Rabu, 22 November 2017

KONTAMINASI DAN DAMPAKNYA BAGI PRODUK BUDIDAYA PERIKANAN

KONTAMINASI DAN DAMPAKNYA BAGI PRODUK BUDIDAYA PERIKANAN
            Isu lain yang dibahas mengenai kontaminasi produk perikanan oleh bahan kimiawi dan bahan antibiotik yang berbahaya. Disini diuraikan bagaimana produk perikanan budidaya bisa tercemar oleh kontaminasi bahan kimiawi dan bahan antibiotik, dan bagaimanan dampaknya bagi produk perikanan budidaya tersebut.
CONTAMINANTS

Dioxins
Di tahun 1999, kontaminasi dioxin dari Produk Makanan Belgia lewat kontaminasi makanan mengakibatkan EU yang mengesahkan pembatasan sementara pada perdagangan susu dan produk susu, daging sapi, daging babi, unggas, telor dan turunan telor, dan makanan dari sapi. Mereka juga memulai penyelidikan ilmiah untuk mengembangkan suatu kebijakan EU atas dioxins di  makanan dan pakan. Dioxins adalah campuran berbau harum polychlorinated terbentuk sebagai hasil sampingan dari proses kimia alami dan bisa dibuat manusia melalui proses kimiawi. Ada 210 campuran dioxin yang berbeda, hanya sekitar 17 menjadi perhatian dan sebagian dari ini dikenal segala penyebab kanker. Dioxins tidak dapat dalam air, sangat tidak bisa terurai  dan diserap manusia dan jaringan lemak binatang, dengan begitu terkumpul dalam rantai makanan.
Kontaminasi Dioxin dapat bervariasi tergantung pada asal bahan makanan. Daging, Telor, Susu, ikan dari kolam dan produk makanan lain kemungkinan terkontaminasi dioxin karena pencemaran lingkungan lokal tinggi , atau sangat tingginya dioxin di dalam tepung ikan dan minyak ikan. Ikan liar dari area tercemar kemungkinan tinggi akan terkontaminasi. Tepung ikan dan Minyak ikan Eropa yang bersumber dari penangkapan liar, sebagai contoh, mempunyai dioxin sekitar 8 kali lebih tinggi dibanding tepung ikan dan minyak ikan  dari Cili Atau Negara Peru ( SCAN , 2000).
Sebagai hasil pendapat yang dinyatakan oleh the Scientific Committee on Animal Nutrition ( SCAN), peraturannya diterima oleh EU  mulai diberlakukan tahun 2002. Ini dibuat  menurut ketentuan hukum mengikat batas isi dioxin yang terukur dengan kelebihan makanan yang  membatasi untuk dikeluarkan dari rantai makanan. Batas maksimum ditetapkan untuk tepung ikan, minyak ikan, pakan ikan dan campuran pakan adalah:
Minyak ikan: 6 NG TEQ/KG gemuk
Ikan, binatang laut yang lain laut, hasil sampingan dan produk mereka terkecuali minyak ikan: 1.25 NG TEQ/KG produk
Campuran pakan, terkecuali makanan untuk binatang yang berbulu dan pakan ikan ( dari Januari 1, 2002 ke Desember 31, 2005): 0.75 ng TEQ/ kg produk
Pakan ikan ( Dari Januari 1, 2002 ke Desember 31, 2005) 2.25 NG TEQ/KG produk ( CEC, 2001)
TEQ berarti menyatakan tingkatan racun  dioxins atau dioxin seperti  PCBS. Karena masing-masing mempunyai suatu tingkat keracunan berbeda, konsep ttg faktor ekwivalensi beracun- TEFS- telah diperkenalkan. Artinya bahwa hasil yang analitis dari semua campuran diubah menjadi satu ringkasan menghasilkan, ' Toxic Equivalent Concentration ' atau TEQ. Dioxins telah pula menjadi suatu penilaian di AS, dan FDA telah melakukan sampling berbagai macam bahan pakan dengan maksud untuk menetapkan suatu aturan dasar  sebelum membuat dasar keputusan yang berisiko pasa berbagai macam bahan yang menagandung dioxin
            Dampak . pengaruh tingkat pengukuran dioxin pada eksportir Asia dan eksporter lainnya belum tercatat. Bagaimanapun juga , EU mempunyai niat meninjau ulang standard mereka di tahun 2006 dengan maksud untuk mengurangi tingkatan maksimum yang diizinkan. Ini mendorong kearah pengurangan lebih lanjut  di dalam ketersediaan bahan baku, khususnya tepung ikan dan minyak, yang memenuhi spesifikasi dan memberi kenaikan di dalam biaya pakan.





ANTIBIOTICS

Sisa antibiotic dalam udang telah menjadi masalah sejak tahun 1980an ketika tambak udang semi intensive dan intensive menjadi sumber utama ekspor produksi udang.  Sejak tahun 1991, Pemerintah Jepang mengancam melarang impor udang dari Indonesia dan Thailand disebabkan adanya residu antibiotic, para ekportir terdesak dan pemerintah melakukan inspeksi antibiotic sebelum udang diekspor ke Negara tujuan ekspor (Patmasiriwat et al., 1999).
Pembatasan pelarangan atas pembelian udang yang mengandung antibiotic- oleh eksportir dengan cepat  mendorong suatu pengurangan penggunaan zat antibiotic oleh pembudidaya karena mereka tidak akan bisa menjual udangnya.
Di tahun 2001 sisa antibiotic terdeteksi, terutama klorampenikol dan nitrofurans dalam udang yang berasal dari China, Vietnam dan Thailand, menjadikan isu residu kembali mengemuka. Kedua bahan tersebut dilarang digunakan dalam pakan  ikan di banyak Negara dan Uni Eropa (EU) menetapkan kebijakan nol persen untuk klorampenikol dan nitrofuran dalam bahan makanan sejak tahun 1994. Berkembang pula alat yang sensitifnya tinggi dimana mengurangi tingkat deteksi dengan mantap, secara efektif dengan mudah mendeteksi tingkat toleransi di EU dan meningkatkan frekuensi deteksi makanan impor dari Asia yang mana telah dimusnahkan oleh otoritas EU. Hal ini mengakibatkan perdagangan udang diantara Negara ini dengan EU berhenti dengan ekspor dari Thailand menurun hingga diatas 70%.
            Ini adalah salah satu masalah utama bebas dari penggunaan antibiotic oleh para pembudidaya  di negara-negara Asia dan kurangnya kontrol yang efektif dalam penggunaannya. Ada juga membatasi  sejumlah pembudidaya dengan pengalamannya mengenai penyakit binatang perairan, menjadi suatu batasan utama yang perlu ditujukan. Jika antibiotic dan terapi pengobatan lainnya digunakan efektif, mereka akan menerapkan dibawah pengawasan  ahli peternakan. Catatan tentang perlakuan dan lamanya perlakuan dan waktu penarikan kembali diperlukan untuk diteliti.Membangun kapasitas untuk  seperti suatu sistem prosedur dokter hewan dan kesehatan binatang perairan yang  diorganisir akan menjadi  mahal dan mungkin memerlukan banyak  waktu,  sesuatu yang pantas dipertimbangkan dari segi jumlah dan usaha.
Sialnya , ada sedikit zat antibiotic  yang telah secara resmi disetujui untuk penggunaan dalam pakan ikan dan sangat  sedikit tingkatan residu yang ditetapkan. Tentang zat antibiotik yang disetujui oleh  FDA AS, tidak ada disetujui untuk digunakan di udang di samping disetujui untuk pakan hewan yang lain. Pasar yang secara relatif kecil untuk  produk seperti itu , biaya mengambil suatu obat harus melalui proses persetujuan dan mempunyai kompetisi berat.  Semua penyalur secara serius dihalangi dari penjualan obat yang bebas untuk keamanan dan efektif dalam pengendalian penggunaan  chemotherapeutants untuk binatang air. Salah satu pendidikan untuk pembudidaya ikan adalah mencegah penyakit dan menghindari penggunaan antibiotic. Arahnya akan mungkin jika banyak pembudidaya ikan menghentikan penggunaan antibiotic dengan suatu kecenderungan yang bisa didukung oleh suatu sistem berdasar pada insentif  dan pembuktian bebas dari penggunaan antibiotik atau kehadiran residunya  di dalam daging. Ini adalah salah satu dari isu yang ditujukan oleh implementasi peraturan kode of conduct yang akan dibahas dalam pembahasan kemudian. Karena itu, penggunaan antibiotik untuk budidaya ikan haruslah dikontrol dengan sangat ketat oleh pemerintah dengan suatu peraturan yang mengingat karena ini nantinya akan berdampak yang tidak baik bagi kelangsungan budidaya ikan untuk kedepannya.
Diposkan oleh Munawaroh,SP.

