Selasa, 19 Desember 2017
Senin, 18 Desember 2017
BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR
BUDIDAYA IKAN BAWAL AIR TAWAR
|
Budidaya bawal air tawar (Colosoma macropomum) mulai berkembang sejak 15 tahun yang lalu. Ikan inpun tidak bisa memijah secara alami. Pemijahan bawal air tawar hanya bisa dilakukan secara buatan atau lebih dikenal dengan istilah kawin suntik (induce breeding).
Pematangan Gonad
Pematangan gonad bawal air tawar dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 100 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 100 ekor induk ukuran 3 – 5 kg; beri pakan tambahan berupa pellet tenggelam sebanyak 3 persen/hari. Catatan : induk jantan betina dipelihara terpisah.
Seleksi
Seleksi induk bawal air tawar dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina yang matang gonad : perut gendut; gerakan lamban dan lubang kelamin kemerahan. Tanda induk jantan : gerakan lincah, lubang kelamin kemerahan, bila dipijit keluar cairan putih susu. Usahakan saat seleksi mengangkap ikan lebih dari satu, sebagai cadangan bila setelah diseleksi kurang matang.
Pemberokan
Pemberokan induk bawal air tawar dilakukan di bak selama semalam. Caranya, siapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 hari; isi dengan air bersih setinggi 40 – 50; masukan 5 – 8 ekor induk; cm dan biarkan mengalir selama pemberokan. Catatan : Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurang kandungan lemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan.
Penyuntikan dengan ovaprim
Penyuntikan adalah kegiatan memasukan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. (suplayer ovaprim dll). Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,6 ml ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikan bagian punggung induk tersebut; masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 - 12 jam.
Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,2 ml/kg induk) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 0,4 ml/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.
Penyuntikan dengan hypopisa
Penyuntikan bisa juga dengan larutan kelenjar hypopisa ikan mas. Caranya, tangkap induk betina yang sudah matang gonad; siapkan 2 kg ikan mas ukuran 0,5 kg untuk setiap kilogran induk betina; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutu insang; potong bagian kepala secara horizontal tepat di bawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypopisa; masukan kelenjar hipofisa tersebut ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukan 1 cc aquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypopisa itu; suntikan ke bagian punggung induk betina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 – 12 jam.
Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,6 kg ikan mas/kg induk betina) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 dosis total (atau 1,4 kg ikan mas/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,6 ml/kg induk jantan.
Pengambilan sperma
Pengambilan sperma dilakukan setengah jam sebelum pengeluaran telur. Caranya, tangkap 1 ekor induk jantan yang sudah matang kelamin; lap hingga kering; bungkus tubuh induk dengan handuk kecil; pijit ke arah lubang kelamin; tampung sperma ke dalam mangkuk plastik atau cangkir gelas; campurkan 200 cc Natrium Clhorida (larutan fisiologis atau inpus); aduk hingga homogen. Catatan : pengeluaran sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang memegang kepala dan memijit dan satu orang lagi memegang ekor dan mangkuk plastik. Jaga agar sperma tidak terkena air.
Pengeluaran telur
Pengeluaran telur dilakukan setelah 10 – 12 jam setelah penyuntikan, namun 9 jam sebelumnya dilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natrium chlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu; tangkap induk dengan sekup net; keringkan tubuh induk dengan handuk kecil atau lap; bungkus induk dengan handuk dan biarkan lubang telur terbuka; pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yang lainnya; pijit bagian perut ke arah lubang telur oleh pemegang kepala; tampung telur dalam baskom plastik; campurkan larutan sperma ke dalam telur; aduk hingga rata dengan bulu ayam; tambahkan Natrium chrorida dan aduk hingga rata; buang cairan itu agar telur-telur bersih dari darah; telur siap ditetaskan.
Penetasan di akuarium
Penetasan telur bawal air tawar dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan 20 buah akuarium ukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 30 cm; pasang tiga buah titik aerasi untuk setiap akuarium dan hidupkan selama penetasan; tebarkan tebar secara merata ke permukaan dasar akuarium; 2 – 3 hari kemudian buang sebagian airnya dan tambahkan air baru hingga mencapai ketinggian semula; 2 hari kemudian beri pakan berupa naupli artemia secukupmnya; lakukan panen pada hari ke tujuh dengan menggunakan gayung plastik; larva ini siap ditebar ke kolam penederan I.
Pendederan I di kolam
Pendederan I bawal air tawar dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
Pendederan I di bak tembok
Pendederan I bawal air tawar bisa juga dilakukan di bak tembok dan plastik. Caranya : siapkan bak tembok atau plastik berukuran panjang 3 m, lebar 1 m m dan tinggi 0,6 m; keringkan selama 2 hari; pasang lima buah 7 buah titik aerasi; pasang 4 buah pemanas air; masukan 100.000 larva hasil dari tempat penetasan; beri pakan berupa naupli artemia sampai hari ketujuh; siphon setiap hari (bersihkan dengan selang) sisa naupli artemia yang tidak termakan; beri pakan cincangan cacing rambut yang sudah dicuci dengan air bersih; siphon setiap hari cacing yang tidak termakan; panen setelah berumur 3 minggu; seleksi benih-benih tersebut dengan ayakan seleksi. Benih yang dipanen berukuran 0,5 – 1,0 inchi.
Pendederan II
Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasar; tebarkan 5 - 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 30.000 ekor benih hasil pendederan I (telah diseleksi); beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.
Pendederan III
Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 20.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi); beri 4 - 6 kg pelet; panen benih dilakukan sebulan kemudian.
Pembesaran
Pembesaran bawal air tawar dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 500 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 6 - 8 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 - 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 400 – 500 kg.
Pembesaran di keramba jaring apung lapis pertama
Pembesaan bawal air tawar bisa juga dilakukan di kolam jaring apung (KJA). Caranya, siapkan sebuah kolam jaring apung lapis pertama; masukan 300 kg benih hasil pendedera III yang sudah diseleksi; beri pelet setiap hari secara adlibitum (beri saat lapar dan hentikan setelah kenyang; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah keramba jaring apung dapat meghasilkan ikan konsumsi sebanyak 1,5 – 2 ton.
|
SUMBER:
http://bdp-unhalu.blogspot.coM
http://agusrochdianto.wordpress.com
http://ebookbrowsee.net
Diposkan oleh Munawaroh,S.P.
