telah direkomendasikan oleh para ahli untuk memperbaiki kondisi tersebut. Salah satu caranya adalah pemakaian probiotik untuk budidaya perairan. Kenyataan dilapangan sudah banyak pembudidaya ikan atau udang dan para pembenih ikan yang telah menggunakan probiotik. Tulisan ini akan membahas secara singkat mengenai probiotik dalam budidaya perairan.
Menurut ahli pangan dan pertanian yang tergabung dalam Organisasi Kesehatan Dunia ( FAO/WHO), Menyatakan bahwa  probiotics adalah Mikroorganisme yang hidup,  ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, membuat  manfaat kesehatan bagi yang mengkonsumsinya ( FAO/WHO, 2001). Probiotik mulai diaplikasikan pada kegiatan budidaya sejak Fuller (1989) mendefinisikan probiotik sebagai Pakan tambahan berupa mikroorganisme hidup yang berpangaruh positif terhadap inangnya dengan memperbaiki keseimbangan komunitas mikroorganisme di dalam ususnya.  Menurut Moriarty ( 2006) Pengertian probiotik untuk budidaya perairan tidak hanya mikroorganisme yang diberikan kepada inangnya tetapi juga mikroorganisme tersebut dapat diberikan ke bak pembenihan atau kolam secara langsung yang tujuannya untuk merubah jumlah komposisi mikroorganisme menguntungkan lebih banyak macamnya daripada mikroorganisme yang merugikan.
    Menurut (Gomez-Gil et al., 2000 dalam Balcazar et al 2006)  mekanisme tindakan probiotik melawan bakteri yang tidak menguntungkan meliputi  ( i) melakukan kompetisi dengan bakteri pathogenic ( Garriques dan Arevalo, 1995; Moriarty, 1997; Gomez-Gil et Al., 2000; Balca´Zar, 2003;Balca´zar et al., 2004; Vine et al., 2004a); (ii) sumber yang menyumbang nutrisi dan enzim untuk pencernaan(Sakata, 1990; Prieur et al., 1990; Garriques dan Arevalo, 1995); (iii)  Penghancuran bahan organik secara cepat oleh bakteri (Garriques andArevalo, 1995; Moriarty, 1997); dan yang lainnya masih diselidiki seperti ;(iv) meningkatkan kekebalan tubuh melawan serangan mikroorganisme pathogen (Andlid et al., 1995; Scholz et al., 1999; Rengpipat et al., 2000; Gullian and Rodrı´guez, 2002; Irianto and Austin, 2002; Balca´zar, 2003; Balca´zar et al., 2004); (v) mempunyai pengaruh antivirus (Kamei et al., 1988; Girones et al.,1989; Direkbusarakom et al., 1998).
 Proses seleksi  probiotik yang digunakan untuk budidaya perairan menurut (Gomez-Gil et al., 2000 dalam Balcazar et al 2006)  meliputi: ( i) informasi latar belakang mikroorganismenya ; ( ii) pengadaan potensi  probiotics ; ( iii) evaluasi kemampuan potensi probiotics ke strain pathogenic;  ( iv) penilaian potensi pathogenitas dengan  probiotics; ( v) evaluasi efek potensi  probiotics di dalam inang; ( vi) analisa biaya/keuntungan.
    Menurut (Arifin, zaenal dkk) Probiotik dapat dibedakan menjadi :
1. Probiotik pengurai pupuk organik didalam  tambak
Dimana mikroorganismenya adalah bakteri jenis (Baccillus atau Nitrobacter atau Nitrosomonas)
2. Probiotik pengurai limbah organik di dalam tambak
Dimana mikroorganismenya adalah bakteri jenis Bakteri fotosintetik bakteri Chtinioclastic, Lipolitic, Cellullolityc, proteolitic bacteria.

3. Probiotik yang membantu pencernaan pakan buatan di dalam tubuh udang
Dimana mikroorganismenya adalah bakteri jenis Lactobaccillus.
Proses penumbuhan probiotik  menurut meliputi :
a. Probiotika pengurai pupuk organik sebelum dimasukkan ke tambak
Diperlukan untuk menumbuhkan fitoplankton secara cepat dan stabil
miminum hingga 7 hari, komposisi pupuk dan probiotika yang diberikan adalah
sbb :
• Dedak sebagai sumber karbohidrat, selulosa dan silikat
• Gula/tetes tebu sebagai sumber CO2
• Protein tepung ikan/Urea/Pakan BS sebagai sumber nitrogen dan
karbon (C) sebagai penyusun protein sel probiotika
• Bakteri biakan (Baccillus atau Nitrobacter atau Nitrosomonas)
• Aerasi/ pengadukan agar proses berlangsung secara aerobik
b. Probiotika pengurai limbah organik di dalam tambak
• Bakteri fotosintetik bakteri Chtinioclastic, Lipolitic, Cellullolityc,
proteolitic bacteria.
• Molase sebagai sumber Karbon
• Tepung ikan sebagai sumber protein
• Zeolite sebagai pemberat dan pori-pori penyerap bakteri
• Pengadukan tanpa aerasi karena bakteri aerobik fakultatif
c. Probiotika yang membantu pencernaan pakan buatan di dalam tubuh udang
• Bakteri Lactobaccillus
• Gula dan air sebagai medium pertumbuhan
• Tepung ikan sebagai sumber protein
• Kanji sebagai medium pengikat untuk dilapisi di pakan (pelet)