Selasa, 21 November 2017

PENCEMARAN AIR OLEH LIMBAH PEMUKIMAN IKAN NILA MENJADI MATI

PENCEMARAN AIR OLEH LIMBAH PEMUKIMAN IKAN NILA MENJADI MATI


Pencemaran air oleh limbah pemukiman sepertinya menjadi salah satu sumber utama dan penyebab pencemaran air yang memberikan dampak paling kentara terutama pada masyarakat perkotaan maka dari itu kolam nila di buat pakai terpal biar tidak tercemar oleh limbah pemukiman. Limbah pemukiman (rumah tangga) yang menjadi salah satu penyebab pencemaran air diakibatkan oleh aktivitas manusia itu sendiri dan pada akhirnya pencemaran air ini juga memberikan dampak dan akibat merugikan bagi manusia itu pula dan tidak bisa untuk berbudidaya ikan nila.
Definisi dan Pengertian zooplankton yang diberikan oleh Nybakken adalah hewan-hewan laut yang planktonik sedangkan fitoplankton merupakan tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis. Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Sebagai produsen utama di perairan adalah fitoplankton, sedangkan organisme konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting dan sebagainya. Zooplankton merupakan sumber makanan penting bagi nekton pada tingkat juvenil. Beberapa jenis nekton perairan telah berkembang biak dan membesarkan anak-anaknya di hutan mangrove. Semakin besar densitas zooplankton, maka semakin besar pula nekton.
Ada dua cara penggunaan probiotik yang bisa dimanfaatkan petani nila untuk mendongkrak hasil kolamnya.
Probiotik untuk menggemburkan dasar kolam sekaligus memelihara kualitas air. Probiotik ini cukup diguyurkan ke air kolam pada pagi hari setiap dua minggu sekali supaya air selalu sehat, tidak blooming dan penuh dengan plankton sebagai pakan alami.
2. Probiotik untuk memacu pertumbuhan ikan sendiri sekaligus membentengi dari kemungkinan terkena penyakit atau stres. Probiotik itu harus dicampurkan ke pakan, pakan pelet ataupun daun-daunan .
Rangsang Nafsu Makan
Pakar dari Jurusan Perikanan UGM Ir Gandung Hardaningsih menguraikan, dari berbagai riset, probiotik memang terbukti bagus untuk pemeliharaan air kolam dan pemacu pertumbuhan ikan.
Karena ada introduksi mikroba positif maka kolam menjadi lebih sehat dan ikan juga lebih kuat terhadap stres dan penyakit. Yang pasti, pertumbuhan ikan bisa sangat pesat karena probiotik juga merangsang nafsu makan.
’’Saya kira probiotik akan menjadi andalan para pembudidaya ikan di masa depan karena manfaatnya sangat besar pada pertumbuhan ikan sehingga cukup berarti dengan keuntungan yang didapat,’’ tandasnya.
Probiotik ibarat benteng pertahanan diri, sebaiknya diberikan sejak dini. Begitu bibit mau masuk kolam, tiga hari sebelumnya air kolam harus diguyur probiotik lebih dahulu agar kondisi air cepat matang dan tumbuh banyak plankton. Selanjutnya, pemberian probiotik untuk pemeliharaan air cukup dua minggu sekali atau ketika kondisi air menurun kualitasnya.
’’Jadi semacam imunisasi, jika diberikan lebih awal akan lebih bagus efeknya. Jangan menunggu kondisi kolam jelek dan ikan stres atau terserang penyakit. Pemberian secara teratur akan menghasilkan ikan lebih bagus,’’ imbuh Himawan.

Pemberian probiotik sangat membantu pertumbuhan ikan. Saat melihat di kolamnya banyak nila stres dan mengambang bahkan beberapa mati, dia secepatnya mengguyurkan sebotol probiotik  segenggam gula pasir ke kolam. Keesokan harinya air kembali hijau jernih dan semua Lele sehat kembali.
Waktu budidaya akan lebih singkat 10 – 15 hari, ketimbang budidaya lele intensif tanpa probiotik: sekitar 60 – 70 hari. Cara memanfaatkan probiotik relatif mudah. dengan memberikan setengah gelas per hari probiotik cair untuk 1.500 lele yang dipelihara di kolam terpal berukuran 3 m x 4 m .
Memberikan probiotik melalui pakan. Mula-mula ia merendam pelet apung selama 10 – 20 detik dalam larutan probiotik. Setelah ditiriskan beberapa saat, ia memberikannya kepada lele. Dengan tambahan probiotik seperti itu, pertumbuhan lele lebih cepat. Selain itu pemberian probiotik membuat konversi pakan atau FCR turun menjadi sekitar 0,8 dari biasanya FCR 1,1. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ia hanya perlu 0,8 kg pakan.  Tak hanya itu tingkat kelulusan hidup (SR) meningkat hingga 95%.
Sejatinya probiotik adalah larutan berisi mikroba hidup yang menguntungkan bagi inang -  dalam hal ini ikan budidaya. Mikroba itu antara lain bakteri asam laktat seperti Lactobacillus, Carnobacterium, beberapa kelompok Bacillus, dan Pseudomonas. Seabrek keunggulan memang terdapat pada probiotik. Pada budidaya akuakultur, pemberian probiotik menekan perkembangan bakteri patogen di lingkungan perairan yang menurunkan produktivitas. Hasil riset di Thailand dan Jepang sejak 10 tahun silam membuktikan hal itu. Pemakaian probiotik pada budidaya nila Tilapia nilotica menurunkan angka kematian ikan sebesar 5,2%. Hal itu diimbangi pula dengan peningkatan bobot tubuh sebesar 46,3% dari sebelumnya 9,6% pada budidaya intensif. Jadi wajar bila Agnes dan Heru Catur  memanen lebih cepat.


                                                                       
Sebagaimana pernah saya tulis dalam artikel pencemaran air merupakan suatu perubahan keadaan tempat penampungan air yang mengakibatkan menurunnya kualitas air sehingga air tidak dapat dipergunakan lagi sesuai peruntukannya dan perubahan ini diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Limbah Pemukiman salah satu penyebab pencemaran air adalah aktivitas manusia yang kemudian menciptakan limbah (sampah) pemukiman atau limbah rumah tangga. Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan sampah anorganik. sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri seperti sisa sayuran, buah-buahan dan daun-daunan. sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet dan kulit. Sedangkan sampah anorganik ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable). Dampak pencemaran air yang disebabkan oleh limbah pemukiman mendatangkan akibat atau dampak diantaranya :

berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air karena sebagian besar oksigen digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses pembusukan sampah anorganik ke sungai dapat berakibat menghalangi cahaya matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga yang menghasilkan oksigen.
pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis sehingga tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang) yang mati membawa akibat proses pembusukan tumbuhan ini akan menghabiskan persediaan oksigen dan material pembusukan tumbuhan air akan mengendap dan menyebabkan pendangkalan.
Selain diakibatkan oleh limbah pemukiman (rumah tangga) sumber atau penyebab pencemaran air juga disebabkan oleh limbah pertanian, limbah industri dan di beberapa tempat tertentu di akibatkan oleh limbah pertambangan. Adanya sebagian industri yang membuang limbahnya ke air seperti polutan yang dihasilkan tergantung pada jenis industri mungkin berupa polutan organik (berbau busuk), polutan anorganik (berbuih, berwarna), atau mungkin berupa polutan yang mengandung asam belerang (berbau busuk), atau berupa suhu (air menjadi panas). Pemerintah menetapkan tata aturan untuk mengendalikan pencemaran air oleh limbah industri. Misalnya limbah industri harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai agar tidak terjadi pencemaran dan limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat mematikan biota sungai jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia, orang yang memakannya akan keracunan. Untuk mencegahnya upayakan agar memilih insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradabel (dapat terurai oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan membuang sisa obat ke sungai hal yang demikian akan mengancam kelestarian sungai akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.

Menangani limbah pemukiman perlu kesadaran dari semua lapisan masyarakat untuk berlaku bijak dengan limbah rumah tangga yang dihasilkannya. pengelolaan sampah perubahan gaya hidup dan pola pikir tentang sampah serta tidak membuang sampah terutama di sungai dan tempat penampungan air semisal sungai perlu dilakukan oleh semua pihak untuk mengurangi dampak pencemaran air yang disebabkan oleh limbah rumah tangga (pemukiman) dan semua itu hanya bisa diwujudkan dengan sebuah tindakan kecil sebagai awalan memulai dari diri sendiri.

Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur, atau komponen lainnya kedalam air sehingga menyebabkan kualitas air terganggu. Kualitas air yang terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa dan warna. ditinjau dari asal polutan dan sumber pencemarannya bahan pencemar lain dari limbah rumah tangga adalah pencemar biologis berupa bibit penyakit, bakteri dan jamur. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan akibatnya kadar oksigen dalam air turun dratis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat kita dapat menemukan cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (bioindikator) parahnya pencemaran oleh bahan organik dari limbah pemukiman. Dikota-kota air got berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat didalam air got yang demikian tidak ada organisme hidup kecuali bakteri dan jamur. Dibandingkan dengan limbah industri, limbah rumah tangga di daerah perkotaan diIndonesia mencapai 60% dari seluruh limbah yang ada.

Diposkan Oleh Munawaroh

Senin, 20 November 2017

PEMBESARAN IKAN PATIN DALAM KOLAM

PEMBESARAN IKAN PATIN DALAM KOLAM

  

Teknik budidaya ikan patin relatif mudah sehingga tidak perlu ragu jika berminat menekuni budidaya ikan ini. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari sungai, rawa dan danau sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan minat masyarakat ikan patin mulai dibudidayakan di kolam, keramba maupun bak dari semen atau kolan tanah. Permintaan ikan patin yang terus meningkat memberikan peluang usaha bagi setiap orang untuk menekuni usaha di bidang budidaya ikan patin ini selain rasanya enak dan gurih. Dengan permintaan yang demikian meningkat jelas tidak mungkin mengandalkan tangkapan alam tetapi perlu budidaya ikan patin secara lebih intensif.dan sekarang sudah banyak yang berbudidaya ikan pati di terpal maupun di kolam tanah sehingga kebutuhan konsumsi masyarakan terpenuhi dan harganya lebih terjangkau, gizinya juga tidak kalah dengan ikan ikan lainnya, maka dari itu tingkatkanlah untuk mengkonsumsi ikan patin.
Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut :
Ordo : Ostarioplaysi.
Subordo : Siluriodea.
Famili : Pangasidae.
Genus : Pangasius.
Spesies : Pangasius pangasius

Persyaratan Budidaya Ikan Patin

Budidaya ikan Patin memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara lain sebagai berikut :

 Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan dan budi daya ikan patin adalah jenis tanah liat/lempung tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan untuk menghindari timbulnya jamur maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26-28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
pH air berkisar antara: 6,5-7.
Teknik Pemeliharaan Pembesaran Ikan Patin

Pemeliharaan Pembesaran ditujukan untuk pemenuhan Ikan Patin konsumsi ikan Patin dikonsumsi dalam berbagai ukuran antara lain 200 gram sampai 1 kg. masa panen menyesuaikan dengan permintaan pasar. Ada sebagian yang lebih senang ukuran kecil sekitar 200 gram ada yang lebih dari itu pada Usia 6 bulan ikan patin sudah mencapai bobot 600-700 gram.

Ikan Patin akan tumbuh lebih baik di kolam lumpur dengan aliran air yang mengalir cukup baik meski demikian bisa juga dipeihara pada kolam semen yang tidak mengalir tetapi perlu diperhatikan kualitas air agar tetap dalam konsisi yang baik langkah-langkah pemeliharaan ikan patin sebagai berikut :

Persiapan Kolam

Kedalaman kolam 1,5 m
Pengeringan mininal 15 hari
Pengapuran dengan kapur pertanian (dolomite) 100gr /m2 fungsinya untuk memperbaiki pH tanah.
Dapat juga dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang 200gr/m2
Biarkan hingga beberapa hari agar ada proses mineralisasi (proses pembentukan mineral)
Diamkan air sampai fitoplanton tumbuh yang ditandai warna air yang menjadi kehijauan.
Pemupukan
Pada kolam lumpur idealnya perlu dilakukan pemupukan sebelum ikan patin ditebarkan. Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan makanan alami dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50-700 gram/m 2.

Penebaran Benih

Seperti biasa pilih benih yang unggul dan berkualitas serta sehat.
Lakukan aklimatisasi (upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi ke lingkungan baru yang akan dimasukinya) dengan memasukkan benih beserta kantong plastiknya sekitar 30 menit  1 jam. Setelah itu benih bisa ditebar.
Padat tebar : air statis : 200 ekor/m2 jika ada aliran air (kecil) kepadatan dapat ditambah hingga 300-400 ekor/m2.
Pada tebar benih setelah ditebar ikan patin tidak boleh di kasih pakan selama 2 hari karena masa adaptasi dan disitulah ikan patin di puasakan dulu setelah 2-3 hari baru di kasih makan , kalau langsung ikan pati akan mengalami setres atau kembung sering kematian massal , maka dari itu pemberian makan juga di sesuaikan dengan keadaan ikan patin atau sesuai bobot ikan
Ketinggian air ditambah seiring dengan pertumbuhan patin sampai mencapai 1,5 m.
Pemberian Pakan
Faktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan patin adalah faktor pemberia makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan jumlah makanan selalu berubah setiap bulan sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel) dan bisa juga dilakukan dengan cara adlibitum (sampai kenyang). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas, bekicot, ikan sisa, usus ayam dan lain-lain. Pakan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.

Penanganan Hama Dan Penyakit
Salah satu kendala dan masalah Budi daya ikan patin adalah hama dan penyakit. Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung dan kolam hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Cegah akses masuk hama tersebut ke kolam atau dengan memasang lampu penerangan di sekitar kolam sehingga hama tersebut biasanya enggan masuk jika ada sinar lampu. Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi, penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.

Pemanenan Ikan Patin
Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin. Meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan,kematian, cacat saat dipanen. Sayang  jika budidaya ikan patin sudah berhasil dengan baik harus gagal hanya karena cara panen yang salah. Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu Jadi apa bila ikan sudah terlihat menumpuk maka perlahan-lahan ikan diangkat agar ikan tersebut tetap dalam keadaan aman dan pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap segar sehingga kematian ikan dapat dihindari.
Diposkan oleh Munawaroh

Kamis, 16 November 2017

PEMBESARAN IKAN NILA DALAM KOLAM

PEMBESARAN IKAN NILA DALAM KOLAM

      
Ikan nila merupakan jenis ikan untuk konsumsi dan hidup di air tawar ikan ini cenderung sangat mudah dikembangbiakkan serta sangat mudah dipasarkan karena merupakan salah satu jenis iklan yang paling sering dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat. Dengan teknik budidaya yang sangat mudah serta pemasarannya yang cukup luas sehingga budidaya ikan nila sangat layak dilakukan baik skala rumah tangga maupun skala besar atau perusahaan.
Sumber daya alam berupa perairan tawar (fresh water ) memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai lahan budidaya ikan mas. luas perairan umum di indonesia yang terdiri atas sungai, rawa, serta danau alam, dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta hektare. Hal ini merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di indonesia. Jadi, bila dibandingkan dengan luas perairan yang ada, hasil budidaya ikan air tawar di indonesia tentu belum maksimal.
Karya tulis yang kami buat ini merupakan pengembangan dari hasil kerja keras para ahli dari berbagai disiplin ilmu yang terhimpun  dan dari hasil-hasil penelitian para ahli yang sudah pernah publikasikan melalui media massa.
Kami mengucapkan terima kasih kepada sumua anggota kelompok yang turut serta dalam penyelesaian karya tulis ilmiah  ini, kami ucapkan terima kasih semoga harapan kita bersama mendapat ridho dari Allah SWT,aminn.
Kami menyadari bahwa penyusunan karya tulis  ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu kami memohon ma’af yang sebesar-besarnya.


Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut :

Kelas : Osteichthyes

Sub-kelas : Acanthoptherigii

Crdo : Percomorphi

Sub-ordo : Percoidea

Famili : Cichlidae

Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Terdapat beberapa jenis nila yang dikenal di masyarakat antara lain : nila biasa, nila merah (nirah), nila albino, nila gesit, dan nila gift

Persyaratan Lokasi Budidaya Ikan Nila

Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung tidak berporos jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi.
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus deras.
Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 ºC.
Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
Persiapan Kolam

Kolam adalah salah satu hal yang paling penting untuk membudidayakan ikan nila. Kolam sebagai tempat pembiakan ikan nila perlu dipersiapakan secara maksimal dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :

Pengeringan kolam.
Perbaikan pematang saluran pemasukkan dan pengeluaran.
Pengapuran dengan ukuran 25-1000 gram/m2.
Pemupukan dengan pupuk kandang 500 gram/ M2, urea 15 gram/ m2 dan TSP gram/ m2.
Pengisian air kolam.
Dapat dilakukan penyemprotan dengan pestisida.
Untuk mencegah hewan/ikan lain masuk maka dapat dipasang saringan pada pintu masuk air.
Kedalaman air 80 – 150 cm kemudian tutup pintu pemasukkan dan pengeluarannya biarkan air tergenang.
Ada dua cara penggunaan probiotik yang bisa dimanfaatkan petani Lele untuk mendongkrak hasil kolamnya.
Probiotik untuk menggemburkan dasar kolam sekaligus memelihara kualitas air. Probiotik ini cukup diguyurkan ke air kolam pada pagi hari setiap dua minggu sekali supaya air selalu sehat, tidak blooming dan penuh dengan plankton sebagai pakan alami.
2. Probiotik untuk memacu pertumbuhan ikan sendiri sekaligus membentengi dari kemungkinan terkena penyakit atau stres. Probiotik itu harus dicampurkan ke pakan, pakan pelet ataupun daun-daunan .
Penebaran ikan nila dilakukan setelah 5 – 7 hari pengisian air kolam.
Penebaran Benih Ikan Nila

Setelah tahapan proses persiapan kolam terlaksana dengan baik, maka pada hari yang kelima samapai hari ketujuh setelah masa pengisian air kolam dilakukan akan dilakukan penebaran benih ikan nila. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah ukuran benih ikan yang disebarkan hendaknya berukuran antara 8-12 cm atau dengan ukuran berat 30 gram/ekor dengan pada tebar sekitar 5-10 ekor/m2. Pemeliharaan ikan nila dilakukan selama 6 bulan atau hingga ukuran berat ikan nila sudah mencapai 400-600 gram/ekor. Untuk mengetahui cara membuat bibit ikan nila unggulan silahkan lihat.

Pemberian Pakan

Dalam pemberian makanan ikan nila diberikan setiap hari dengan komposisi makanan alami dan juga makanan tambahan. Makanan ikan nila ini bisa terdiri dari dedak, ampas kelapa, sisa-sisa makanan dapur dan pelet dengan ukuran protein 20-30%, lemak 70% (maksimal) karbohidrat 63 – 73%. Umumnya pemberian pakan dilakukan 3 kali dalam sehari secara adlibitum yakni pada (pagi, siang dan sore).

Penyakit Ikan

Ikan nila pada umumnya dapat diserang oleh penyakit serius yang disebabkan oleh lingkan dan keadaan yang tidak menyenangkan, seperti populasi yang terlalu padat, kekurangan makanan, penanganan yang kuran baik dan sebagainya. Penanggulangan yang paling efektif dilakukan adalah dengan memberikan kondisi yang lebih baik pada kolam ikan tersebut. Apabila sudah terjadi penyakit yang serius pada sebuah kolam ikan nila maka semua upaya yang dilakukan akan terlambat dan sia-sia. Penyembuhan dengan memberikan antibiotic atau fungisida ke seluruh kolam memerlukan biaya yang cukup mahal. Untuk mengatasi hal ini, maka salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah melakukan pencegahan akan lebih murah dibandingkan dengan melakukan pengobatan yaitu dengan jalan lain melakukan pengeringan pada kolam dan melakukan penyiapan dari permulaan.

Pemanenan Ikan Nila

Masa pemanenan ikan nila sudah dapat dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 – 6 bulan. Ikan nila pada usia 4-6 bulan pemeliharaan akan memiliki berat yang bevariasi yaitu antara 400-600 gram/ekor. Bila ukuran berat dari masing-masing ikan dirasa belum maksimal maka pemanenan bisa juga dilakukan dengan sistem bertahap dimana hanya dipilih ukuran konsumsi (pasar). Pada tahap pertama dengan menggunakan jaring dan setiap bulan berikutnya secara bertahap. Untuk melakukan pemanenan secara mudah bisa juga dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total atau sebagian. Bila ikan dipanen secara keseluruhan, maka kolam dikeringkan sama sekali. Akan tetapi apabila akan memanen sekaligus maka hanya sebagian air yang dibuang. Dalam budidaya ikan nila tidak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kolam yang terbuat dari semen taupun langsung menggunakan tanah melainkan juga dapat menggunakan kolam yang terbuat dari terpal.