Sabtu, 16 Desember 2017
MEMAHAMI TAKSONOMI, MORFOLOGI DAN ASPEK BIOLOGI IKAN KERAPU
MEMAHAMI TAKSONOMI, MORFOLOGI DAN ASPEK BIOLOGI IKAN KERAPU
Pendahuluan
Keberhasilan dalam usaha budidaya ikan tidak terlepas dari pengetahuan tentang biologi yang meliputi : Taksonomi, morfologi, penyebaran/distribusi, habitat, pakan dan kebiasaan makannya. Dengab mengetahui biologi ikan Kerapu maka usaha pengembangan teknologi budidaya dari fase pembenihan di bak terkendali hingga fase pembesaran yang dilakukan di karamba jaring apung akan berhasil.
Beberapa jenis ikan Kerapu yang telah berhasil dibudidayakan dan bahkan telah diekspor ke berbagai manca Negara antara lain : Kerapu macan, Kerapu Tikus, kerapu kertang dan lain-lain.
Menurut Nontji (9187), nama kerapu biasanya digunakan untuk empat marga anggota suku Srranidae, yaitu Epinephelus, Variola, Plectropomus dan Cromileptes. Sebagian besar anggota suku Serranidae hidup di perairan yang relative dangkal dengan dasar terumbu karang, tetapi beberapa jenis diantaranya dapat ditemukan pada kedalaman sekitar 300 m. adapun parameter ekologi yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu, yaitu temperature air 24-31ยบC, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut >3,5 ppm dan pH antara 7,8-8 (Yushimitsu et al.,1986).
Kerapu merupakan ikan karnivora yang cenderung menangkap mangsa yang aktif di dalam kolom air (Nybakken,, 1988). Hasil analisa isi perut ikan kerapu menunjukkan bahwa ikan kerapu merupakan pemangsa ikan-ikan yanglebih kecil, moluska dan beberapa jenis udang (Nybakken, 1988). Sedangkan larva ikan kerapu merupakan pemangsa trokofor, zooplankton, kopeppoda dan larva bulu babi. Tampobolon dan Mulyadi (1989), menjelaskan bahwa ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan di siang hari dan malam hari, namun lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.
Takosonomi dan Morfologi Kerapu
Ikan kerapu telah menjadi komoditas ekspor dari hasil budidaya laut dan dari berbagai jenis kerapu yang telah banyak dibudidayakan secara komersial antara lain kerapu macan dan kerapu Tikus.
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Osteichtyes
Sub-class : Actinopterygii
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Family : Serranidae
Genus : Ephinephelus
Species : Ephinephelus suillus, E. fuscogutatus
Kerapu lumpur, Kerapu macan.
Genus : Cromileptes
Species : Chromileptes altivelis (Kerapu Tikus
Geneus : Plectropomus
Species : Plectropomus maculates, P. leopardus
Kerapu sunu
Ikan Kerapu macan merupakan ikan karang yang tergolong dalam family Serranidae dengan banyak nama lokal.
Heemstra (1993), telah mendiskripsikan morfologi ikan Kerapu Macan sebagai berikut : Bentuk badan memanjang gepeng atau agak membulat, luasan antar ousat (kepala) datar cenderung cekung. Kepala bagian depan untuk ikan dewasa terdapat lekukan mata yang cekung sampai dengan sirip punggung. pre operculum membundar dengan pinggiran bergerigi dengan tepi bagian atas cekung menurun secara vertikal ke hamper ujung operculum. Bagian tengah rahang bawah terdiri dari 3 atau 4 baris gigi dengan barisan bagian dalam dua (2) kali lebih panjang daripada bagian luar. Tapis insang terdiri dari 10-12 tungkai dengan bagian dasar tidak terhitung. Sirip punggung terdiri dari 14 – 15 tulang rawan dan 11 tulang keras dengan barisan ke-3 atau ke-4 lebih panjang sedangkan pada sirip anus terdapat 3 tulang keras dan 8 tulang rawan dengan panjang 2,0 – 2,5 bagian panjang kepala. Warna tubuh coklat muda dengan lima seri tompel coklat besar yang tidak beraturan. Badan, kepala dan sirip ditutupi oleh titik-titik kecil coklat dimana pada bagian tompel berwarna lebih gelap. Sirip ekor membundar dan mata besar menonjol. Panjang, standar untuk ikan dewasa 11-55 cm.
Gambar Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogutatus)
Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) mempunyai cirri-ciri morfologi sirip punggung dengan 10 duri keras dan 18 – 19 duri lunak, sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak, sirip ekor dengan 1 duri keras dan 70 duri lunak. Panjang total 3,3 - 3,8 kali tingginya, panjang kepala seperempat panjang total, leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung, mata seperenam kepala, sirip punggung semakin kebelakang melebar, warna putih kadang kecoklatan dengan totol hitam pada badan, kepala dan sirip. Weber and Beofort (1940) dalam Ahmad (1991). Sedangkan menurut Heemstra dan Randall (1993) seluruh permukaan tubuh kerapu Tikus berwarna putih keabuan, berbintik bulat hitam dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus.
Gambar Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)
Selain jenis Kerapu Macan dan Kerapu Tikus ada beberapa jenis kerapu lain yang sudah bisa dibudidayakan di dalam Karamba Jaring Apun (KJA) antara lain :
Kerapu lumpur (Epinephelus tauvina).Nama lain dari jenis ikan ini adalah kerapu balong,estuary grouper. Kerapu ini banyak dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan benihnya mudah diperoleh di laut, terutama musim-musim tertentu. Habitat kerapu lumpur ada di kawasan terumbu karang, perairan berpasir, dan bahkan hutan mangrove.
Ukurannya bisa mencapai 200 kg per ekor.
Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus, Plectropomus maculates, P.leavis) Ada dua jenis kerapu sunu yang dikenal sebagai ikan laut komersial, yaitu jenis Plectropoma maculates danPlectropoma leopardus. Kerapu sunu memiliki tubuh agak bulat memanjang (Jawa: gilig). Tubuh sering berwarna merah atau makot. Pada tubuhnya terdapat bintik-bintik berwarna biru, dengan tepi gelap.
Penyebaran/Distribusi
Ikan kerap macan tersebar luas dari wilayah asia Pasifik termasuk laut merah, tetapi lebih dikenal berasal dari Teluk Persi, Hawaii atau Polynesia. Terdapat pula dihampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudra Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Ikan ini dilaporkan banyak pula ditemukan di Madagaskar, India, Thailand, Indonesia, pantai tropis Australia, Jepang, Philipina, Papua Neuguinea, dan Kaledonia Baru (Heemstra, 1993). Di perairan Indonesia yang dikenal banyak ditemukan ikan kerapu Macan adalah perairan pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, pulau Buru, dan ambon (Weber dan Beaufort,1931).
Di Indonesia ikan Kerapu Tikus banyak ditemukan di wilayah perairan Teluk Banten, Ujung Kulon, Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa, Madura, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Ikan kerapu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik, Laut Merah, Polynesia, terdapat pula hamper semua perairan tropis Hindia, Pasifik Barat dan Pantai Timur Afrika.