    Manfaat penggunaan probitotik dalam budidaya perairan menurut Moriarty et al 2005 adalah :
1.    Kualitas air dan dasar kolam diperbaiki sehingga akan meminimalkan stress pada udang dan akan meningkatkan kesehatannya
2.    Membersihkan air buangan dari kolam sehingga dampak bagi lingkungan rendah
3.    Bakteri yang merugikan dan virus dapat terkontrol dan seluruh mikroorganisme di dalam ekosistem perairan dapat diatur
4.    Meningkatkan sistem kekebalan pada udang
5.    Memperbaiki saluran pencernaan sehingga berdampak menekan terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh asimilasi makanan
6.    Tidak perlu digunakannya antibiotik. Sehingga akan menghentikan terjadinya kekebalan bakteri yang merugikan

Pemilihan produk  probiotik yang dijual dipasaran  untuk budidaya perairan haruslah sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 02/MEN/2007 Tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik, dimana harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. memiliki nomor pendaftaran yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal;
b. sesuai dengan ketentuan dan petunjuk pada etiket dan brosur;
c. etiket harus menggunakan Bahasa Indonesia;
d. tidak mengalami perubahan fisik (tekstur, warna, dan bau);
e. kemasan, wadah, atau pembungkusnya tidak rusak;
f. sesuai dengan peruntukkannya;
g. tidak kadaluarsa;
    Karena itu dalam pembelian produk probiotik yang beredar haruslah dilihat secara cermat apakah produk tersebut sudah diberi ijin oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan atau belum. Produk Probiotik yang resmi bagi budidaya ikan sebelum dipasarkan untuk masyarakat umum haruslah sudah didaftarkan di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kalau sudah terdaftar resmi di Kementerian Kelautan dan Perikanan, kemudian Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengeluarkan daftar probiotik yang telah terdaftar. Karena itu kalau masih ragu apakah probiotik yang kita beli itu sudah terdaftar atau belum di kementerian kelautan dan perikanan, kita bisa menghubungi instansi yang berwenang di daerah. Dalam hal ini kita bisa menghubungi dinas kelautan dan perikanan yang mempunyai daftar produk probiotik yang sudah berijin. Penggunaan Probiotik harus pula diperhitungkan secara cermat dan digunakan sesuai dengan yang dianjurkan dalam kemasannya. Kekeliruan dalam penggunaan probiotik tidak akan memberi manfaat bagi pembudidaya perairan dan hanya akan menambah biaya pengeluaran.
Selain itu harus pula diingat bahwa penggunaan probiotik hanyalah salah satu faktor dalam keberhasilan budidaya. Faktor lain seperti pemilihan benih yang bagus, pengelolaan air yang benar serta pemakain dan penggunaan pakan yang tepat juga harus mendapat perhatian yang seksama. Karena mengabaikan faktor-faktor ini akan membuat pemakain probiotik tidak akan ada manfaatnya dan hanya membuang-buang uang saja.

Selasa, 02 Mei 2017

HAMA DAN PENYAKIT IKAN Lele

HAMA DAN PENYAKIT IKAN Lele

6.1. Hama dan Penyakit
a.     Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele. berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
b.     Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.
Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.


1) Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air.
Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.
2) Penyakit Tuberculosis
Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.
3) Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.
4) Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.
5) Penyakit Cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.
6) Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
7). Penyakit Kembung
Penyakit ini disebabkan oleh perubahan cuaca terutama perubahan suhu, perubahan air dari basa ke asam akibat air hujan yang masuk dalam kolam.
Ciri cirinya perut besar berwarna kemerahan bila parah di belakang sirip dada berwarna merah.
Pencegahannya jangan membuat kolam terlau teduh, banyak air hujan

6.2. faktor penyebab ikan sakit
            Faktor penyebab ikan sakit
a.    lingkungan kurang bersih dari bahan cemaran
b.    perubahan cuaca yang mendadak
c.    tubuh ikan lemah

Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1)      Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
2)      Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3)      Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4)      Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.

7. PANEN
7.1. Penangkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:
a.      Lele dipanen pada umur 2-3 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 100 gram/ekor.
b.      Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
c.      Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser halus, tangan, lambit, atau jaring.
d.      Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
e.      Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.

7.2. Pembersihan
Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:
a)    Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata.
b)    Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
c)     Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.

8.  ANALISA USAHA

Analisis usaha dengan luas kolam 90 m2 dengan padat tebar 100 ekor / m2
            1). Panen
                        Lele 600 kg               @.Rp 11.000             = Rp    6.600.000
            2). Biaya
·         Bibit  9.000 ekor @.Rp 90            = Rp      810.000  
·         pakan pelet 200 kg @.Rp 8.500 = Rp    1.700.000
·         Pakan Rucah 600 kg @.Rp 2.500          = Rp    1.500.000    
·         Pupuk organik                                            = Rp      500.000
·         Tenaga kerja                                               = Rp      500.000
·         Probiotik                                                      = Rp      480.000
·         Bensin pompa                                            = Rp      390.000
Jumlah                                                         = Rp    5.070.000
            3) Pendapatan
                        Rp 6.600.000 – Rp 5.070.000                    =Rp     1.530.000.



DAFTAR PUSTAKA
1) Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.
2) Djamiko, H., Rusdi, T. 1986. Lele. Budidaya, Hasil Olah dan Analisa Usaha. C.V. Simplex. Jakarta.
3) Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V. Simplex. Jakarta.
4) Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit Swadaya. Jakarta.
5) Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo. Bhratara. Jakarta.
6) Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru. Bandung.
7) Susanto, H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.


Diposkan oleh Munawaroh,S.P.