Diposkan oleh Munawaroh

Rabu, 15 November 2017

Pemanfaatan Energi,Metabolisme,Protein, Karbohidrat Pada Ikan

Pemanfaatan Energi,Metabolisme,Protein, Karbohidrat Pada Ikan

Energi yang diperoleh dari pakan digunakan sebagai sumber energi utama yang dalam pembagian energi disebut dengan Gross Energi atau energi kotor. Gross Energi (GE) nilai makanan ini dapat didefenisikan sebagai total energi yang terdapat dalam makanan. Semua energi yang diperoleh dari asupan pakan yang dikonsumsi oleh ikan, tidak semuanya dipergunakan untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan ikan karena energi tersebut akan dibagi menjadi Digestible energy (DE) yaitu energi yang dapat dicerna dan Fecal energy (FE) yaitu energi yang digunakan untuk kegiatan pembuangan hasil eksresi pada ikan berupa feses. Dari Digestible Energy ini yang selanjutnya akan dipergunakan oleh ikan untuk kegiatan proses metabolisme dan proses hasil buangan metabolisme yang terbagi menjadi Metabolizable Energy (ME) yaitu energi yang dapat dipergunakan untuk kegiatan metabolisme dan Metabolic Excretion yaitu energi yang dikeluarkan oleh ikan untuk proses pembuangan urin (Urine Excretion) dan Gill Excretion (GE). Energi yang dipergunakan untuk kegiatan metabolisme didalam tubuh ikan ini dibagi lagi menjadi dua yang akan dipergunakan untuk kegiatan aktivitas metabolisme seperti kegiatan mengkonsumsi oksigen dalam media pemeliharaan yang biasa disebut dengan Heat Increment (HiE) atau dengan kata lain dalam proses fisiologis ikan yang disebut dengan Specific Dynamic Action yaitu energi yang diperlukan oleh ikan untuk aktivitas hidup harian ikan. Energi yang tersisa dari proses kegiatan metabolisme adalah energi bersih yang disebut dengan Net Energy (NE) yang akan dipergunakan maintennce atau perawatan ikan seperti metabolisme basal, aktivitas ikan, aktivitas renang, adaptasi terhadap suhu dan sisanya baru akan dipergunakan untuk pertumbuhan. Jadi energi yang akan dipergunakan untuk pertumbuhan adalah energi yang tertinggal setelah kebutuhan untuk metabolisme basal ikan terpenuhi dan jika masih ada yang tersisa energi tersebut akan dipergunakan untuk kegiatan reproduksi.
§  Energi Metabolisme
Tingkat kebutuhan energi pada ikan biasanya dikaitkan dengan tingkat kebutuhan protein optimal dalam pakan. Dalam dunia akuakultur biasa disebut dengan protein energi ratio (P/e). Nilai protein energi ratio pada ikan konsumsi sebaiknya berkisar antara 8 – 10. Nilai ini diperoleh dari hasil perhitungan antara kadar protein dalam pakan dengan jumlah energi yang diperoleh dalam formulasi pakan tersebut pada level energi yang dapat dicerna (DE). Nilai energy yang diperhitungkan tersebut biasa disebut dengan energi metabolisme. Energi metabolisme ini diperoleh setelah nutrien utama karbohidrat, lemak, dan protein mengalami beberapa proses kimia seperti katabolisme dan oksidasi di dalam tubuh hewan. Energi bebas digunakan untuk pemeliharaan pada proses kehidupan seperti metabolisme sel, pertumbuhan, reproduksi dan aktifitas fisik.Keseimbangan antara energi dan protein sangat penting dalam meningkatkan laju pertumbuhan ikan budidaya. Apabila kandungan energi dalam pakan berkurang maka protein dalam tubuh ikan akan dipecah dan dipergunakan sebagai sumber energi. Seperti kita ketahui pada ikan protein sangat berperan dalam pembentukan sel baru, jika protein dipakai sebagi sumber energi maka akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat. Oleh karena itu jumlah energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan ikan budidaya sangat dipengaruhi oleh jenis ikan, umur ikan, komposisi pakan, tingkat reproduksi dan tingkat metabolisme standar.
Energi didalam tubuh organisme biasanya akan diubah menjadi energi kimia yang biasa disebut dengan Adenosin Triphosphat atau ATP. ATP ini sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai aktivitas misalnya proses kehidupan biokimia seperti anabolisme atau sintesa, daya mekanis, tenaga elektris, kerja osmotik dan proses metabolisme lainnya. ATP adalah suatu energi yang kaya akan molekul karena unit triphosphatnya berisi dua ikatan phosphoanhydride. Adenosin triphosphat (ATP) adalah daya penggerak penting karena merupakan energi yang dibutuhkan dalam proses biokimia ada kehidupan. Ikan merupakan organisme air yang menggunakan protein sebagi sumber energi utama berbeda dengan manusia yang menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Oleh karena itu dalam menyusun pakan ikan ada suatu parameter yang disebut dengan kesimbangan energi yang diperoleh dari perhitungan nilai energi yang dapat dicerna dibagi dengan kadar protein pakan ikan. Nilai energi dari setiap kandungan nutrisi pada ikan sangat berbeda, seperti berdasarkan hasil penelitian dari satu gram protein akan memberikan nilai energi kotor (GE) sebesar 5,6 kkal/g, sedangkan untuk satu gram lemak adalah 9,4 kkal/g dan untuk satu gram karbohidrat adalah 4,1 kkal/g. Nilai energi ini merupakan nilai energi yang diperoleh apabila zat makanan secara sempurna dibakar menjadi hasil-hasil oksidasi melalui CO2, H2O dan gas lainnya. Setiap jenis ikan mempunyai daya cerna yang berbeda pada nutrisi yang dikonsumsinya. Pada ikan salmon merupakan salah satu jenis ikan karnivora mempunyai kecernaan yang rendah terhadap karbohidrat sehingga energi yang diperoleh dari karbohidrat hanya dapat dicerna sebanyak 40%, sedangkan ikan catfish merupakan salah satu jenis ikan omnivora mempunyai kemampuan mencerna karbohidrat lebih tinggi dibandingkan dengan ikan karnivora yaitu 70%.
§  protein
Protein merupakan nutrisi utama yang mengandung nitrogen dan merupakan unsur utama dari jaringan dan organ tubuh hewan dan juga senyawa nitrogen lainnya seperti asam nukleat, enzim, hormon, vitamin dan lain-lain. Protein dibutuhkan sebagai sumber energi utama karena protein ini terus menerus diperlukan dalam makanan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan yang rusak. Protein mengandung karbon sebanyak 50-55%, hidrogen 5-7%, dan oksigen 20-25% yang bersamaan dengan lemak dan karbohidrat, juga mengandung nitrogen sebanyak 15-18%, rata-rata adalah 16% dan sebagian lagi merupakan unsur sulfur dan sedikit mengandung fosfat dan besi. Oleh karena itu beberapa literatur mengatakan bahwa protein adalah makro molekul yang terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan boleh juga berisi sulfur. Kadar nitrogen pada protein dapat dibedakan dari lemak dan karbohidrat serta komponen bahan organik lainnya. Protein berasal dari bahasa Yunani yaitu Proteos yang berarti pertama atau utama. Hal ini dikarenakan protein merupakan makromolekul yang paling berlimpah didalam sel hidup dan merupakan 50% atau lebih berat kering sel. Protein dalam setiap sel mahluk hidup tersimpan dalam jaringan dan organ dan sebagai komponen utama jaringan tubuh ikan. Nutrient ini di perlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan serta perawatan jaringan dan organ. Tidak ada bahan gizi lain yang dapat menggantikan peran utamanya dalam membangun dan memperbaiki sel dan jaringan yang rusak. Sebagai tambahan protein juga berperan untuk kontraksi otot dan komponen enzim, hormon dan antibodi. Protein dalam bentuk komplek sebagai heme, karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Hewan air harus mengkonsumsi protein untuk menggantikan jaringan tubuh yang aus/rusak (perbaikan) dan untuk mensintesis jaringan baru (pertumbuhan dan reproduksi).
Selain itu protein mempunyai peranan biologis karena merupakan instrument molekuler yang mengekspresikan informasi genetik. Semua protein pada makhluk hidup dibangun oleh susunan yang sama yaitu 20 macam asam amino baku, yang molekulnya sendiri tidak mempunyai aktivitas biologi. Dari 20 macam asam amino ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu asam amino essensial sebanyak 10 macam merupakan asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh tetapi tubuh ikan tidak dapat mensintesisnya, dan asam amino non essensial sebanyak 10 macam yaitu asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh dan dapat disintesis dalam tubuh ikan itu sendiri. Dalam bab lain anda akan dipelajari tentang sepuluh asam amino yang penting yang diperlukan oleh ikan dan struktur bahan kimia, membedakan antara asam amino essensial dan asam amino non-essensial; asam amino yang diserap ikan; efek defisiensi dan kelebihan dari asam amino berkenaan dengan aturan makan ikan ; prosedur bagaimana cara menentukan kebutuhan asam amino secara kwantitatif dan kwalitatif pada ikan; metoda mengevaluasi mutu protein; dan bagaimana cara menentukan kebutuhan protein beberapa jenis ikan budidaya.
§  Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satumakro nutrient dan menjadi sumber energi utama pada manusia dan hewan darat. Pada ikan, tingkat pemanfaatn karbohidrat dalam pakan umumnya rendah pada khususnya hewan karnivora, karena pada ikan sumber energi utama adalah protein. Ikan karnivora lebih sedikit mengkonsumsi karbohidrat dibandingkan dengan omnivora dan herbivora. Selain itu ikan yang hidup diperairan tropis dan air tawar biasanya lebih mampu memanfaatkan karbohidrat daripada ikan yang hidup diperairan dingin dan air laut. Ikan laut biasanya lebih menggunakan protein dan lemak sebagai sumber energi daripada karbohidrat, tetapi peranan karbohidrat dalam pakan ikan sangat penting bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan. Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa ikan yang diberi pakan dengan kandungan protein tinggi tanpa karbohidrat dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan retensi protein tubuh. Selain itu pakan yang mengandung karbohidrat terlalu sedikit akan menyebabkan terjadinya tingkat katabolisme protein dan lemak yang tinggi untuk mensuplai kebutuhan energi ikan dan menyediakan metabolisme lanjutan (intermedier) untuk sintesis senyawa biologi penting lainnya, sehingga pemanfaatan protein untuk pertumbuhan berkurang. Oleh karena itu pada komposisi pakan ikan harus ada keseimbangan antara karbohidrat, protein dan lemak, dimana ketiga nutrien tersebut merupakan sumber energi bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang. Karbohidrat merupakan senyawa organik yang tersusun dari atom karbon (C), hidrogen (H) dan Oksigen (O) dalam suatu perbandingan tertentu.Karbohidrat berdasarkan analisa proksimat terdiri dari serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Karbohidrat biasanya terdapat pada tumbuhan termasuk pada gula sederhana, kanji, selulosa, karet dan jaringan yang berhubungan dan mengandung unsur C,H,O dengan rasio antara hidrogen dan oksigen 2:1 yang hampir serupa dengan H2O dan kemudian dinamakan ”karbohidrat”.Formula umum karbohidrat adalah Cn (H2O)2.
Karbohidrat adalah sumber energi yang murah dan dapat menggantikan protein yang mahal sebagai sumber energi. Selain itu karbohidrat merupakan Protein sparing effect yang artinya karbohidrat dapat digunakan sebagai sumber energi pengganti bagi protein dimana dengan menggunakan karbohidrat dan lemak sebagai sumber bahan baku maka hal ini dapat mengurangi harga pakan. Pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi dalam tubuh dapat juga dipengaruhi oleh aktivitas enzim dan hormon. Enzim dan hormon ini penting untuk proses metabolisme karbohidrat dalam tubuh seperti glikolisis, siklus asam trikarboksilat, jalur pentosa fosfat, glukoneogenes dan glikogenesis. Selain itu dalam aplikasi pembuatan pakan karbohidrat seperti kanji, zat tepung, agar-agar, alga, dan getah dapat juga digunakan sebagai pengikat makanan (binder) untuk meningkatkan kestabilan pakan dalam air pada pakan ikan dan udang.

Diposkan oleh Munawaroh,SP.

Selasa, 14 November 2017

PEMBESARAN IKAN LELE DALAM KOLAM

PEMBESARAN IKAN LELE DALAM KOLAM



Ikan lele sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara yang hidup di air tawar ikan ini memang banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak dan lezat oleh karena kelezatannya ikan ini sering kali dibudidayakan dan memang sangat menguntungkan.