Di Indonesia terdapat 38 jenis, 25 jenis diantaranya sangat umum dikenal masyarakat. Kerapu dapat tumbuh besar, bahkan dilaporkan di perairan Aceh pernah tertangkap ikan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina) dengan panjang sekitar 2 meter dan berat kira-kira 200 kg. kerapu besar ini hidup di perairan pantai yang berlumpur didepan muara sungai (Nontji, 1987).
Siklus Reproduksi.
Ikan kerapu merupakan ikan yang memiliki sifat reproduksi hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila ikan tersebut tumbuh menjadi lebih besar atau bertambah umurnya. Fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu erat hubungannya dengan aktivitas pemiajahan, umur, indeks kelamin dan ukuran.
Habitat
Ikan kerapu Macan hidup di dasar perairan berbatu samai dengan kedalaman 60 meter dan daerah dangkal yang mengandung batu koral (Heemstra, 1993). Pada siklus hidupnya ikan Kerapu Macan muda hidup di perairan karang dengan kedalam 0,5 – 3 meter pada area padang lamun, selanjutnya menginjak dewasa menuju ke perairan yang lebih dalam. Telur dan larva kerapu Macan bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal.
Ikan Kerapu Tikus banyak dijumpai di perairan batu karang, atau daerah karang berlumpur, hidup pada kedalaman 40 – 60 meter. Siklus hidupny sama dengan kerapu Macan.ikan kerapu termasuk kelompok ikan stenohaline (Breet dan Groves, 1979), oleh Karen aitu jenis ikan ini mampu beradaptasi pada lingkungan perairan yang berkadar garam rendah. Ikan kerapu merupakan organisme yang bersifat nocturnal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang dan pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari makan.
Menurut Chua dan Teng (1978), parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu, yaitu temperature berkisar 24 - 31ยบC, salinitas berkisar 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0. Perairan dengan kondisi tersebut pada umumnya terdapat pada perairan terumbu karang (Nybakken, 1988).
Pakan dan Kebiasan Pakan
Hampir seluruh jenis ikan Kerapu merupakan hewan karnivora. Ikan kerapu dewasa adalah pemakan ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan, sedangkan larvanya memangsa larva moluska (trokofor), rotifer, mikro krutacea, kopepoda, dan zooplankton. Sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolom air (Nybakken, 1988). Tampubolon dan Mulyadi (1989), mengungkapkan bahwa ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang dan malam hari, namun lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.
SUMBER:
http//supmladong.kkp.go.id
Mulyadi A., 2014. Diktat Pembesaran Ikan Kerapu di Karamba Jaring Apung. Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ladong, Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan, Aceh.
Diposkan oleh Munawaroh,S.P.
Jumat, 15 Desember 2017
MANAJERIAL KELEMBAGAAN KELOMPOK PEMASARAN HASIL PERIKANAN
MANAJERIAL KELEMBAGAAN KELOMPOK
PEMASARAN HASIL PERIKANAN
1.1. Penumbuhan Kelompok
Pengertian kelompok sangatlah beragam, dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2005) disebutkan antara lain bahwa yang dimaksud dengan
”Kelompok” adalah: (a) Golongan (profesi, aliran, lapisan masyarakat, dsb);
(b) Kumpulan manusia yang merupakan kesatuan beridentitas dengan adat istiadat
dan sistem norma yang mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu; dan (c)
Kumpulan orang yang memiliki beberapa atribut sama atau hubungan dengan pihak
yang sama.
Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006, dijelaskan
bahwa kelompok merupakan bagian dari kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha
perikanan, seperti halnya gabungan kelompok, asosiasi atau korporasi. Beberapa
ahli menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok adalah suatu unit yang
terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan
cara dan atas dasar kesatuan persepsi. Kelompok adalah suatu unit yang
merupakan sekelompok/sekumpulan dua orang atau lebih yang satu sama lain
berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan secara
bersama-sama dalam suatu wadah tertentu (Pranoto dan Suprapti, 2006).
Karakteristik kelembagaan kelompok pelaku utama dapat
dilihat dari kondisi masyarakat serta pengelolaan sumberdaya alam yang
meliputi:
1. Penerapan tekonologi perikanan
dikembangkan dengan memperhatikan kondisi spesifik lokasi.
2. Kelembagaan pelaku utama lebih
bersifat pendekatan partisipatif dan kekeluargaan.
3. Penanganan bidang perikanan
dipengaruhi oleh sumberdaya perikanan yang dinamis,
kompleksitas fisik perairan.
4. Dalam pengelolaan sumberdaya
perikanan yang ada digunakan pendekatan kawasan dan pendekatan wilayah.
5. Pelaku utama perikanan mayoritas
pada usaha skala kecil sehingga kurang mendapat akses pembangunan
dan model kelembagaan lebih ditujukan kepada peran aktif masyarakat sebagai
subyek pembangunan diwilayahnya.
Razi dan Ridwan (2011) menjabarkan lebih lanjut bahwa
kelompok pada dasarnya adalah organisasi non formal yang ditumbuhkembangkan ”dari,
oleh dan untuk kelompok”, memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a. Saling mengenal, akrab dan saling
percaya diantara sesama anggota
b. Merupakan wadah yang
efektif untuk bekerja sama
c. Mempunyai minat dan kepentingan
yang sama
d. Mempunyai pandangan dan
kepentingan yang sama dalam kegiatan usaha
e. Adanya pembagian tugas dan
tanggungjawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.
f. Adanya kepentingan yang sama
diantara para anggotanya
g. Adanya wilayah usaha perikanan
yang menjadi tanggung jawab bersama diantara para anggotanya
h. Bersifat informal, artinya: (i)
kelompok terbentuk atas keinginan dan permufakatan mereka sendiri; (ii)
memiliki peraturan sanksi dan tanggung jawab, baik tertulis maupun tidak
tertulis; (iii) ada pembagian kerja atau tugas; dan (iv) hubungan antar anggota
luwes, wajar, saling mempercayai dan terdapat
solidaritas.
Dengan kata lain, sebuah kelompok pelaku utama dan
pelaku usaha perikanan adalah merupakan wadah kebersamaan para pelaku utama
dan/atau pelaku usaha dibidang perikanan dalam upaya untuk mencapai pelaku
utama dan pelaku usaha yang tangguh, yaitu yang mampu mengambil keputusan dan
tindakan secara mandiri dalam upaya memecahkan masalahnya sendiri, menghadapi
tantangan dan mengatasi kendala yang ada.
Beberapa jenis kelembagaan pelaku utama dan pelaku
usaha perikanan yang ada dan dibina oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan
sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor: KEP.14/MEN/2012, antara lain berupa:
1. Kelompok Usaha Bersama (KUB)
adalah badan usaha non badan hukum yang berupa kelompok yang dibentuk oleh
nelayan berdasarkan hasil kesepakatan/musyawarah seluruh anggota yang dilandasi
oleh keinginan bersama untuk berusaha bersama dan dipertanggungjawabkan secara
bersama guna meningkatkan pendapatan anggota.
2. Kelompok Pembudidaya Ikan
(POKDAKAN) adalah kumpulan pembudidayaan ikan yang terorganisir.
3. Kelompok Pengolah dan Pemasar
Ikan (POKLAHSAR) adalah kelompok pengolah dan/atau pemasaran hasil perikanan
yang melakukan kegiatan ekonomi bersama dalam wadah kelompok.
4. Kelompok Pemasar Ikan (POKSAR)
adalah kumpulan pemasar hasil perikanan yang melakukan kegiatan ekonomi bersama
dalam wadah kelompok
5. Kelompok Usaha Garam Rakyat
(KUGAR) adalah kumpulan Pelaku Usaha produksi garam rakyat yang terorganisir
yang dilakukan di lahan tambak (petambak garam rakyat), dengan cara perebusan
(pelaku usaha produksi garam dengan cara perebusan) atau dengan cara mengolah
air laut menjadi garam (pelaku usaha produksi garam skala rumah tangga).
6. Kelompok masyarakat pengawas
(POKMASWAS) adalah kelompok masyarakat yang ikut membantu dalam hal pengawasan
dan pembinaan terhadap keamanan, pengelolaan dan pemanfaatan potensi alam yang
ada di kawasan pesisir dan laut.
7. Unit Pelayanan Pengembangan (UPP)
adalah organisasi kelompok pembudidaya ikan yang telah dibina oleh Dinas
Kabupaten/Kota dan ditetapkan dengan SK Bupati/Walikota, yang anggotanya
terdiri dari beberapa kelompok pembudidaya ikan.
8. Gabungan Kelompok Perikanan
(GAPOKKAN) adalah kumpulan atau gabungan dari kelompok-kelompok perikanan dari
beberapa bidang yang mempunyai tujuan bersama.
9. Asosiasi Perikanan adalah
kumpulan dari gabungan kelompok perikanan yang mempunyai tujuan bersama dengan
jenis usaha yang sama.
Sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 dan Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: KEP.14/MEN/2012,
maka pelaku usaha pemasaran dapat membentuk kelembagaan pelaku
usaha perikanan dalam bentukkelompok, gabungan kelompok ataupun asosiasi,
atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta di dalam lingkungan pengaruh
dan pimpinan seorang ketua.
1.2. Peran dan Fungsi Kelompok
Kelompok pelaku usaha bidang perikanan dapat memiliki
peranan antara lain sebagai
berikut:
1. Sebagai media
komunikasi dan pergaulan sosial yang wajar, lestari dan
dinamis.
2. Sebagai basis untuk mencapai
pembaharuan secara merata.
3. Sebagai pemersatu aspirasi yang
murni dan sehat.
4. Sebagai wadah yang efektif dan
efisien untuk belajar serta bekerja sama.
5. Sebagai teladan bagi masyarakat lainnya.
Untuk dapat mewujudkan peranan tersebut maka kelompok
memiliki berfungsi antara lain sebagai: (a) kelas belajar; (b) wadah
kerja sama; (c) unit produksi; (d)
organisasi kegiatan bersama; dan (e)
kesatuan swadaya dan swadana.
A. Fungsi Kelompok
Sebagai Kelas Belajar
Sebagai kelas belajar, kelompok merupakan media
interaksi belajar antar pelaku utama atau pelaku usaha perikanan. Mereka dapat
melakukan proses interaksi edukatif dalam rangka mengadopsi inovasi. Mereka
dapat saling Asah, Asih dan Asuh dalam menyerap suatu informasi dari
fasilitator, mediator, pemandu, pendamping, penyuluh dan pihak lain. Mereka
akan dapat mengambil kesepakatan tindakan bersama apa yang akan diambil dari
hasil belajar tersebut. Dengan demikian proses kemandirian kelompok akan dapat
dicapai. Di dalam kelompok sebagai kelas belajar para pelaku utama atau pelaku
usaha perikanan akan dapat melakukan komunikasi multi dimensional.
Mereka dapat mempertukarkan pengalaman masing-masing, sehingga akan membuat
pelaku utama atau pelaku usaha perikanan semakin dewasa untuk dapat keluar dari
masalahnya sendiri, tanpa adanya ketergantungan pada petugas (pendamping,
penyuluh dan lain-lain).
B. Fungsi Kelompok
Sebagai Wadah Kerja Sama
Sebagai wadah kerja sama, kelompok pelaku
utama atau pelaku usaha perikanan merupakan cerminan dari keberadaan suatu
wadah kerjasama.
Pengukuhan adalah suatu proses peningkatan kemampuan
melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, penumbuhan motivasi, pengembangan
potensi, pemberian peluang, peningkatan kesadaran, dan pendampingan serta
fasilitasi. Dengan pemberdayaan tersebut bertujuan sumber daya
manusia yang berkualitas, andal, serta berkemampuan manajerial, kewirausahaan,
dan kelembagaan bisnis perikanan sehingga pembangunan perikanan mampu membangun
usaha dari hulu sampai dengan hilir yang berdaya saing tinggi dan mampu
berperan serta dalam melestarikan prinsip pembangunan yang
berkelanjutan. Salah satu upaya dalam pemberdayaan kelembagaan
kelompok pelaku utama adalah melalui kegiatan fasilitasi dalam pengukuhan dan
pengakuan terhadap kelembagaan kelompok.
Pengukuhan dan atau pengakuan terhadap
kelembagaan kelompok pelaku utama merupakan salah satu bentuk
penghargaan atas karya dan prestasi kelompok yang telah dicapai dan
merupakan kebanggaan bagi para anggota kelompok. Kegiatan
ini diharapkan akan tumbuh motivasiyang lebih besar
dari para anggota kelompok untuk belajar lebih giat, bekerja lebih erat dan
berusaha lebih efektif dalam usaha menigkatkan produksi dan pendapatannya.
Adapun
tujuan dari pelaksanaan pengukuhan
kelompok antara lain: (1) Tumbuh dan berkembangnya rasa bangga kelompok sebagai
prinsip belajar dan kerjasama untuk meningkatkan produksi dan pendapatan; (2)
Tumbuh dan berkembangnya dinamika kelembagaan dalam berorganisasi untuk
memanfaatkan peluang ekonomi; dan (3) Terciptanya metode pemberdayaan,
bimbingan, dan pelayanan yang sesuai dengan tingkat kemampuan kelompok pelaku
utama.