Klasifikasi ikan lele adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Subkelas : Teleostei

Ordo : Ostarophysi

Subordo : Siluroidae

Famili : Clariidae

Genus : Clarias

Species : Clarias Batrachus

Persyaratan Budidaya Ikan Lele

Budidaya ikan lele memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara lain sebagai berikut :

Ikan lele dapat hidup pada suhu 20 ÂºC dengan suhu optimal antara 25 ºC sampai 28 ºC. Adapun untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26 ºC sampai 30 ºC dan untuk pemijahan 24-28 ºC.
Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia limbah industri, merkuri atau mengandung kadar minyak dan bahan lainnya yang dapat mematikan ikan lele.
Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya cukup walaupun kondisi airnya buruk, keruh, kotor dan hanya mengandung sedikit sekali zat O2 (oksigen).
Perairan yang baik adalah banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan bahan makanan alami perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.
Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-daunan hidup (jangan menanam terlalu banyak enceng gongok).
mempunyai tingkat pH 6.5-9 kesadahan (derajat butiran kasar) maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm, turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30-60 cm, kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar dari 0.3 ppm untuk yang dewasa sampai jenuh untuk burayak dan kandungan CO2 kurang dari 12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157.56 mg/liter.
Persiapan Kolam

Kedalaman kolam 1,5 m
Pengeringan mininal 15 hari
Pengapuran dengan kapur pertanian (dolomite) 100gr /m2 fungsinya untuk memperbaiki pH tanah.
Dapat juga dilakukan pemupukan dengan pupuk kandang 200gr/m2
Biarkan hingga beberapa hari agar ada proses mineralisasi (proses pembentukan mineral)
Diamkan air sampai fitoplanton tumbuh yang ditandai warna air yang menjadi kehijauan.
Persiapan Air Kolam

Persiapan air kolam ini juga wajib dan berperan sangat penting karena banyak penyakit dan tingginya angka kematian ikan lele yg penyebabnya karena kondisi air yang tidak memenuhi syarat misalnya pH, suhu, oksigen terlarut, amoniak dll. banyak pengusaha ternak ikan lele hanya sebatas mengetahui saja bahwa kualitas air yang baik untuk ikan lele tapi tidak menerapkannya, hal ini sangat merugikan khususnya dalam usaha budidaya ikan lele jangan menebar benih ikan lele dengan kondisi air yang belum memenuhi syarat sebaiknya gunakan alat pengukur kualitas air dengan baik. Bisa memakai sumber air dari dimana saja tetapi dengan syarat kadar besi rendah. Kalau air PAM wajib diendapkan dulu 1-3 hari supaya kadar air yang dikandung tidak membahayakan.

Pemupukan

Produksi ikan di kolam lebih banyak di tentukan oleh tingkat kesuburan tanah oleh sebab itu kolam perlu dipupuk. Baik pupuk kandang, kompos maupun pupuk buatan. Pemakaian pupuk kandang perlu pelapukan sebelum dimaskkan kedalam kolam. Dosis pupuk kandang sekitar 0,5 kg sampai 0,75 kg permeter .

Penebaran Benih

Seperti biasa pilih benih yang unggul dan berkualitas serta sehat.
Lakukan aklimatisasi (upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi ke lingkungan baru yang akan dimasukinya) dengan memasukkan benih beserta kantong plastiknya sekitar 30 menit  1 jam. Setelah itu benih bisa ditebar.
Padat tebar : air statis : 200 ekor/m2 jika ada aliran air (kecil) kepadatan dapat ditambah hingga 300-400 ekor/m2.
Ketinggian air kira-kira 80 cm ditambah seiring dengan pertumbuhan lele sampai mencapai 1,5 m.
Pemberian Pakan

Faktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan lele adalah faktor pemberia makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya ikan lele adalah dari aspek kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin pakan. Pemberian pakan dilakukan 2-3 kali sehari (pagi, siang dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel) dan bisa juga dilakukan dengan cara adlibitum (sampai kenyang). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas, bekicot, ikan sisa, usus ayam dan dan tambahan roti yang sudah dibusukkan atau di fermentasi sama EM4 ddan probiotik untuk penambahan pakan alami pada ikan supaya ikan menjadi sehat dan cepat besar berat badah tambah panen lebih cepat kira-kira 2 bulan bisa di panen jadi bisa mengurangi biaya pakan toko dan menambah penghasilan keluarga maka dari itu pembudidaya bisa encontoh dengan budidaya lainya atau stady banding yang sudah baik dan menguntungkan sehingga dapat di contoh di kolamnya untuk belajar berbudidaya dengan baik badan benar dengan cara-caranya dan lain-lain. Pakan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.Tata cara pemberian pakan ikan lele yang dibudidayakan sangatlah penting karena pemberian pakan ikan lele yang salah bisa mengakibatkan pemborosan atau bisa juga membuat ikan lele menjadi mati.

Penanganan Hama Dan Penyakit

Salah satu kendala dan masalah budidaya ikan lele adalah hama dan penyakit. Pada pembesaran ikan lele di jaring terapung dan kolam, hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Cegah akses masuk hama tersebut ke kolam atau dengan memasang lampu penerangan di sekitar kolam sehingga hama tersebut biasanya enggan masuk jika ada sinar lampu. Penyakit ikan lele ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi, penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.

Pemanenan Ikan Lele

Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budidaya ikan lele meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan, kematian, cacat saat dipanen. Sayang  jika budidaya ikan lele sudah berhasil dengan baik harus gagal hanya karena cara panen yang salah. Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu Jadi apa bila ikan sudah terlihat menumpuk maka perlahan-lahan ikan diangkat agar ikan tersebut tetap dalam keadaan aman dan pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap segar sehingga kematian ikan dapat dihindari.