C. Fungsi Sebagai Unit Produksi
Kelompok pelaku usaha perikanan sebagai unit produksi,
erat hubungan dengan wadah kerja sama misalnya dengan melaksanakan kegiatan
secara bersama–sama dapat dicapai efisiensi yang lebih tinggi misalnya: dalam
pengadaan sarana produksi, perkreditan, dan pemasaran hasil. Oleh karena itu dengan
fungsi kelompok sebagai unit produksi akan dapat dicapai skala ekonomis usaha
yang dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada para pelaku usaha
perikanan.
D. Fungsi Kelompok
Sebagai Organisasi Kegiatan Bersama
Dengan
berkelompok maka pelaku usaha perikanan akan belajar mengorganisasi kegiatan
bersama-sama, yaitu membagi pekerjaan dan mengkoordinisasi pekerjaan dengan
mengikuti tata tertib sebagai hasil kesepakatan mereka. Mereka belajar membagi
peranan dan melakukan peranan tersebut. Mereka belajar bertindak atas nama
kelompok yang kompak, yaitu setiap anggota merasa memiliki komitmen terhadap
kelompoknya. Mereka merasa "In Group" yaitu mengembangkan
"ke-kitaan bukan ke-kamian". Dengan demikian akan merasa
bangga sebagai suatu kelompok yang terorganisasi secara baik, dibandingkan
berbuat sendiri-sendiri.
E. Fungsi Kelompok Sebagai Kesatuan
Swadaya dan
Swadana
Kelompok pelaku usaha perikanan adalah kumpulan pelaku
usaha perikanan yang mempunyai hubungan atau interaksi yang nyata, mempunyai
daya tahan dan struktur tertentu, berpartisipasi bersama dalam suatu kegiatan.
Hal ini tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kesatuan kelompok
tersebut. Pelaku utama atau pelaku usaha perikanan diharapkan dapat mandiri
dalam arti mampu merumuskan masalah, mengambil keputusan, merencanakan,
melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Tumbuhnya kemandirian tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui kelompok.
1.3. Pengelolaan Manajerial Kelompok
Tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok dalam
masyarakat, umumnya didasarkan atas adanya kepentingan dan tujuan bersama,
sedangkan kekompakan kelompok tersebut tergantung pada faktor pengikat yang
dapat meningkatkan keakraban individu-individu yang menjadi anggota kelompok.
Pelaku utama atau pelaku usaha perikanan diharapkan dapat mandiri
dalam arti mampu merumuskan masalah, mengambil keputusan, merencanakan,
melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tumbuhnya
kemandirian tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui kelompok.
Pengembangan kelompok diarahkan pada peningkatan
kemampuan kelompok dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para
anggota dalam mengembangkan usaha perikanan, penguatan kelompok menjadi
organisasi kelompok yang kuat dan mandiri.
Ciri-ciri Kelompok yang sudah kuat dan mandiri antara
lain:
a) Adanya pertemuan/rapat anggota
dan pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan
berkesinambungan.
b) Disusunnya rencana kerja kelompok
secara bersama dan dilaksanan oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan
bersama dan setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipatif.
c) Memiliki aturan/norma yang
disepakati dan ditaati bersama.
d) Memiliki pencatatan/pengadministrasian
organisasi yang lengkap.
e) Memfasilitasi kegiatan-kegiatan
usaha bersama disektor hulu dan hilir.
f) Memfasilitasi usaha secara
komersial dan berorientasi pasar.
g) Sebagai sumber serta pelayanan
informasi dan teknologi untuk usaha para anggota kelompok.
h) Adanya jalinan kerjasama antara
kelompok dengan pihak lain.
i) Adanya pemupukan modal usaha yang
baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan kelompok.
Pengembangan kelompok pelaku usaha diarahkan pada
peningkatan kemampuan setiap kelompok pelaku usaha dalam melaksanakan
fungsinya, peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan usahanya,
penguatan kelompok pelaku utama menjadi organisasi yang kuat dan mandiri.
Kegiatan ini sering disebut dengan Pembinaan Manajerial Kelompok. Beberapa
langkah-langkah sederhana, urgen dan efektif dalam pembinaan manajerial
kelompok, adalah:
1. Penyusunan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga
2. Pembuatan papan nama dan struktur
organisasi kelompok
3. Penyusunan buku administrasi
kelompok
4. Pengorganisasian kelompok
5. Permodalan kelompok
6. Pengelolaan pinjaman ke anggota
kelompok
7. Pemeriksaaan keuangan kelompok
8. Pengelolaan kesehatan keuangan kelompok
A. Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Anggaran Dasar (AD) dan
Anggaran Rumah Tangga (ART) adalah pembuatan kesepakatan bersama dalam
kelompok/organisasi yang mengikat semua anggota baik untuk keperluan kedalam
maupun keluar organisasi.Anggaran Dasar merupakan landasan dan
pedoman kerja yang disahkan oleh seluruh anggota kelompok dan ditetapkan atas
dasar musyawarah.Anggaran Rumah Tangga adalah pelengkap AD,
merupakan peraturan yang lebih terperinci, lengkap, dan
operasional. Pada dasarnya ART merupakan uraian dari AD.
Untuk menjaga agar organisasi
atau kelompok pelaku usaha berjalan dengan baik, maka perlu adanya kesepakatan
aturan organisasi yang mengikat semua anggota baik untuk keperluan ke dalam
maupun ke luar organisasi. Oleh sebab itu perlu dibuat Anggaran Dasar (AD) dan
Anggaran Rumah Tangga (ART) yang dibuat bersama-sama dengan anggota dan
dikukuhkan oleh Kepala Desa.
AD – ART dapat digunakan sebagai
alat untuk memecahkan masalah yang muncul dalam kelompok. Dengan
adanya AD – ART yang jelas dan tegas, maka penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi akan mudah dihindari, sehingga kelompok dapat mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Dalam Anggaran Dasar menyangkut
beberapa pasal yang dianggap cukup dalam kesepakan tersebut dan disetujui
bersama seperti: (a) Nama kelompok; (b) Tempat dan
kedudukan kelompok; (c) Asas dan tujuan kelompok; (d) Struktur organisasi
dan susunan kepengurusan; (e) Syarat-syarat keanggotaan dan pengurus; (f)
Ketentuan pemilihan pengurus dan masa jabatan; (g) Ketentuan rapat; (h)
Pembiayaan dan sumber-sumber keuangan kelompok; (i) Usaha-usaha kelompok; (j)
Ketentuan-ketentuan anggaran dasar; dan (k) Pembentukan dan pembubaran
organisasi.