Diposkan oleh Munawaroh

Senin, 13 November 2017

NUTRISI IKAN DAN FUNGSINYA

NUTRISI IKAN DAN FUNGSINYA








Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung berbagai macam zat nutrisi. Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tak jenuh (omega-3, Eicosapentaenoic acid /EPA, Docosahexanoic acid /DHA), yodium, selenium, flourida, zat besi, magnesium, zink, taurin, coenzyme Q10. Disamping itu, ikan juga mengandung kalori yang rendah. Kekerangan mempunyai kandungan zat gizi yang hampir sama dengan ikan. Sedangkan Crustacea mengandung dua kali lebih banyak kolesterol dibanding ikan dan molusca diklasifikasikan makanan yang tinggi kolesterol. Namun demikian, kandungan omega-3 dan nutrisi lainnya dalam Crustacea dan mulusca juga tinggi. Bahkan beberapa ahli nutrisi juga mengungkapkan tingginya kolesterol dalam makanan tidak selalu menjadi prediksi tingginya kolesterol dalam darah. Oleh karena itu, mengkonsumsi Crustacea dan mulusca dua kali seminggu masih memiliki efek positif yang lebih besar dibandingkan dengan efek negatifnya.
§  Selenium
Selenium sudah diakui sebagai unsur esensial bagi manusia dan merupakan bagian penting dari enzym yang berperan dalam membuat antioksidan. Selenium membantu mencegah kerusakan DNA yang disebabkan zat kimiawi dan radiasi. Hasil penelitian pada hewan percobaan menunjukkan kekurangan selenium menimbulkan gejala pertumbuhan lambat; dystrophy otot dan necrosis jantung, ginjal dan hati. Bagi daerah/negara yang tingkat kandungan selenium dalam tanahnya rendah seperti Australia, maka mengkonsumsi ikan menjadi faktor yang amat penting untuk mencegah kekurangan selenium.
§  Co-enzyme Q10
Ikan adalah salah satu sumber co-enzym Q10 yang sangat baik. Walaupun lebih dari 40 tahun yang lalu co-enzym Q10 telah dikenal berfungsi sebagai suatu antioksidan, namun baru akhir-akhir ini mendapat perhatian berkaitan dengan sumber makanannya. Konsentrasi co-enzym meningkat dibawah pengaruh tekanan seperti latihan fisik dan dalam kondisi degeneratif otak, seperti penyakit kepikunan/alzheimer. Dilaporkan juga bahwa konsentrasi co-enzym menurun pada beberapa penyakit termasuk penyakit degenerasi otot dan carcinomas hati. Walaupun co-enzyme Q10 dapat dibangun dalam tubuh, namun asupan dari makanan masih sangat diperlukan.
§  Taurin
Seafood banyak mengandung taurin. Asam amino ini telah diketahui berperan dalam formasi dan ekskresi garam empedu, yang dipecah menjadi kolesterol. Taurin juga berperan dalam fungsi retina dan fungsi kognitif.
§  Asam lemak tak jenuh
Seafood mengandung asam lemak tak jenuh omega-3, Eicosapentaenoic Acid (EPA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) yang sangat tinggi. Kandungan omega-3 pada ikan jauh lebih tinggi dibanding sumber protein hewani lain seperti daging sapi dan ayam. Daging babi bahkan sama sekali tidak mengandung omega-3. Tubuh manusia dapat membentuk beberapa tipe asam lemak, namun demikian asupan asam lemak essensial khususnya asam lemak tak jenuh omega-3 dan omega-6 masih diperlukan. Sumber utama omega-3 adalah seafood dan tanaman seperti kacang kedelai, kanola, biji rami. Sedangkan sumber utama omega-6 juga ditemukan dalam semua jenis seafood seperti Crustacea, mulusca, ikan dan tanaman seperti bunga matahari, jagung dan kedele. Konsumsi makanan yang berasal dari tanaman yang mengandung omega-6 menyebabkan rasio omega-3 dengan omega-6 menjadi rendah karena kandungan omega-3 pada tanaman jauh lebih rendah dibanding makanan dari ikan. Konsumsi ikan secara teratur memegang peranan penting dalam memenuhi rasio omega-3 dan omega-6. Untuk pencegahan terhadap kekurangan asam lemak esensial, ahli nutrisi menyarankan manusia harus mengkonsumsi tidak kurang dari 2,4% dari total asupan omega-6 dan 0,5-1,0% dari total asupan omega-3.
§  Energi
Dalam kehidupan manusia setiap hari sering mendengar istilah energi. Energi berasal dari kata Yunani yaitu En yang berarti in dan Ergar yang berarti work, dari arti kata asalnya energi dapat didefenisikan sebagai kapasitas atau sesuatu yang dapat diolah kedalam bentuk kerja atau kemampuan untuk bekerja. Bentuk energi dalam kehidupan manusia dapat dikelompokkan berdasarkan sumbernya yaitu energi mekanik, energi panas,energi listrik dan energi molekuler. Energi akan ada dan hadir dalam setiap bentuk yang berbeda dan disesuaikan dengan pekerjaan berbeda. Pada ikan sebagai organisme yang berhubungan dengan air membutuhkan makanan untuk menyediakan energi yang mereka perlukan. Energi bagi makhluk hidup berasal dari makanan dimana dari makanan ini akan diubah menjadi energi kimia dan disimpan dalam tubuh dalam bentuk Adenosin Tri Phosphat (ATP). Dengan adanya energi ini dapat mengubah energi kinetik dari suatu reaksi metabolisme yang menimbulkan kerja dan panas. Pada ikan sumber energi diperoleh dari pakan, dimana pada pakan ikan ini mengandung zat gizi/nutrien yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein dan dapat terukur secara langsung atas pertolongan bom kalorimeter. Energi diperlukan untuk melakukan pekerjaan mekanis (aktivitas otot), pekerjaan kimia (proses kimia yang berlangsung dalam tubuh), kerja elektrik (aktifitas saraf), dan pekerjaan osmotic (memelihara badan untuk menjaga keseimbangan satu sama lain dan dengan medium air tawar, payau atau air laut dimana organisme air itu hidup). Energi yang diperoleh oleh makhluk hidup ini dapat menimbulkan panas dimana menurut ilmuwan Lavoiser dan La Place (1780) Panas dari tubuh hewan berasal dari oksidasi zat-zat organik dan makanan yang diberikan digunakan sebagai sumber energi. Oleh karena itu nilai energi suatu bahan makanan dapat dipakai sebagai dasar dalam menentukan nilai gizi dari bahan makanan tersebut.
Energi bebas adalah energi yang tersedia untuk aktifitas biologi dan pertumbuhan setelah kebutuhan energi terpenuhi.Kuantitas dan energi yang tersedia untuk pertumbuhan merupakan jenis energi yang paling utama dari segi pandangan akuakultur. Kebutuhan energi hewan air berbeda-beda kuantitasnya, hal ini dapat dibedakan berdasarkan jenis ikan yang dibudidayakan, kebiasaan makan, ukuran ikan, lingkungan dan status reproduksi. Energi yang disediakan oleh makanan adalah salah satu pertimbangan yang penting di dalam menentukan nilai gizinya. Energi dinyatakan dalam kilokalori (kkal) atau kilojoule (kJ). Satu kilokalori adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur satu gram air dari 14,5oC menjadi 15,5 oC (dalam air 10C). Joule adalah satuan tenaga listrik dalam sistem metrik dan satu kkal sama dengan 4.184 kJ. Sebagai contoh, 70 kkal sama dengan 293.02 kJ atau dapat juga menggunakan satuan British Thermal Unit (BTU) dimana 1 BTU = 252 kalori. Setelah mempelajari bagian ini, pembaca harus bisa membedakan bentuk energy dan pengukurannya. Memahami metabolisme energi berkenaan dengan makanan, persamaan energi dalam keseimbangan dan faktor-faktor yang berpengaruh pada energi yang menyebabkan kebutuhan ikan akan energi disesuaikan dengan cara pemberian pakan dalam budidaya ikan dan memahami arti protein energi ratio yang merupakan perbandingan antara protein optimal dengan energi yang terdapat dalam pakan ikan.