Sedangkan untuk Anggaran Rumah
Tangga menyangkut penjelasan yang lebih rinci dari beberapa aspek antara lain:
(i) Ketentuan anggota kelompok (kewajiban, hak, macam-macam keanggotaan, dan
syarat-syarat khusus); (ii) Kepengurusan (susunan pengurus, tugas-tugas,
kewajiban, hak, dan wewenang); (iii) Permodalan (bentuk-bentuk tabungan, cara-cara
menabung, syarat pinjaman, dan pendayagunaan modal); dan (iv) Hal-hal lain
(yang belum diatur dan dimuat dalam AD, perlu diatur secara khusus).
B. Papan
Nama dan Struktur Organisasi Kelompok
Papan nama kelompok adalah papan
informasi yang berisi nama kelompok dan keterangan/informasi lain tentang
keberadaan kelompok. Tujuan dibuatnya Papan Kelompok antara lain adalah:
(a) Memudahkan orang atau kelompok lain mengetahui letak sekretariat
kelompok; (b) Memberikan informasi tentang keberadaan kelompok dan jenis
usahanya; dan (c) Menjadi sarana promosi kelompok. BeberapaInformasi yang
sebaiknya ada pada papan kelompok, antara lain: nama kelompok, alamat, jenis
usaha/komoditi, jumlah anggota, tanggal berdiri, serta nama dan nomor telpon
pengurus.
Kelompok yang telah didirikan
tentunya harus membentuk struktur organisasi, sehingga tidak hanya sekedar nama
dan usaha kelompok, tetapi juga jelas organisasi yang dimaksud. Struktur
organisasi sangat penting bagi sebuah kelembagaan/organisasi, di mana struktur
tersebut menjelaskan setiap tugas atau pekerjaan secara formal dibagi,
dikelompokkan dan dikordinasikan. Pada umumnya, suatu organisasi atau kelompok
memiliki struktur organisasi yang berbeda dengan organisasi atau kelompok
lainnya, sesuai dengan kebutuhan dan strategi pengembangan kelompok yang
dipilih.
Fungsi atau kegunaan struktur
dalam organisasi, antara lain:
1. Kejelasan Tanggung Jawab. Setiap
anggota organisasi harus bertanggung jawab dan apa yang harus
dipertanggungjawabkan. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab kepada
pimpinan atau atasan yang memberikan kewenangan, karena pelaksanaan kewenangan
itu yang harus dipertanggungjawabkan.
2. Kejelasan Kedudukan. Kejelasan
kedudukan seseorang dalam struktur organsisasi sebenarnya mempermudah dalam
melakukan koordinasi maupun hubungan karena adanya keterkaitan penyelesaian
suatu fungsi yang dipercayakan kepada seseorang.
3. Kejelasan Uraian Tugas. Kejelasan
uraian tugas dalam struktur organisasi sangat membantu pihak pimpinan untuk melakukan
pengawasan dan pengendalian, dan bagi bawahan akan dapat berkonsentrasi dalam
melaksanakan suatu pekerjaan karena uraiannya yang jelas.
C. Buku
Administrasi Kelompok
Buku administrasi kelompok adalah buku pencatatan
segala sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan dan perkembangan
kelompok.Kesan pertama yang terlihat pada suatu kelompok pelaku
utama yang baik, adalah pengelolaan admnistrasi yang tertib dan
benar. Sehingga kemampuan kelompok dalam melaksanakan administrasi dengan baik
perlu dibina terus sampai mereka terbiasa melakukannya.
Pembukuan diperlukan untuk
menjaga keakuratan catatan atas semua transaksi dan
keputusan-keputusan yang dibuat dalam kelompok. Pembukuan terdiri dari
buku-buku administrasi, termasuk buku keuangan yang dimiliki oleh kelompok.
Administrasi keuangan dapat berarti pembukuan
keuangan, yaitu catatan transaksi keuangan yang dibuat secara kronologis
(munurut urutan waktu) dan sistematis (menurut cara-cara tertentu). Setiap
organisasi kelompok, wajib mengelola administrasi keuangan dengan baik yaitu
sesuai jenis serta diisi dengan tertib, teratur dan benar. Dengan administrasi
keuangan yang baik, keuangan kelompok dapat terkendali dan pada waktu tertentu
akan mudah untuk diketahui, sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk
pengambilan keputusan.
Dalam membuat buku-buku kelompok harus
lengkap, tertib, teratur, benar dan bermanfaat, sehingga harus mengikuti
prinsip-prinsip:
1. Sistematis, buku diisi menurut
cara-cara tertentu sesuai dengan jenis bukunya;
2. Kronologis, buku diisi sesuai
dengan urutan terjadinya transaksi;
3. Informatif, dapat
dipahami/dimengerti oleh semua pihak yang berkepentingan;
4. Accountable, buku diisi memenuhi
kaidah-kaidah atau ketentuan akuntansi, antara lain: dapat dihitung, dapat
dievaluasi, dan dapat dipertanggungjawabkan;
5. Auditable, catatan keuangan dapat
diperiksa dengan mudah.
Kegunaan adminstrasi kelompok antara lain
adalah: (a) Sebagai alat kontrol; (b)Sebagai alat dokumentasi;
(c) Sebagai alat/bahan pengambilan keputusan; (d)Sebagai alat
monitirong/evaluasi kelompok; (e) Sebagai alat memupuk kepercayaan
anggota; (f) Sebagai alat ukur keberadaan kegiatan kelompok; dan
(g) Sebagai alat ukur pengembangan kelas kelompok. Beberapa jenis buku
administrasi yang sebaiknya dimiliki oleh kelompok, yakni:
a) Buku
Data Anggota Kelompok
Buku
Data Anggota Kelompok adalah buku yang berisi tentang semua informasi mengenai
anggota kelompok, termasuk mata pencaharian utamanya serta kepemilihan sarana
prasarana dan/atau lahan usahanya. Manfaat Buku Data Anggota Kelompok antara
lain adalah: (1) menggambarkan potensi sumberdaya di dalam kelompok; dan (2)
memudahkan tim pembina dan pihak lain dalam mempelajari potensi sumber daya
manusia kelompok.
b) Buku
Tamu Kelompok
Buku
Data Tamu Kelompok adalah buku yang berisi tentang data-data tamu yang
mengunjungi kelompok, baik sifatnya formal, non formal maupun informal. Manfaat
Buku Tamu Kelompok, antara lain adalah: (1) mengetahui siapa, darimana dan
tujuan apa dan kapan tamu yang mengunjungi kelompok; (2) membenahi
dan mengoreksi kekurangan kelompok dari saran dan kesan yang ditulis tamu guna
kemajuan kelompok; dan (3) mempermudah pencarian kontak person kepada tamu
kelompok, jika dikemudian hari ternyata diperlukan.
c) Buku
Rencana Kegiatan Kelompok
Manfaat
Buku Rencana Kegiatan Kelompok, antara lain adalah: (1) Dipakai
sebagai alat koordinasi; (2) Dapat memberikan “kepastian” mengenai
masa depan atau membatasi “ketidakpastian”; (3) Tersedianya alat ukur
terhadap prestasi yang akan dicapai dan alat pengendalian (control)
jalannya kegiatan kelompok; (4) Peningkatan produktifitas
(efektifitas dan efisiensi) karena memfokuskan pada sasaran;
dan (5) Terbentuknya kerja sama, dukungan dan peran serta anggota kelompok.
d) Buku
Pola Tebar/Produksi Kelompok
Buku
Pola Tebar/Produksi Kelompok adalah buku yang berisi tentang data-data waktu
penebaran benih/induk dan estimasi panennya dalam periode waktu tertentu.
Manfaat Buku Pola Tebar/ Produksi Kelompok adalah untuk mengetahui pola usaha
kelompok dan perkiraan panen/ produksi/ penjualan.
e) Buku
Agenda Surat Kelompok
Buku
Agenda Surat Kelompok adalah buku yang berisi tentang datasurat-surat yang
masuk atau surat-surat yang dikeluarkan oleh kelompok dalam periode waktu
tertentu. Manfaat Buku Agenda Surat Kelompok adalah: (1)untuk mengetahui arus
surat masuk dan keluar; (2) mempermudah pengarsipan dan penelusuran tindak
lanjut surat.
f) Buku
Inventaris Barang/Alat Kelompok
Buku
Inventaris Barang/Alat Kelompok adalah buku yang berisi tentang data-data
barang/alat yang menjadi inventaris kelompok dan/atau barang yang dibeli
bersama oleh anggota kelompok. Manfaat Inventaris Barang/AlatKelompok
adalah:(1) untuk mendata barang/alat yang dimiliki oleh kelompok; (2)
memudahkan pengelolaan barang/alat yang dimiliki kelompok; dan (3) memudahkan
penelusuran kepemilikan barang/alat yang ada dalam kelompok.
g) Buku
Daftar Hadir Pertemuan Kelompok
Buku
Daftar Hadir Pertemuan Kelompok adalah nama dan tanda tangan anggota yang hadir
pada rapat/pertemuan/kegiatan kelompok. Manfaat Daftar Hadir PertemuanKelompok
adalah:(1) untuk mengetahui tingkatkeaktifan anggota dalam kegiatan-kegiatan
kelompok; (2) sebagai data penguat keputusan yang diambil sewaktu
rapat/pertemuan.
h) Buku
Notulen Rapat/Pertemuan Kelompok
Buku
Notulen Rapat/Pertemuan Kelompok adalah buku catatan atas segala sesuatu yang
terjadi dalam rapat/pertemuan kelompok; termasuk didalamnya
kesimpulan/keputusan yang diambil pada saat kegiatan tersebut. Manfaat Notulen
Rapat/Pertemuan Kelompok adalah:(1) Sebagai catatan pembahasan kegiatan
rapat/pertemuan kelompok baik yang telah dilaksanakan maupun rencana
tindaklanjut; (2) memudahkan dalam pembahasan masalah dan pemecahan masalah
baik di lapangan maupun dalam kelompok.
i) Buku
Kas Kelompok
Buku
Kas Kelompok adalah buku catatan transaksitunai dan transaksi bankdarikelompok.
Manfaat Buku Kas Kelompok adalah: mendata keluar masuk dan saldo keadaan
keuangan kelompok.
j) Buku
Tabungan/Iuran Kelompok
Buku Tabungan/Iuran
Kelompokadalah catatan pemasukan kas kelompok yang berasal dari iuran wajib,
iuran sukarela, tabungan wajib dan tabungan sukarela anggota masing-masing
anggota kelompok. Manfaat Buku Tabungan/IuranKelompok adalah:(1) mendata keluar
masuk dan saldo keadaan keuangan kelompok; (2) mengetahui jumlah iuran dan
tabungan setiap bulan dan setiap tahunnya; dan (3)memudahkan pelacakan status
iuran dan tabungan anggota kelompok.
k) Buku
Pinjaman Anggota Kelompok
Buku Pinjaman
Anggota Kelompokadalah catatan terhadap semua informasi pinjaman yang diberikan
pada anggota, secara individu (termasuk masalah pinjaman, tujuan pinjaman,
jadwal pengembalian bunga, pengembalian pinjaman, hutang yang belum lunas dan
melampaui batas waktunya. Manfaat Buku Pinjaman Anggota Kelompok adalah:
menginventarisir besaran pinjaman anggota kelompok serta pengembalian pinjaman
anggota kelompok. Contoh format buku administrasi kelompok sebagaimana pada
lampiran 1 – 11.
Terkait dengan pentingnya pembuatan pembukuan keuangan
kelompok, maka perlu diangkat seorang penulis sebagai pengelola dan
penanggungjawab pembuatan pembukuan keuangan. Penulis dapat berasal dari dalam
kelompok (anggota kelompok) atau seseorang dari luar kelompok (bukan anggota
kelompok), dengan syarat: (1) jujur; (2) mudah dijumpai; (3) dapat diterima
oleh semua anggota kelompok, (4) tidak mengintervensi dinamika
kelompok, (5) transparan; dan (6) ahli dalam menulis
pembukuan. Kelompok juga harus dapat dengan mudah memperoleh penulis
pengganti jika penulis sewaktu-waktu berhenti.
D. Pengorganisasian
Kelompok
Kelompok merupakan kumpulan orang yang menyatukan diri
dalam usaha-usaha di bidang sosial dan ekonomi, yang tumbuh dan berkembang
dari, oleh, dan untuk anggota, demi untuk meningkatkan taraf hidup seluruh
anggota dan dalam rangka kepentingan bersama. Beberapa kewajiban anggota
kelompok: (a) Menghadiri rapat anggota; (b) Menabung secara teratur yaitu
melalui tabungan wajib dan sukarela; (c) Membayar angsuran dan bunga pinjaman;
serta (d) Mentaati peraturan kelompok.
Hak-hak Anggota kelompok antara lain adalah:
- Menghadiri,
menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam pertemuan anggota atas dasar
satu suara untuk setiap satu anggota.