§  Pemanfaatan Energi
Energi yang diperoleh dari pakan digunakan sebagai sumber energi utama yang dalam pembagian energi disebut dengan Gross Energi atau energi kotor. Gross Energi (GE) nilai makanan ini dapat didefenisikan sebagai total energi yang terdapat dalam makanan. Semua energi yang diperoleh dari asupan pakan yang dikonsumsi oleh ikan, tidak semuanya dipergunakan untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan ikan karena energi tersebut akan dibagi menjadi Digestible energy (DE) yaitu energi yang dapat dicerna dan Fecal energy (FE) yaitu energi yang digunakan untuk kegiatan pembuangan hasil eksresi pada ikan berupa feses. Dari Digestible Energy ini yang selanjutnya akan dipergunakan oleh ikan untuk kegiatan proses metabolisme dan proses hasil buangan metabolisme yang terbagi menjadi Metabolizable Energy (ME) yaitu energi yang dapat dipergunakan untuk kegiatan metabolisme dan Metabolic Excretion yaitu energi yang dikeluarkan oleh ikan untuk proses pembuangan urin (Urine Excretion) dan Gill Excretion (GE). Energi yang dipergunakan untuk kegiatan metabolisme didalam tubuh ikan ini dibagi lagi menjadi dua yang akan dipergunakan untuk kegiatan aktivitas metabolisme seperti kegiatan mengkonsumsi oksigen dalam media pemeliharaan yang biasa disebut dengan Heat Increment (HiE) atau dengan kata lain dalam proses fisiologis ikan yang disebut dengan Specific Dynamic Action yaitu energi yang diperlukan oleh ikan untuk aktivitas hidup harian ikan. Energi yang tersisa dari proses kegiatan metabolisme adalah energi bersih yang disebut dengan Net Energy (NE) yang akan dipergunakan maintennce atau perawatan ikan seperti metabolisme basal, aktivitas ikan, aktivitas renang, adaptasi terhadap suhu dan sisanya baru akan dipergunakan untuk pertumbuhan. Jadi energi yang akan dipergunakan untuk pertumbuhan adalah energi yang tertinggal setelah kebutuhan untuk metabolisme basal ikan terpenuhi dan jika masih ada yang tersisa energi tersebut akan dipergunakan untuk kegiatan reproduksi.
§  Energi Metabolisme
Tingkat kebutuhan energi pada ikan biasanya dikaitkan dengan tingkat kebutuhan protein optimal dalam pakan. Dalam dunia akuakultur biasa disebut dengan protein energi ratio (P/e). Nilai protein energi ratio pada ikan konsumsi sebaiknya berkisar antara 8 – 10. Nilai ini diperoleh dari hasil perhitungan antara kadar protein dalam pakan dengan jumlah energi yang diperoleh dalam formulasi pakan tersebut pada level energi yang dapat dicerna (DE). Nilai energy yang diperhitungkan tersebut biasa disebut dengan energi metabolisme. Energi metabolisme ini diperoleh setelah nutrien utama karbohidrat, lemak, dan protein mengalami beberapa proses kimia seperti katabolisme dan oksidasi di dalam tubuh hewan. Energi bebas digunakan untuk pemeliharaan pada proses kehidupan seperti metabolisme sel, pertumbuhan, reproduksi dan aktifitas fisik.Keseimbangan antara energi dan protein sangat penting dalam meningkatkan laju pertumbuhan ikan budidaya. Apabila kandungan energi dalam pakan berkurang maka protein dalam tubuh ikan akan dipecah dan dipergunakan sebagai sumber energi. Seperti kita ketahui pada ikan protein sangat berperan dalam pembentukan sel baru, jika protein dipakai sebagi sumber energi maka akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat. Oleh karena itu jumlah energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan ikan budidaya sangat dipengaruhi oleh jenis ikan, umur ikan, komposisi pakan, tingkat reproduksi dan tingkat metabolisme standar.
Energi didalam tubuh organisme biasanya akan diubah menjadi energi kimia yang biasa disebut dengan Adenosin Triphosphat atau ATP. ATP ini sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai aktivitas misalnya proses kehidupan biokimia seperti anabolisme atau sintesa, daya mekanis, tenaga elektris, kerja osmotik dan proses metabolisme lainnya. ATP adalah suatu energi yang kaya akan molekul karena unit triphosphatnya berisi dua ikatan phosphoanhydride. Adenosin triphosphat (ATP) adalah daya penggerak penting karena merupakan energi yang dibutuhkan dalam proses biokimia ada kehidupan. Ikan merupakan organisme air yang menggunakan protein sebagi sumber energi utama berbeda dengan manusia yang menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Oleh karena itu dalam menyusun pakan ikan ada suatu parameter yang disebut dengan kesimbangan energi yang diperoleh dari perhitungan nilai energi yang dapat dicerna dibagi dengan kadar protein pakan ikan. Nilai energi dari setiap kandungan nutrisi pada ikan sangat berbeda, seperti berdasarkan hasil penelitian dari satu gram protein akan memberikan nilai energi kotor (GE) sebesar 5,6 kkal/g, sedangkan untuk satu gram lemak adalah 9,4 kkal/g dan untuk satu gram karbohidrat adalah 4,1 kkal/g. Nilai energi ini merupakan nilai energi yang diperoleh apabila zat makanan secara sempurna dibakar menjadi hasil-hasil oksidasi melalui CO2, H2O dan gas lainnya. Setiap jenis ikan mempunyai daya cerna yang berbeda pada nutrisi yang dikonsumsinya. Pada ikan salmon merupakan salah satu jenis ikan karnivora mempunyai kecernaan yang rendah terhadap karbohidrat sehingga energi yang diperoleh dari karbohidrat hanya dapat dicerna sebanyak 40%, sedangkan ikan catfish merupakan salah satu jenis ikan omnivora mempunyai kemampuan mencerna karbohidrat lebih tinggi dibandingkan dengan ikan karnivora yaitu 70%.
§  protein
Protein merupakan nutrisi utama yang mengandung nitrogen dan merupakan unsur utama dari jaringan dan organ tubuh hewan dan juga senyawa nitrogen lainnya seperti asam nukleat, enzim, hormon, vitamin dan lain-lain. Protein dibutuhkan sebagai sumber energi utama karena protein ini terus menerus diperlukan dalam makanan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan yang rusak. Protein mengandung karbon sebanyak 50-55%, hidrogen 5-7%, dan oksigen 20-25% yang bersamaan dengan lemak dan karbohidrat, juga mengandung nitrogen sebanyak 15-18%, rata-rata adalah 16% dan sebagian lagi merupakan unsur sulfur dan sedikit mengandung fosfat dan besi. Oleh karena itu beberapa literatur mengatakan bahwa protein adalah makro molekul yang terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan boleh juga berisi sulfur. Kadar nitrogen pada protein dapat dibedakan dari lemak dan karbohidrat serta komponen bahan organik lainnya. Protein berasal dari bahasa Yunani yaitu Proteos yang berarti pertama atau utama. Hal ini dikarenakan protein merupakan makromolekul yang paling berlimpah didalam sel hidup dan merupakan 50% atau lebih berat kering sel. Protein dalam setiap sel mahluk hidup tersimpan dalam jaringan dan organ dan sebagai komponen utama jaringan tubuh ikan. Nutrient ini di perlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan serta perawatan jaringan dan organ. Tidak ada bahan gizi lain yang dapat menggantikan peran utamanya dalam membangun dan memperbaiki sel dan jaringan yang rusak. Sebagai tambahan protein juga berperan untuk kontraksi otot dan komponen enzim, hormon dan antibodi. Protein dalam bentuk komplek sebagai heme, karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Hewan air harus mengkonsumsi protein untuk menggantikan jaringan tubuh yang aus/rusak (perbaikan) dan untuk mensintesis jaringan baru (pertumbuhan dan reproduksi).
Selain itu protein mempunyai peranan biologis karena merupakan instrument molekuler yang mengekspresikan informasi genetik. Semua protein pada makhluk hidup dibangun oleh susunan yang sama yaitu 20 macam asam amino baku, yang molekulnya sendiri tidak mempunyai aktivitas biologi. Dari 20 macam asam amino ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu asam amino essensial sebanyak 10 macam merupakan asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh tetapi tubuh ikan tidak dapat mensintesisnya, dan asam amino non essensial sebanyak 10 macam yaitu asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh dan dapat disintesis dalam tubuh ikan itu sendiri. Dalam bab lain anda akan dipelajari tentang sepuluh asam amino yang penting yang diperlukan oleh ikan dan struktur bahan kimia, membedakan antara asam amino essensial dan asam amino non-essensial; asam amino yang diserap ikan; efek defisiensi dan kelebihan dari asam amino berkenaan dengan aturan makan ikan ; prosedur bagaimana cara menentukan kebutuhan asam amino secara kwantitatif dan kwalitatif pada ikan; metoda mengevaluasi mutu protein; dan bagaimana cara menentukan kebutuhan protein beberapa jenis ikan budidaya.
§  Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satumakro nutrient dan menjadi sumber energi utama pada manusia dan hewan darat. Pada ikan, tingkat pemanfaatn karbohidrat dalam pakan umumnya rendah pada khususnya hewan karnivora, karena pada ikan sumber energi utama adalah protein. Ikan karnivora lebih sedikit mengkonsumsi karbohidrat dibandingkan dengan omnivora dan herbivora. Selain itu ikan yang hidup diperairan tropis dan air tawar biasanya lebih mampu memanfaatkan karbohidrat daripada ikan yang hidup diperairan dingin dan air laut. Ikan laut biasanya lebih menggunakan protein dan lemak sebagai sumber energi daripada karbohidrat, tetapi peranan karbohidrat dalam pakan ikan sangat penting bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan. Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa ikan yang diberi pakan dengan kandungan protein tinggi tanpa karbohidrat dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan retensi protein tubuh. Selain itu pakan yang mengandung karbohidrat terlalu sedikit akan menyebabkan terjadinya tingkat katabolisme protein dan lemak yang tinggi untuk mensuplai kebutuhan energi ikan dan menyediakan metabolisme lanjutan (intermedier) untuk sintesis senyawa biologi penting lainnya, sehingga pemanfaatan protein untuk pertumbuhan berkurang. Oleh karena itu pada komposisi pakan ikan harus ada keseimbangan antara karbohidrat, protein dan lemak, dimana ketiga nutrien tersebut merupakan sumber energi bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang. Karbohidrat merupakan senyawa organik yang tersusun dari atom karbon (C), hidrogen (H) dan Oksigen (O) dalam suatu perbandingan tertentu.Karbohidrat berdasarkan analisa proksimat terdiri dari serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Karbohidrat biasanya terdapat pada tumbuhan termasuk pada gula sederhana, kanji, selulosa, karet dan jaringan yang berhubungan dan mengandung unsur C,H,O dengan rasio antara hidrogen dan oksigen 2:1 yang hampir serupa dengan H2O dan kemudian dinamakan ”karbohidrat”.Formula umum karbohidrat adalah Cn (H2O)2.
Karbohidrat adalah sumber energi yang murah dan dapat menggantikan protein yang mahal sebagai sumber energi. Selain itu karbohidrat merupakan Protein sparing effect yang artinya karbohidrat dapat digunakan sebagai sumber energi pengganti bagi protein dimana dengan menggunakan karbohidrat dan lemak sebagai sumber bahan baku maka hal ini dapat mengurangi harga pakan. Pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi dalam tubuh dapat juga dipengaruhi oleh aktivitas enzim dan hormon. Enzim dan hormon ini penting untuk proses metabolisme karbohidrat dalam tubuh seperti glikolisis, siklus asam trikarboksilat, jalur pentosa fosfat, glukoneogenes dan glikogenesis. Selain itu dalam aplikasi pembuatan pakan karbohidrat seperti kanji, zat tepung, agar-agar, alga, dan getah dapat juga digunakan sebagai pengikat makanan (binder) untuk meningkatkan kestabilan pakan dalam air pada pakan ikan dan udang.

Diposkan oleh Munawaroh,SP.