- Memilih
atau dipilih menjadi anggota pengurus atau badan pemeriksa.
- Meminta
diadakan pertemuan khusus bila dianggap perlu.
- Mengemukakan
pendapat atau saran-saran kepada pengurus di luar pertemuan, baik diminta atau
tidak.
- Mendapatkan
pelayanan dan pembinaan yang sama.
- Melakukan
pengawasan atas jalannya perkumpulan dan usaha-usaha kelompok menurut ketentuan
yang terdapat dalam anggaran dasar dan anggara rumah tangga kelompok.
- Menikmati
hasil-hasil usaha kelompok seperti yang diatur dalam anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga kelompok.
Syarat menjadi pengurus kelompok: (1) Jujur, tekun,
penuh tanggung jawab, mampu, dan dapat menyediakan waktu; (2) Tidak merangkap
sebagai pengurus kelompok lain; (3) Terbuka, artinya bersedia untuk menerima
koreksi ataupun kritik, baik dari anggota maupun dari orang yang ditunjuk
sebagai badan pemeriksa.
Kewajiban pengurus kelompok: (a) Menyusun rencana
kerja serta rencana anggaran biaya dan pendapatan tahunan kelompok; (b)
Melaksanakan rencana kerja yang telah disakan oleh rapat anggota; (c)
Mengadakan rapat anggota dan rapat pengurus; (d) Memberikan laporan
pertanggungjawaban secara menyeluruh mengenai keadaan dan perkembangan kegiatan
kelompok.
E. Permodalan
Kelompok
Salah satu prinsip dasar kelompok yang harus selalu
diingat dan menjadi pegangan adalah dari, oleh, dan untuk
anggota. Maka permodalan utama dan pertama kelompok adalah bersumber
dari anggota, yang berupa atau berbentuk tabungan dari anggota.
Menabung adalah menyisihkan sebagian dari penghasilan/pendapatan
dan/atau melakukan penghematan, yang dilakukan secara sadar, teratur, dan
terencana. Tujuan Diadakannya Tabungan: (1) Membentuk dan mengembangkan sikap
hemat dan terencana dalam keuangan keluarga maupun usaha, serta ekonomis dalam
pembelanjaan atau pemakaian; dan (2) Membentuk dan mengembangkan modal usaha,
sehingga penabung mampu meningkatkan penghasilannya.
Manfaat Menabung di Kelompok: (1) Mengurangi
”kebocoran” tabungan yang disimpan secara individu; (2) Mendapatkan sisa hasil
usaha; (3) Mudah, tidak diperlukan syarat-syarat tertentu; dan (4) Memperluas
kesempatan untuk mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah. Beberapa jenis
tabungan/simpanan kelompok yakni:
- Simpanan
Pokok (SP) merupakan simpanan yang dibayar waktu seseorang masuk / diterima
menjadi anggota kelompok. Karena diharapkan bisa menjadi ”pokok”,
maka biasanya agak lebih besar. Karena agak lebih besar, maka
biasanya kelompok membuat kebijakan bahwa SP dapat diangsur dalam beberapa
bulan.
- Simpanan
Wajib (SW) merupakan kewajiban anggota setiap bulan/periode yang disepakati
dalam kelompok. Artinya bahwa tabungan itu harus dibayar secara
rutin dan teratur dalam jumlah yang ditentutan. Penentuan besarnya SP dan
SW harus didasarkan kemufakatan bersama, biasanya memakai standar kemampuan
terendah anggota. Tetapi sebaiknya jangan terlalu rendah/kecil,
namun juga jangan terlalu tinggi. Terlalu kecil membuat orang cenderung
meremehkan, lalu menunda, dan akan sulit untuk memupuk modal yang layak. Terlalu
tinggi juga menyebabkan anggota merasa berat dan menyerah, sehingga sedikit
orang yang akan ikut.
- Simpanan
Sukarela (SS) merupakan tabungan yang bebas, baik besaran maupun waktu setornya
sesuai dengan kemampuan anggota masing-masing. Jenis simpanan ini
harus didorong agar permodalan kelompok tumbuh dengan baik dan dapat melayani
kebutuhan pinjaman anggota.
Pemupukan modal adalah usaha yang dilakukan untuk
mengembangkan atau memperbesar modal kelompok dengan usaha-usaha yang bersifat
produktif (menghasilkan). Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota
yang berasal dari keuntungan sebagai akibat dari bertambah besarnya jumlah
modal. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkattkan jumlah modal
kelompok: (1) Tabungan pokok yang disetor satu kali pada saat masuk menjadi
anggota; (2) Tabungan wajib yang disetor setiap kali pertemuan kelompok; (3)
Tabungan sukarela yang dapat disetor/diambil setiap saat dengan jumlah yang
tidak terbatas; (4) Tabungan khusus yang dilakukan secara rutin dan teratur
serta baru dapat diambil setelah jangka waktu tertentu baik berupa uang ataupun
barang; dan (5) Tabungan kolektif.
SUMBER:
Bangs Jr., David H. 1992, “The Market Planing
Guide”,USA, Dearborn Publishing Group,inc.
Bygrave,WD. 1994,The Portable MBA in Entrepreneurship.:
New York ,John Willy & Sons.
Elia W. E., dan Yulianti Y., 2009. Manajemen Pemasaran
- Designing and Managing Value Networks and Channels. Program Pasca Sarjana –
Magister Manajemen. Universitas Trisakti, Jakarta.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PERENCANAAN%20USAHA.pdf
http://blog-ilmuonline.blogspot.com/2012/05/jaringan-usaha.html
Hudoyo M.W. dan Razi F., 2009. Modul Penyusunan Aturan
Pengelolaan Keuangan Kelompok. Modul Pelatihan pendampingan pemberdayaan
masyarakat PNPM Mandiri-KP Tahun 2009. Badan Pengembangan SDM Kelautan dan
Perikanan, Jakarta.
Hudoyo M.W. dan Razi F., 2009. Modul Perencanaan
Usaha. Modul Pelatihan pendampingan pemberdayaan masyarakat PNPM Mandiri-KP
Tahun 2009. Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Kotler, Philip. 2005. Manajamen Pemasaran, Jilid 1 dan
2. PT. Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.
Purnama R. dan Razi F., 2011. Modul Penumbuhan dan
Pengembangan Kelompok Pelaku Utama Perikanan. Modul Pelatihan Dasar bagi
Penyuluh Perikanan Ahli. Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Razi
F., 2014. Pembinaan Manajerial Kelompok; Sebuah Langkah Sederhana, Urgensi dan
Efektif. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan – BPSDMKP, Jakarta.
Diposkan oleh Munawaroh,S.P.
Langganan:
Postingan (Atom)




